Showing posts with label happening. Show all posts

Assistant Professor → Associate Professor in Japanese University

I got promoted as Associate Professor on April 1. Alhamdulillah!

 

Of course it was hard work, blood, sweat and tears, no shortcut!


Working in a Japanese university is extremely hard. We need to do all the work - literally all - from sweeping and cleaning the lab, making coffee when guests are coming, preparing for a bunch of classes, teaching, evaluating, marking the score, taking care of students, being the person in charge for department, faculty, and university level of something (for example, managing department's SNS, department's marketing, making pamphlet, and so on and so on - the list can go on), being active in academic life outside campus, and lastly, research. Yes, research! Research is the last thing that you can do in the university that I work. 

Let's talk about this later, now not thou.


To get promoted to be Associate Professor in this university, here are the requirements:

  1. PhD holder (Currently, job applications for lecturers are only for PhDs, but lecturers from the old days sometimes still have no PhD)
  2. Must have experience guiding the thesis of 4th year students (The criteria for each department is different, in my department, more than 20 students) 
  3. Write an essay about the targets to be achieved in the new position and career design as a lecturer
  4. In the last 5 years must publish at least 3 international journals or 4 local journals as first author
  5. Points from teaching experience (criteria for each department are different extremely difficult to explain, so skip! But as a hint there are criteria for the number of classes, the number of students, class evaluation by students)
  6. Points from academics (number of journals published, impact factor, number of proceedings, number of presentations at conferences, number of academic awards, number of patents, number of books). Point weight is different for first author and non-first author
  7. Points from non-academics (helping association as for example secretary, being chairperson at conference, being an adviser in a student club, being an adviser in company)
  8. Points from research grants (where have you gotten research grants, how many are principal investigators, how many are research members)
  9. Points from being in charge of department activities (being in charge of any role in department, faculty and university activities) 
  10. Print all the documents (at least 4 copy), explain and evaluated by your supervisor (lab boss), department chair, dean and for university. Then after passing through, the documents will be checked again and again by campus' Human Resources Committee (mostly Professors) to be recommended to the university boss (Rector and Chairman of the Board of Directors of a school foundation)


In Japan, you don't have to get approval from the Ministry of Education and Culture or the Japanese Higher Education (I heard in several countries you must get approval from the ministry...). All of this is regulated within the university/foundation, so it is the university/foundation that determines whether you become a professor. The university only have to report to the Ministry of Education and Culture and attach all the documents.


Pertimbangan berhenti dari pekerjaan sebagai peneliti di kantor swasta, beralih menjadi dosen di Jepang

Sejak April 2016 sampai saat ini (Agustus 2018) saya masih terhitung menjadi seorang peneliti di sebuah kantor swasta di Jepang. Saya merasa banyak sekali pelajaran yang didapat dari kantor saya sekarang.

Tapi tidak semuanya berjalan lancar, saya punya 3 kendala besar selama bekerja di perusahaan ini

Kendala bekerja di perusahaan saat ini1. Kendala solat Jumat
Ada 2 cara solat jumat
(1)Ke Masjid terdekat dari kantor saya, tapi jarak masjid kantor saya ke Masjid terdekat di Chibune, Osaka atau Kobe cukup jauh, butuh waktu 50 menit untuk sampai ke Masjid, artinya untuk bisa solat Jumat minimal saya butuh 2 x 50 menit + solat sekitar 20 menit = 115 menit, atau 2 jam. Sementara istirahat di kantor saya hanyalah 45 menit. Disamping itu, solat Jumat dimulai pukul 13:30 di Chibune dan pukul 13:05 di Kobe, kantor saya sendiri istirahat pukul 12:15 sampai 13:00. berarti diluar waktu istirahat saya harus menemukan skema untuk keluar kantor selama 2 jam. 
(2)Solat didalam kantor, namun tidak ada muslim yang beribadah selain saya sendiri.
Untuk bisa solat jumat, saya harus ambil cuti, dikarenakan, belum adanya skema yang bisa saya pakai untuk bisa solat Jumat ke Masjid. Saya berulang kali konsultasi baik ke atasan, kepegawaian, ataupun ke serikat kerja, saya pun berulang kali menawarkan ide, agar saya dibolehkan solat Jumat ke Masjid, misalnya setelah Solat Jumat, saya bisa lembur tanpa dibayar selama 2 jam. Selain itu saya pun pernah menawarkan agar pihak kepegawaian bisa memotong gaji saya selama 2 jam setiap minggu. Namun, ide saya selalu ditolak. Salah satu alasan ditolak karena pada jam 11:00 sampai 16:00 adalah "core time" di kantor kami dan kami harus berada di kantor pada jam tersebut. Alasan lainya adalah, saya merupakan orang pertama yang meminta untuk diperbolehkan Solat Jumat, jadi belum ada aturan mengenai hal tersebut. Selain itu saya pernah ditolak karena alasan, kesetaraan, misalnya bagaimana dengan orang lain yang meminta keluar kantor untuk beberapa saat tapi bukan untuk Solat Jumat, bisa jadi hanya untuk bermain main.
Satu-satunya cara untuk saya agar bisa Solat Jumat hanyalah ambil cuti, kendalanya jumlah cuti terbatas, saya hanya bisa Solat Jumat 1 bulan sekali.
Padahal sebagai laki-laki muslim Solat Jumat itu diwajibkan, karena itu lah saya merasakan kendala yang sangat berat.

