Sejak April 2016 sampai saat ini (Agustus 2018) saya masih terhitung menjadi seorang peneliti di sebuah kantor swasta di Jepang. Saya merasa banyak sekali pelajaran yang didapat dari kantor saya sekarang.
Tapi tidak semuanya berjalan lancar, saya punya 3 kendala besar selama bekerja di perusahaan ini
Kendala bekerja di perusahaan saat ini1. Kendala solat Jumat
Ada 2 cara solat jumat
(1)Ke Masjid terdekat dari kantor saya, tapi jarak masjid kantor saya ke Masjid terdekat di Chibune, Osaka atau Kobe cukup jauh, butuh waktu 50 menit untuk sampai ke Masjid, artinya untuk bisa solat Jumat minimal saya butuh 2 x 50 menit + solat sekitar 20 menit = 115 menit, atau 2 jam. Sementara istirahat di kantor saya hanyalah 45 menit. Disamping itu, solat Jumat dimulai pukul 13:30 di Chibune dan pukul 13:05 di Kobe, kantor saya sendiri istirahat pukul 12:15 sampai 13:00. berarti diluar waktu istirahat saya harus menemukan skema untuk keluar kantor selama 2 jam.
(2)Solat didalam kantor, namun tidak ada muslim yang beribadah selain saya sendiri.
Untuk bisa solat jumat, saya harus ambil cuti, dikarenakan, belum adanya skema yang bisa saya pakai untuk bisa solat Jumat ke Masjid. Saya berulang kali konsultasi baik ke atasan, kepegawaian, ataupun ke serikat kerja, saya pun berulang kali menawarkan ide, agar saya dibolehkan solat Jumat ke Masjid, misalnya setelah Solat Jumat, saya bisa lembur tanpa dibayar selama 2 jam. Selain itu saya pun pernah menawarkan agar pihak kepegawaian bisa memotong gaji saya selama 2 jam setiap minggu. Namun, ide saya selalu ditolak. Salah satu alasan ditolak karena pada jam 11:00 sampai 16:00 adalah "core time" di kantor kami dan kami harus berada di kantor pada jam tersebut. Alasan lainya adalah, saya merupakan orang pertama yang meminta untuk diperbolehkan Solat Jumat, jadi belum ada aturan mengenai hal tersebut. Selain itu saya pernah ditolak karena alasan, kesetaraan, misalnya bagaimana dengan orang lain yang meminta keluar kantor untuk beberapa saat tapi bukan untuk Solat Jumat, bisa jadi hanya untuk bermain main.
Satu-satunya cara untuk saya agar bisa Solat Jumat hanyalah ambil cuti, kendalanya jumlah cuti terbatas, saya hanya bisa Solat Jumat 1 bulan sekali.
Padahal sebagai laki-laki muslim Solat Jumat itu diwajibkan, karena itu lah saya merasakan kendala yang sangat berat.
2. Kendala bidang yang dikerjakan terlalu berbeda jauh
Kendala kedua dalam bekerja di kantor saya saat ini adalah bidang keahlian yang terlalu berbeda jauh. Bidang yang saya kerjakan di kantor saat ini sangat tidak berhubungan dengan apa yang pernah saya kerjakan.
Sebelum bekerja, bidang kehlian saya adalah teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk pertanian dan perikanan, manajemen berbasis statistik, analisis wave-like-object (mirip dengan prosesi sinyal) ataupun pengindraan jarak jauh. Sekarangsaya bekerja untuk mengembangkan computer aided manufacturing pada numerical control untuk milling machine, sebuah bidang yang sangat membutuhkan pemahaman Aljabar linear, geometri, modeling (matematika yang setidaknya menurut saya level tinggi). Pernah saya bahas dalam tulisan saya yang sebelumnya kalau saya saat ini sedang struggle dengan matematika di tulisan ini (link).
Karena bidang yang terlalu jauh ini lah saya belum bisa mengaplikasikan keahlian saya yang pernah saya pelajari sebelumnya. Saya juga merasa bahwa kemampuan saya yang sebenarnya tidak bisa keluar, saya pun belum bisa berkontribusi terhadap kantor meskipun telah bekerja selama lebih dari 2 tahun. Saya paham, bekerja selama 2 tahun itu masih dalam tahap pembelajaran, sehingga smasih sulit untuk berkontribusi. Namun saya tetap merasa hal ini adalah sebuah kendala bagi saya saat ini.
3. Kendala karir di masa depan
Saya tidak yakin, jika saya bekerja di perusahaan ini karir saya akan naik.
Kantor tempat saya bekerja adalah sebuah perusahaan multinasional yang bahkan masuk ke dalam list Forbes Global 500, namun masih merupakan perusahaan yang sangat konservatif. Sebagai contoh, meskipun telah hampir 100 tahun berdiri, masuk kedalam Forbes Global 500, namum jumlah pegawai asing di dalam Jepang ternyata masih dibawah 100 orang. Dari 100 orang itu, tidak ada 1 orang pun yang menjadi manager, apalagi menjabat sebagai direktur, deputi, dan sebaginya diatas level manager.