2. Kendala bidang yang dikerjakan terlalu berbeda jauh
Kendala kedua dalam bekerja di kantor saya saat ini adalah bidang keahlian yang terlalu berbeda jauh. Bidang yang saya kerjakan di kantor saat ini sangat tidak berhubungan dengan apa yang pernah saya kerjakan.
Sebelum bekerja, bidang kehlian saya adalah teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk pertanian dan perikanan, manajemen berbasis statistik, analisis wave-like-object (mirip dengan prosesi sinyal) ataupun pengindraan jarak jauh. Sekarangsaya bekerja untuk mengembangkan computer aided manufacturing pada numerical control untuk milling machine, sebuah bidang yang sangat membutuhkan pemahaman Aljabar linear, geometri, modeling (matematika yang setidaknya menurut saya level tinggi). Pernah saya bahas dalam tulisan saya yang sebelumnya kalau saya saat ini sedang struggle dengan matematika di tulisan ini (link).
Karena bidang yang terlalu jauh ini lah saya belum bisa mengaplikasikan keahlian saya yang pernah saya pelajari sebelumnya. Saya juga merasa bahwa kemampuan saya yang sebenarnya tidak bisa keluar, saya pun belum bisa berkontribusi terhadap kantor meskipun telah bekerja selama lebih dari 2 tahun. Saya paham, bekerja selama 2 tahun itu masih dalam tahap pembelajaran, sehingga smasih sulit untuk berkontribusi. Namun saya tetap merasa hal ini adalah sebuah kendala bagi saya saat ini.

3. Kendala karir di masa depan
Saya tidak yakin, jika saya bekerja di perusahaan ini karir saya akan naik.
Kantor tempat saya bekerja adalah sebuah perusahaan multinasional yang bahkan masuk ke dalam list Forbes Global 500, namun masih merupakan perusahaan yang sangat konservatif. Sebagai contoh, meskipun telah hampir 100 tahun berdiri, masuk kedalam Forbes Global 500, namum jumlah pegawai asing di dalam Jepang ternyata masih dibawah 100 orang. Dari 100 orang itu, tidak ada 1 orang pun yang menjadi manager, apalagi menjabat sebagai direktur, deputi, dan sebaginya diatas level manager.
Manager grup saya sendiri baru menjadi manager setelah bekerja selama 22 tahun, padahal menurut saya dia sangat cerdas, pertanyaan dan komentarnya tajam, idenya out of the box, orangnya tegas tapi menyenangkan. Di kantor saya, orang Jepang yang seperti manager saya itu tidaklah sedikit, saya harus bersaing dengan mereka untuk karir saya. Saya rasa sangat sulit, bahkan mungkin hampir mustahil. Selain masih sangat konservatif, masih lebih mendahulukan orang Jepang sebagai penduduk lokal, saya juga tidak yakin bisa bersaing di tengah tengah orang yang level kecerdasanya diatas saya. Saya perkirakan, karir saya akan berhenti di tingkat supervisor jika terus berada disini.
Saya rasa satu-satunya jalan untuk saya agar bisa berkarir hanyalah pindah ke lingkungan kerja yang lebih memungkinkan untuk saya berkarir di Jepang, atau bertahan pada perusahaan tempat saya sekarang namun pindah keluar Jepang.


==============
Posisi dosen di universitas
Saat itu lah saya dikontak oleh professor saya ketika di universitas, beliau menawarkan posisi sebagai dosen
Sistemnya, tenure track, menjadi research assistant professor selama 4 taun, berikutnya tenure assistant professor saat memenuhi persyaratan dari universitas.
Professor saya menghubungi saya bulan Januari, saya mengirimkan berkas syarat untuk melamar sebagai dosen pada bulan Maret. Setelah lolos seleksi dokumen, saya diwawancara pada bulan April oleh dosen dosen di jurusan yang saya tuju. Lalu saya lolos wawancara tahap pertama dan melangkah ke wawancra tahap kedua dan diwawancarai oleh pejabat-pejabat di universitas seperti dekan dan bahkan waktu itu rektor pun datang saat wawancara. Berikutnya saya dikabari diterima pada bulan Juli oleh professor saya, namun surat resmi bahwa saya diterima tak kunjung datang sampai bulan Agustus.

Meskipun saya belum menerima surat resmi dari universitas, perusahaan saya memiliki peraturan tertulis untuk pengunduran diri, jadi terpaksa saya konsultasi dengan manager dan kepegawaian, kalau saya mau berhenti kerja karena 3 alasan kendala yang saya sebutkan diatas.


==============
Pertimbangan untuk bertahan di perusahaan sekarang
Setelah konsultasi dengan kepegawaian, ada godaan dan kendala untuk berhenti dari perusahaan ini
1. Ditawarkan kantor untuk memakai sistem khusus agar bisa solat Jumat!
Saya sangat senang mendengar hal ini, pada ahirnya perusahaan membolehkan Solat Jumat dengan skema lembur tidak dibayar selama meninggalkan kantor untuk Solat Jumat. Tapi, bonus saya akan dipotong, saya sebetulnya tidak terlalu bermasalah dengan bonus yang dipotong, meskipun ada rasa kecewa, karena saya jika bertahan di kantor ini. Karena saya telah mengganti waktu untuk Solat Jumat dengan waktu lembur yang tidak dibayar, kenapa bonus harus dipotong juga. Selain itu setelah selalu ditolak selama lebih dari 2 tahun, kenapa setelah saya bilang ingin keluar baru diperbolehkan Solat Jumat, dan mereka bisa memproses agar saya bisa Solat Jumat hanya dalam 1 jam. Berarti selama lebih dari 2 tahun ini konsultasi saya tidak terlalu dianggap serius oleh pihak kepegawaian kantor. Saya jadi berpikir, jika di masa depan saya mengelami kendala lain, apakah akan ditolak dan baru diterima saat saya bilang lagi mau keluar...

2. Gaji dosen yang menurun cukup drastis, sementara biaya hidup di Tokyo lebih tinggi
Bukanlah sebuah rahasia lagi jika pendapatan bekerja di perusahaan multinasional swasta lebih besar daripada bekerja sebagai dosen. Sementara biaya hidup di Tokyo lebih tinggi dari Itami. Bekerja pada perusahaan multinasional swasta dengan pendapatan yang cukup besar membuat saya berada di atas gunung, dan ketika tau pendapatan sebagai dosen membuat saya dijatuhkan dari atas gunung yang pernah saya rasakan. Meskipun sebenarnya pendapatan dosen tidaklah buruk dibandingkan dengan pendapatan rata-rata pekerja di Jepang. Namun tetap saja ini menjadi pertimbangan saya dalam memilih pekerjaan karena perbedaan pendapatannya cukup besar, dalam setahun pendapatan bekerja di perusahaan saya sekarang dan sebagai dosen beda sekitar 1 juta yen, atau 130 juta rupiah dengan kurs saat ini.

Saya meminta waktu kepada bagian kepegawaian kantor dan manager saya untuk berpikir lebih lanjut selama 1 minggu saat libur obon


==============
Pertimbangan memilih pindah
Untuk Solat Jumat saya rasa sudah tidak ada masalah baik saya meneruskan bekerja di perusahaan sekarang ataupun pindah ke universitas di Tokyo.
Untuk urusan gaji, memang akan lebih berat, harus lebih irit lebih dari sekarang. Tapi saya rasa gaji dosen masih cukup untuk kami sekeluarga dan untuk sekolah anak kami di masa depan.

1. Karir
Seperti yang saya tuliskan diatas, di perusahaan sekarang kemungkinan besar tidak akan lebih dari supervisor, sementara di universitas bisa menjadi professor. Tentu jika memenuhi syarat, target saya sendiri bisa jadi professor dalam 15 tahun mendatang.

2. Pendidikan agama anak
Ada option untuk TPA atau madrasah di Tokyo, misalnya di madrasah YUAI, Masjid Otsuka, SRIT dan lain sebagainya. Jadi pendidikan agama untuk anak saya relatif lebih baik.

3. Kenyamanan istri
Pindah ke Tokyo membuka kemungkinan untuk istri saya untuk bekerja atau melanjutkan belajar bahasa Jepang yang sempat terputus. Tidak bisa dipungkiri, peluang untuk bekerja di Tokyo lebih besar dari di Itami.
Selain itu, istri saya bisa memiliki lebih banyak teman, karena lebih banyak komunitas orang Indonesia di Tokyo dan sekitarnya. Terkadang ada juga seminar seminar atau perteuan membahas macam macam hal yang diorganisir oleh suatu grup wanita Indonesia di Jepang.


==============
Mengundurkan diri dari posisi sekarang
Setelah mempertimbangkan hal - hal diatas, saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan sekarang dan berkiprah menjadi dosen di universitas di Tokyo.
Saya sendiri telah memberikan surat pengunduran diri kepada manager dan bagian kepegawaian. Hari ini, tadi pagi, manager saya mengumumkan kepindahan saya kepada anggota grup kami.



Itami, 21 Agustus 2018
Ramadhona Saville, PhD
TKI di Jepang

mengenai dunia penelitian di (LIPI) Indonesia

Tempo hari saya mengobrol dengan abang saya mengenai pembelian microscope slide micrometer calibration untuk kepentingan penelitian
 di LIPI menggunakan uang pribadi abang saya. Saya lantas mempertanyakan, "kenapa untuk penelitian
 kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?".

Sebelum berceloteh lebih jauh, sepertinya perlu saya tuliskan disclaimer terlebih dahulu.
1. Saya paham dunia penelitian di indonesia memang unik.
2. Saya juga paham tidak semua kegiatan penelitian kantor harus menggunakan uang pribadi.
3. Hal yang sama (saya harap) tidak dialami oleh seluruh peneliti di Indonesia.

Cerita ini dimulai dari abang saya yang meminta tolong untuk dibelikan microscope slide micrometer calibration di ebay, dikirimkan ke alamat saya di Jepang dan ketika saya pulang ke Indonesia bisa saya berikan kepada abang saya. Abang saya minta tolong karena lebih banyak rintangan jika beli barang melalui ebay dan dikirimkan ke Indonesia. Misalnya, ditahan oleh beacukai, ataupun oleh kantor pos. Kebetulan jika beli slide yang diminta tolong itu, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Jepang dan tanggal kepulangan saya ke Indonesia, sangat mepet. Ada kemungkinan saya pulang tapi slide belum sampai ke alamat saya.