Manager grup saya sendiri baru menjadi manager setelah bekerja selama 22 tahun, padahal menurut saya dia sangat cerdas, pertanyaan dan komentarnya tajam, idenya out of the box, orangnya tegas tapi menyenangkan. Di kantor saya, orang Jepang yang seperti manager saya itu tidaklah sedikit, saya harus bersaing dengan mereka untuk karir saya. Saya rasa sangat sulit, bahkan mungkin hampir mustahil. Selain masih sangat konservatif, masih lebih mendahulukan orang Jepang sebagai penduduk lokal, saya juga tidak yakin bisa bersaing di tengah tengah orang yang level kecerdasanya diatas saya. Saya perkirakan, karir saya akan berhenti di tingkat supervisor jika terus berada disini.
Saya rasa satu-satunya jalan untuk saya agar bisa berkarir hanyalah pindah ke lingkungan kerja yang lebih memungkinkan untuk saya berkarir di Jepang, atau bertahan pada perusahaan tempat saya sekarang namun pindah keluar Jepang.
==============
Posisi dosen di universitas
Saat itu lah saya dikontak oleh professor saya ketika di universitas, beliau menawarkan posisi sebagai dosen
Sistemnya, tenure track, menjadi research assistant professor selama 4 taun, berikutnya tenure assistant professor saat memenuhi persyaratan dari universitas.
Professor saya menghubungi saya bulan Januari, saya mengirimkan berkas syarat untuk melamar sebagai dosen pada bulan Maret. Setelah lolos seleksi dokumen, saya diwawancara pada bulan April oleh dosen dosen di jurusan yang saya tuju. Lalu saya lolos wawancara tahap pertama dan melangkah ke wawancra tahap kedua dan diwawancarai oleh pejabat-pejabat di universitas seperti dekan dan bahkan waktu itu rektor pun datang saat wawancara. Berikutnya saya dikabari diterima pada bulan Juli oleh professor saya, namun surat resmi bahwa saya diterima tak kunjung datang sampai bulan Agustus.
Meskipun saya belum menerima surat resmi dari universitas, perusahaan saya memiliki peraturan tertulis untuk pengunduran diri, jadi terpaksa saya konsultasi dengan manager dan kepegawaian, kalau saya mau berhenti kerja karena 3 alasan kendala yang saya sebutkan diatas.
==============
Pertimbangan untuk bertahan di perusahaan sekarang
Setelah konsultasi dengan kepegawaian, ada godaan dan kendala untuk berhenti dari perusahaan ini
1. Ditawarkan kantor untuk memakai sistem khusus agar bisa solat Jumat!
Saya sangat senang mendengar hal ini, pada ahirnya perusahaan membolehkan Solat Jumat dengan skema lembur tidak dibayar selama meninggalkan kantor untuk Solat Jumat. Tapi, bonus saya akan dipotong, saya sebetulnya tidak terlalu bermasalah dengan bonus yang dipotong, meskipun ada rasa kecewa, karena saya jika bertahan di kantor ini. Karena saya telah mengganti waktu untuk Solat Jumat dengan waktu lembur yang tidak dibayar, kenapa bonus harus dipotong juga. Selain itu setelah selalu ditolak selama lebih dari 2 tahun, kenapa setelah saya bilang ingin keluar baru diperbolehkan Solat Jumat, dan mereka bisa memproses agar saya bisa Solat Jumat hanya dalam 1 jam. Berarti selama lebih dari 2 tahun ini konsultasi saya tidak terlalu dianggap serius oleh pihak kepegawaian kantor. Saya jadi berpikir, jika di masa depan saya mengelami kendala lain, apakah akan ditolak dan baru diterima saat saya bilang lagi mau keluar...
2. Gaji dosen yang menurun cukup drastis, sementara biaya hidup di Tokyo lebih tinggi
Bukanlah sebuah rahasia lagi jika pendapatan bekerja di perusahaan multinasional swasta lebih besar daripada bekerja sebagai dosen. Sementara biaya hidup di Tokyo lebih tinggi dari Itami. Bekerja pada perusahaan multinasional swasta dengan pendapatan yang cukup besar membuat saya berada di atas gunung, dan ketika tau pendapatan sebagai dosen membuat saya dijatuhkan dari atas gunung yang pernah saya rasakan. Meskipun sebenarnya pendapatan dosen tidaklah buruk dibandingkan dengan pendapatan rata-rata pekerja di Jepang. Namun tetap saja ini menjadi pertimbangan saya dalam memilih pekerjaan karena perbedaan pendapatannya cukup besar, dalam setahun pendapatan bekerja di perusahaan saya sekarang dan sebagai dosen beda sekitar 1 juta yen, atau 130 juta rupiah dengan kurs saat ini.
Saya meminta waktu kepada bagian kepegawaian kantor dan manager saya untuk berpikir lebih lanjut selama 1 minggu saat libur obon
==============
Pertimbangan memilih pindah
Untuk Solat Jumat saya rasa sudah tidak ada masalah baik saya meneruskan bekerja di perusahaan sekarang ataupun pindah ke universitas di Tokyo.