Saya coba untuk mencarikan slide yang mirip di Jepang. Tapi ternyata harganya berbeda jauh, produk Jepang jauh lebih mahal dari produk yang ada di ebay itu. Lalu saya tawarkan untuk beli produk Jepang ke abang saya, tapi ternyata abang saya tidak jadi beli. Dia bilang, terlalu mahal, karena dia mau beli pakai uang pribadi. Disitu saya mempertanyakan, kenapa untuk beli alat penelitian kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?. Ketika mengobrol di kesempatan lain dengan abang saya, banyak rintangan yang ada di LIPI. Contoh lainya, di ruangan abang saya ada komputer, tapi sudah uzur, lamban sekali. Lagi-lagi abang saya berencana untuk beli komputer menggunakan uang pribadi. Sebagai seorang peneliti juga, saya merasa agak kaget. Sekarang tahun 2017, komputer merupakan salah satu alat paling krusial bagi peneliti masa kini. Hal paling sederhana, kita harus menulis paper ataupun patent, atau produk penelitian lainya di komputer. Hal lain, komputer juga adalah alat yang sangat diandalkan untuk menganalisa data, membuat simulasi dan lain lain. Dengan ke tidak tersediaan alat paling krusial, bagaimana peneliti  bisa penelitian dengan maksimal?

Contoh rintangan lainya, koneksi internet yang sangat lamban. Jaman sekarang pun internet sangat dibutuhkan untuk para peneliti. Sebut saja pencarian referensi literatur untuk penelitian, data, informasi dan lain lain. Sama dengan komputer, bagaimana peneliti  bisa penelitian dengan maksimal?

Salah satu contoh lain adalah telpon yang hanya bisa dipakai untuk antar ruangan. Telpon yang bisa terhubung dengan dunia luar lipi ada salah satunya di ruangan sekertaris. Lagi-lagi saya mempertanyakan, kenapa cuma ada di ruang sekertaris? Saya rasa peneliti pun sangat butuh telpon, untuk komunikasi dengan pihak luar LIPI misalnya. Apa semua harus dengan email, atau harus ke ruangan sekertaris. Memang itu salah satu tindakan preventif supaya tidak disalah gunakan. Tapi jika ini alasanya, terlalu berlebihan. Juga kalau begitu kenapa tidak menggunakan IP phone? Meskipun disalah gunakan, biayanya murah sekali jika menggunakan IP phone. Bahkan kantor sebelah LIPI yang sama sama lembaga pemerintan, BKPM, sudah sejak lama pakai IP Phone. Untungnya abang saya tidak berfikir untuk beli IP phone sendiri.

Dengan titel lembaga penelitian terbesar di Indonesia, lumrah jika banyak orang yang berfikir, LIPI adalah tempat dengan banyak teknologi terbaru. Saya salah satu yang berfikir seperti itu juga. Ternyata tidak demikian adanya. Bukanya saya ingin menjelek-jelekan nama LIPI. Tapi, bagaimana bisa lembaga penelitian terbesar di Indonesia sekelas LIPI ternyata seperti itu. Saya pun mempertanyakan, bagaimana dunia penelitian di Indonesia mau maju pesat jika lembaga sekaliber LIPI ternyata seperti itu. Bukankah LIPI seharusnya yang menjadi pionir penelitian di Indonesia?

Sebagai sesama peneliti juga saya selalu dididik untuk tidak menggunakan uang pribadi untuk urusan kerjaan kantor. Makanya, saya merasa ada yang unik dari kasus mengenai LIPI ini. Sejak kuliah, professor saya mendidik saya untuk sebisa mungkin tidak menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kampus. Setelah bekerja sebagai peneliti di perusahaan swasta pun kantor saya melarang untuk menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kantor. Kantor saya jauh dari kantor yang sempurna, beberapa kali terkena kasus dan sampai sekarang banyak yang bilang bahwa kantor saya termasuk "Black Company" karena beberapa kali diangkat media soal kasus bunuh diri karyawan karena stress masalah kerjaan ataupun kasus karyawan yang depresi dan harus dirawat dirumah sakit ataupun oleh psikolog. Kantor saya juga bahkan terkesan agak pelit untuk urusan keuangan. Tapi kantor saya mengerti esensi penelitian, penelitian adalah sebuah investasi yang sangat penting untuk menghasilkan produk inovatif berkualitas tinggi. Produk dari hasil investasi itu lah yang akan dijual untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang pada ahirnya akan menggerakan perekonomian kantor.

Begitu pula dengan negara-negara maju. Saya ambil Contoh Jepang, karena kebetulan saya kuliah, hidup dan tinggal di Jepang. Saat ini jepang menganggarkan dana riset sebesar 3.6% dari PDB sementara Indonesia 0.2%. Oke memang banyak yang berfikir, Jepang negara maju, punya uang cukup untuk penelitian. Tapi, kita lihat sejarahnya, tahun 1945 Jepang hancur berantakan kalah PD 2. 2 kota besarnya di bom. Uang banyak terpakai untuk perang, kesengsaraan, kemiskinan, kekurangan gizi, banyak yang meninggal dipinggir jalan. Di saat kritis ini pemerintah Jepang, universitas, perusahaan swasta tetap berusaha menggalakkan penelitian dan pendidikan karena mereka sadar bahwa penelitian adalah salah satu investasi paling penting. Hasilnya, banyak sekali universitas, lembaga riset, perusahaan swasta di Jepang memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi dalam bidang penelitian, ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak lupa mengenai tingkat ekonomi Jepang saat ini, GDP Jepang mencapai 39.000 USD.

Salah satu contoh lain adalah Jerman. Saya belum pernah merasakan tinggal di Jerman, tapi saya sedikit banyak bisa baca data. Jerman pun sama, kalah PD 2, kondisi jerman tidak jauh dari Jepang. Tapi sekarang bahkan GDP Jerman berada diatas Jepang, yakni 42.000 USD. Sama seperti Jepang, banyak sekali universitas, lembaga riset, perusahaan swasta di Jerman yang memiliki tingkat kredibilitas yang sangat tinggi. Semua itu bisa dicapai karena Jepang dan Jerman memiliki kesamaan. Lagi-lagi, menggalakan penelitian dan pendidikan. Masih banyak sekali contoh yang bisa saya tuliskan disini, tapi ilustrasi kantor saya dan 2 negara maju yang dulu kalah PD 2, hancur lebur berantakan itu saya rasa sudah cukup mewaliki apa yang mau saya utarakan dalam tulisan ini. Dari beberapa contoh yang saya utarakan, dapat disimpulkan bahwa riset dan pendidikan merupakan investasi yang sangat menguntungkan untuk masa depan, baik untuk perekonomian ataupun untuk dunia pendidikan
suatu negara ataupun organisasi. 

Memang banyak faktor yang jadi alasan LIPI seperti itu, misalnya seperti yang ada di press release LIPI sendiri . Pemerintah pusat punya andil besar juga dalam hal ini. Saya juga sedikit paham bahwa dana suatu lembaga pemerintah ditentukan oleh DPR, MPR dan pemerintah pusat. Sudah bukan rahasia lagi bahwa cara lembaga pemerintah untuk mendapatkan dana yang lebih banyak adalah dengan melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat. Saya hanya bisa menduga, ada kemungkinan bahwa pejabat LIPI belum berhasil melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat untuk mendapatkan dana yang lebih banyak, bahkan sampai dipangkas. Saya yakin LIPI sudah dan sedang berusaha untuk menaikan dana untuk LIPI.
Semoga petinggi LIPI bisa melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat agar dana untuk LIPI lebih banyak. Yang tidak ketinggalan, semoga DPR, MPR dan pemerintah pusat juga pemerintah pusat mau berfikir dan mengerti seperti perusahaan swasta atau negara maju lainya, bahwa penelitian adalah salah satu investasi yang sangat penting untuk menggerakan ekonomi Indonesia.

Lewat tulisan ini juga saya ingin mengapresiasi abang saya. Respect untuk abang saya. Abang saya tetap berusaha bekerja melakukan penelitian yang notabene pekerjaan kantor meskipun menggunakan uang pribadinya. Kalau saya yang berada dalam posisi itu, mungkin saya sudah "tidak sreg" dan mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

Itami, 12 Desember 2017

TKI di Jepang, 
 
Ramadhona Saville, PhD.

test switching to japanese driving ilcense, tes ganti ke sim jepang, 外面切替試験 part 2

技能試験
driving test

courses in fuchu driving license center, i got b course on february 9





tips and tricks for your driving test

  1. before driving
  1. put your belonging on the back seat, check back and front of your car (include under the car), check the road situation behind the car, open the door, say "onegaishimasu" to the instructor, go inside, close the door
  2. lock the door, set your seat position, wear seat belt, set the position of upper mirror, check the transmission lever (hold it and make sure it is in N or P position) and parking brake, step on the brake pedal and hold it, say "junbi dekimashita"
  3. turn the engine on while holding the brake, unlock the parking brake, set transmission into D, say "ikumasu", right blinker, check right mirror, right side of your car and check the road condition through right back window of the car, drive slowly to the right, and there you go


  1. while driving
  1. use left side lane, in a straight road, step the accelerator pedal to maximum speed that are allowed there (usually 40kmph), pull the pedal, brake slowly until before the curve. note: you are not allowed to step on the brake pedal while in the curve
  2. when you see "something annoying" on the way, you have to turn right blinker (about 30m before the "thing"), check right mirror, check through right back of the car, go to the right side, when you about to pass the "thing", turn your blinker to the left, check left mirror, check through left back window, go to the left side, continue to drive
  3. when you want to turn left you must turn your blinker to the left, check left mirror, check through left back window, go to the left so bike cannot pass through, in intersection or fork you must see right, left and right again (move your neck), then check your left back through left back window, when it is clear you can go to the left
  4. it is the same when you want to turn right
  5. when you see stop sign (tomare or 止まれ), you must stop (0kmph), check your right, left and right again, then go
  6. crank road and S road? you must practice! just place your right foot on the brake pedal, and move slowly
  7. when your test is about to finish turn the left blinker, check left mirror, check through left back window, go to the left so bike cannot pass through, make sure that the car is in align with the side walk, then stop
  8. set your seat position so you can go out easily, unlock the safety belt, lock the parking brake, set the transmission lever into P, turn the engine off, check right mirror, right side of your car and check the road condition through right back window of the car, say "arigatou gozaimashita", check behind you again, go out
  9. take your bag from the back seat, go to the instructor, take your exam result, say again "arigatou gozaimashita"



-----------------------------------------------------------------------------------------------
*******************************************************************************
=====================================================


技能試験
tes praktek menyetir



Tips dan trik tes praktek menyetir


  1. sebelum ngejalanin mobil
  1. masukin tas di kursi belakang, cek belakang mobil (bawah juga), depan mobil (bawah juga), cek belakang lagi, buka pintu,bilang onegaishimasu, masuk, tutup pintu
  2. kunci pintu, atur seat, pake sabuk pengaman, atur cermin diatas, cek gigi, rem tangan, injek rem, bilang "junbi dekimashita"
  3. sambil injek rem nyalain mesin, unlock rem tgn, masukin ke gigi D, blg "ikimasu", sen kanan, cek cermin kanan,cek belakang kanan (tengok kanan belakang via jendela belakang kanan), ambil kanan sedikit, jalan lah


  1. pas udah jalan
  1. jalan di jalur kiri, pas jalan lurus injek gas, sampe batas maksimum kecepatan (biasanya 40kmph), terus lepas gas, rem pelan pelan sampe mau belokan, tapi pas belokan ngga boleh ngerem, ngeremnya harus sebelum belokan
  2. pas ada barang di kiri, harus dihindari, dari jauh (sekitar 30m) sein kanan, liat spion kanan, liat kaca belakang kanan, ambil kanan, lewatin, pas sejajar sama benda yang dilewatin sein kiri, liat spion kiri, liat kaca belakang kiri, ambil kiri, lurus lagi
  3. kalau mau belok kiri dari jauh jauh harus sein kiri, liat spion kiri, liat kaca belakang kiri, ambil kiri supaya nutup jalan motor/sepeda, pas perempatan atau pertigaan, liat kanan, kiri, kanan (gerakin leher), setelah itu liat kaca belakang kiri (cek barang kali ada orang), kalo ngga ada jalan
  4. sama untuk kalau mau belok ke kanan
  5. jangan lupa kalau ada tanda tomare (止まれ) harus berenti dulu (0kmph), liat kanan, kiri, kanan, baru jalan
  6. kalo tips crank road atau S road, latian! sambil injek rem aja, terus jalanya pelan
  7. pas mau parkir setelah tes, sein kiri, liat spion kiri, liat kaca belakang kiri, ambil kiri, stop dipinggir, lurusin sejajar trotoar 
  8. atur seat supaya gampang keluar, lepas sabuk pengaman, rem tangan, pindahin gigi ke P, matiin mesin, kiat cermin kanan, liat belakang kanan, bilang "arigatou gozaimashita", keluar mobil, cek lagi belakang kanan
  9. ambil tas di kursi belakang, samperin instruktur, dapet kertas lulus atau ngga, bilang lagi "arigatou gozaimashita"

test switching to japanese driving ilcense, tes ganti ke sim jepang, 外面切替試験 part 1

外面切替
switching to japanese driving ilcense

学科試験
written test

I went to fuchu driving license center to switch my indonesian driving license to the japanese one on january 26. on that day i did the administration and also the written test.

what you need to bring:
1. driving license in your home country
2. passport
3. residence card (在留カード)
4. residence status (住民票) from ward office (区役所)
5. picture  3 x 2.4cm
6. japanese translated driving license from JAF
7. driving status (if any) from police office/station

note:
you have to be in your home country more than 90 days since you got your driving license!


here are the questions of written test.

right or wrong question
1. you cannot pass the road when there is this sign (right)
No Parking, Traffic Sign,No Entry, Road, Sign, Red,

2. this sign shows you not to enter (wrong)
指定場所一時停止[編集]
3. suppose that there is a 30kmph sign, nobody is on the road, then you may drive more than 30kmph (wrong)
4. you can drive as fast as you can when there is nobody there (wrong)
5. you are very tired, but you still drive a car (wrong)
6. suppose that you are at an intersection, you want to turn right, but the re is also a car across you wanting to go to the left, you need to let the car across you to go first (right)
7. when you drive on the road and there are sign like this, it means you are free to change the direction as you want (wrong)
stock-photo-road-sign-for-go-straight-turn-left-turn-right-and-stop-line-345190727.jpg
source: shutterstock
8. you want to park your car but cannot find the empty parking lot, then you park your car on the left side because there are no car passing by (wrong)
9. you can drive on the bus lane (wrong)
10. you can change your lane after passing this yellow line (right)
loading-yellow.jpg
source: geocities

-----------------------------------------------------------------------------------------------
*******************************************************************************
=====================================================


外面切替
ganti ke sim jepang

学科試験
ujian pengetahuan


saya ke fuchu untuk bikin sim jepang, nge ganti dari sim indonesia tanggal 26, nah disitu saya daftar sekaligus tes ujian pengetahuan.

yang harus dibawa:
1. sim negara asal
2. passport
3. residence card (在留カード)
4. residence status (住民票) dari kantor kecamatan (区役所)
5. foto 3 x 2.4cm
6. sim yang udah ditranslate dari JAF
7. status mengemudi kita (kalau ada) dari kantor polisi tempat kita buat sim dulu

note:
kita boleh ganti kalo udah lebih dari 90 hari ada di negara tempat kita buat sim!


ini soal ujian pengetahuannya.

benar atau salah

1. tanda ini adalah tanda dilarang masuk/lewat (benar)
No Parking, Traffic Sign,No Entry, Road, Sign, Red,

2. tanda ini adalah tanda dilarang masuk/lewat (salah)
指定場所一時停止[編集]
3. kalau ada tanda 30km speed limit, boleh melaju lebih dari itu karena jalan kosong (salah)
4. kalau jalanan kosong boleh melaju dengan sangat cepat (salah)
5. anda capek dan tidak yakin bisa menyetir, tapi anda tetap menyetir (salah)
6. anda ada di perempatan, lalu mau belok ke kanan, di sebrang anda ada mobil yang mau belok kiri, anda harus mempersilahkan mobil yang belok ke kiri duluan (benar)
7. ketika anda menyetir dan di jalan ada tanda seperti ini anda bebas berpindah jalur (salah)
stock-photo-road-sign-for-go-straight-turn-left-turn-right-and-stop-line-345190727.jpg
8. anda tidak menemukan tempat parkir, lalu anda parkir di sisi kiri jalan karena sedikit mobil yang lewat (salah)
9. anda boleh masuk kedalam jalur bus karena sepi (salah)
10. anda boleh berpindah jalur (untuk nyalib/belok) setelah melewati garis kuning di sisi jalan (benar)
loading-yellow.jpg

Opini terhadap persaingan kereta cepat di Indonesia dan dampaknya

Sebelum melangkah lebih jauh mari kita lihat perjalanan proyek kereta cepat di Indonesia
Tahun 2008 Jepang mulai melakukan feasibility study untuk kereta cepat di Indonesia. Dilanjutkan tahun 2011, dimana SBY membuat pengumuman untuk mencanangkan pembuatan kereta cepat di Indonesia. Saat itu pemerintah Jepang menyatakan bahwa proyek kereta cepat akan ditangani sebagai proyek kenegaraan. Pada 2013 silam, Jepang, digalangi oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) mulai mengadakan feasibility study yang lebih serius untuk Kereta cepat Jakarta-Surabaya. Setalah pergantian presiden di tahun 2014, pemerintahan baru membuka tender untuk proyek kereta cepat. Tender tersebut tentu saja diikuti oleh pihak Jepang, dan Cina.
Di awal September 2015, ada berita yang cukup mengejutkan, yakni penundaan tender. Jokowi menyatakan ketidak inginannya untuk memakai APBN untuk proyek tersebut dan ingin membuatnya menjadi proyek dengan basis B to B (Business-to-Business) bukan dengan basis G to G (Government to-Government). Dia juga menyatakan bahwa kereta cepat tidak dibutuhkan, yang dibutuhkan adalah kereta berkecepatan sedang.
Namun beberapa hari setelahnya ada berita yang lebih mengejutkan, yakni diterimanya proposal kereta cepat pihak Cina. Persaingan kereta cepat Cina dan Jepang ahirnya dimenagi oleh pihak Cina.
Untuk itu saya menghimpun hal terkait proyek tersebut, mari kita lihat sedikit lebih dalam.
Dalam proposal Jepang menyatakan bahwa dana yang dipakai untuk proyek tersebut merupakan dana ODA (Official Development Assistance). Total biaya 5 milyar  dolar, dengan 75% dari dana tersebut merupakan pinjaman lunak dengan bunga 0.1%. Jepang menjanjikan tingkat keamanan maksimal yang sama dengan Shinkansen, dengan menggunakan teknologi energy saving system. Pihak Jepang menjanjikan bahwa pada tahun 2021 proyek tersebut akan rampung.
Dilain pihak, Cina mengusulkan proyek dengan dana 6 miliar dolar, dengan 100% dari dana tersebut harus dibayar dengan bunga 2%. Sementara pihak Cina menjanjikan cepatnya masa pengerjaan proyek. Cina menjanjikan bahwa pada tahun 2018 proyek tersebut akan rampung.
Dari data yang saya himpun terlihat bahwa biaya yang diusulkan Cina lebih mahal sekitar 20% dari yang diusulkan Jepang. Selain itu, Jumlah total yang harus dibayar dengan bunga pun demikian. Sekarang mari kita lihat dari jangka waktu pembangunan. Pihak Cina menawarkan masa pembangunan 3 tahun lebih cepat dari pihak Jepang.
Setelah mempertimbangkan hal diatas, pemerintah Indonesia mengatakan bahwa usulan pihak Cina lebih baik karena tidak perlu memakai dana APBN.

Namun apakah demikian?
Kita mengetahui bahwa dana yang akan dipakai oleh Cina bukan merupakan APBN, namun sedikitnya Indonesia tetap harus mengembalikan dari hasil tiket selama 42 tahun lamanya.
Selain itu, mari kita melihat kilas balik pembangunan PLTU yang dilakukan pihak Cina. Pihak Cina memang menjanjikan gratis, tapi ternyata buku manual semua dalam bahasa Cina, akhirnya dioperasikan semua oleh pihak Cina, dengan sistem leasing ke Indonesia. Usut punya diusut ternyata manual memang tidak diperkenankan untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Jika proyek G to G saja begitu, bagaimana dengan B to B? Artinya pemerintah tidak bisa ikut campur lebih dalam. Mungkin jika Jepang yang mendapatkan proyek tersebut juga akan melakukan hal yang sama. Tapi saya rasa tidak akan begitu jika yang digunakan adalah public funding.
Semoga kejadian di PLTU tidak terjadi dalam pembangunan kereta cepat. Jika hal itu terjadi, bisa jadi insinyur, operator dan bahkan masinis didatangkan dari Cina. Besar kemungkinan bahwa pihak indonesia hanya akan menjadi buruh di bisnis kereta cepat tersebut, sebut saja pengecek tiket kereta, penjual tiket di loket, penjaga pintu masuk kereta dan petugas kebersihan.
Jika melihat dari masa pengerjaan proyek, yang dijanjikan Cina rampung pada tahun 2018, rasanya juga akan sangat sulit bagi Cina untuk memenuhi janjinya. Saya paham bahwa bukanlah insinyur yang pantas untuk berkata demikian. Namun mari kita lihat proyek MRT di Jakarta, apakah cukup menyelesaikanya dalam waktu 2 tahun? Jika MRT memakan waktu lebih dari 2 tahun bagaimana dengan kereta cepat yang notabene membutuhkan tingkat kontrol yang lebih sulit serta akurasi dan  presisi yang jauh lebih tinggi? Jikalau 2 tahun memang memungkinkan, besar kemungkinan bahwa tingkat keamanan pada kereta cepat akan berada jauh dari standar yang seharusnya.
Selain itu, jika melihat track record proyek kereta cina di luar negri, kejadian yang terhangat adalah kereta di Filipina. Pihak Cina menjanjikan akan menyelesaikan proyek tersebut di tahun 2007, namun molor menjadi 2012. Bahkan di tahun 2012 pun proyek tersebut belum selesai dan ahirnya ditunda setelah terjadinya kasus sehingga harus dihentikan Mahkamah Agung Filipina. Dan di tahun 2015 pemerintah Filipina meminta bantuan Jepang untuk menyelesaikan proyek yang tertunda tersebut.

Dampak di masa depan
Banyak pengamat hubungan internasional yang mengatakan bahwa dampat kejadian tersebut dapat mempengaruhi hubungan bisnis dan politik Indonesia dan Jepang di masa depan.
dari hasil tersebut, Menteri Sekertaris kabinet (Mensekab) Jepang merasa sangat kecewa karena segala jerih payah, tenaga, waktu dan biaya untuk feasibility study yang mereka lakukan sejak pemerintahan SBY gagal begitu saja. Namun sepertinya tidak hanya Mensekab Jepang saja yang merasa kecewa dan terpukul, sebut saja Nikkei, NHK, stasiun-stasiun televisi di Jepang dan media masa lainya di Jepang. Berita kekecewaan kerap kali mewarnai media-media masa di Jepang.
Saat ini, Jepang merupakan donor nomor 1 untuk bantuan keuangan kumulatif, termasuk ODA dan dana dari ADB (Asian Development Bank). Tidak pula dapat kita pungkiri bahwa Indonesia sangatlah membutuhkan bantuan keuangan kumulatif. Pernahkah terbayang oleh kita jika kita dipersulit untuk mendapatkan bantuan tersebut setelah adanya kejadian tender kereta cepat?
Dari pengalaman saya selama di Jepang, Jika pemerintah Jepang kecewa, hal tersebut akan menimbulkan efek domino, yakni turut kecewanya perusahaan-perusahaan Jepang. Hal tersebut telah ditandai dengan adanya kekecewaan di media-media masa terhadap pemerintahan Indonesia. Pernahkah pula terfikirkan jika investasi perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di indonesia makin sedikit, dan memindahkan pabriknya ke Vietnam atau Kamboja? Bagaimana dengan jutaan pekerjanya?

Yang harus dilakukan
Peran pemerintah akan menjadi faktor penting dalam menghadapi kemungkinan yang ada. Pemerintah harus tetap menjalankan keputusan yang telah dibuat, serta tidak berlaku lembek terhadap Cina jika masa pembangunan molor dan tidak sesuai perjanjian.
Setelah Kejadian ini, pemerintah harus berupaya menjalin kerjasama yang baik dengan Jepang di sektor lain untuk memperbaiki hubungan yang telah rapuh. Misalnya di bidang energi dan pembangkit listrik, infrastruktur seperti pelabuhan dan jalan, bidang pendidikan dan sains, serta industri primer, seperti pertanian dan perikanan.
Selain itu, kita sebagai warga negara yang baik berkewajiban juga untuk terus mengawal keputusan yang telah dilakukan pemerintah agar sesuai dengan perencanaan yang telah dilakukan.


Tokyo, 2 Oktober 2015

Ramadhona Saville
PhD candidate
International Bio-business Studies

Tokyo University of Agriculture