Untuk urusan gaji, memang akan lebih berat, harus lebih irit lebih dari sekarang. Tapi saya rasa gaji dosen masih cukup untuk kami sekeluarga dan untuk sekolah anak kami di masa depan.
1. Karir
Seperti yang saya tuliskan diatas, di perusahaan sekarang kemungkinan besar tidak akan lebih dari supervisor, sementara di universitas bisa menjadi professor. Tentu jika memenuhi syarat, target saya sendiri bisa jadi professor dalam 15 tahun mendatang.
2. Pendidikan agama anak
Ada option untuk TPA atau madrasah di Tokyo, misalnya di madrasah YUAI, Masjid Otsuka, SRIT dan lain sebagainya. Jadi pendidikan agama untuk anak saya relatif lebih baik.
3. Kenyamanan istri
Pindah ke Tokyo membuka kemungkinan untuk istri saya untuk bekerja atau melanjutkan belajar bahasa Jepang yang sempat terputus. Tidak bisa dipungkiri, peluang untuk bekerja di Tokyo lebih besar dari di Itami.
Selain itu, istri saya bisa memiliki lebih banyak teman, karena lebih banyak komunitas orang Indonesia di Tokyo dan sekitarnya. Terkadang ada juga seminar seminar atau perteuan membahas macam macam hal yang diorganisir oleh suatu grup wanita Indonesia di Jepang.
==============
Mengundurkan diri dari posisi sekarang
Setelah mempertimbangkan hal - hal diatas, saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan sekarang dan berkiprah menjadi dosen di universitas di Tokyo.
Saya sendiri telah memberikan surat pengunduran diri kepada manager dan bagian kepegawaian. Hari ini, tadi pagi, manager saya mengumumkan kepindahan saya kepada anggota grup kami.
Itami, 21 Agustus 2018
Ramadhona Saville, PhD
TKI di Jepang
Showing posts with label indonesian. Show all posts
Pertimbangan berhenti dari pekerjaan sebagai peneliti di kantor swasta, beralih menjadi dosen di Jepang
Tuesday, August 21, 2018
Labels:
happening,
indonesian,
japan,
jobhunting,
people,
personal,
thought
Guna Ho-Ren-So (報・連・相 )
Thursday, August 16, 2018
報・連・相 Ho-Ren-So
Istilah diatas adalah kepanjangan dari Hokoku-Renraku-Sodan atau dalam bahasa Jepang ditulis (報告、連絡、相談).
Artinya sendiri adalah sebagai berikut.
報告 : 部下が上司の指示に取り組みつつ、途中経過を報告すること[1]。
Hokoku : Arti harfiahnya adalah "melapor". Laporan (secara berkala) kepada atasan di tengah tengah proyek yang sedang dikerjakan.
連絡 : 自分の意見や憶測を含めない関係者への状況報告。
Renraku : Arti harfiahnya adalah "mengontak". Laporan yang tidak ada unsur spekulasi atau opini kita sendiri.
相談 : 自分だけで業務上の判断が困難なとき、上司に意見をきくこと。
Sodan : Arti harfiahnya adalah "berkonsultasi/berdiskusi". Ketika mengalami kendala, segera bertanya dan berdiskusi dengan atasan.
Di perusahaan Jepang istilah Ho-Ren-So ini sangat dikenal. Mayoritas pekerja di jepang menganut sistem ini dalam bekerja.
Tapi sejujurnya menurut saya yang paling efektif hanyalah Ho-So. Karena Saat kita melakukan laporan, tentu saja kita harus melakukan kontak terhadap atasan kita atau klien ataupun orang yang terlibat dalam proyek yang sedang kita kerjakan. Bagaimana cara kita melakukan laporan kalau kita tidak melakukan kontak terhadap orang yang mau kita laporkan...
Baru setelah itu konsultasi/diskusi diperlukan saat ada hal yang ada diluar dugaan.
Definisi Ho-So ini agak sedikit saya ubah dari yang saya tulis diatas.
Hokoku: Melaporkan "secara berkala" dan "saat ada kejadian diluar dugaan".
Sodan : Berkonsultasi/berdiskusi ketika mengalami kendala.
Meskipun saya baru bekerja selama 2.5 tahun di sebuah kantor di Jepang, saya sudah sedikit banyak paham arti dan guna sistem Ho-So ini. Pernah suatu saat ketika ada hal yang diluar dugaan saya, saya mencoba untuk menanganinya sendiri, karena kurang matangnya analisa dan problem solving yang saya lakukan, ahirnya yang saya kerjakan harus diulang. Selain itu, karena suatu proyek di kantor saya biasanya dikerjakan dengan tim, tentu pekerjaan yang harus diulang itu juga menjadi beban untuk orang lain, saat saya belum selesai mengerjakan sesuatu, orang lain jadi harus menunggu hasil yang saya kerjakan atau membantu saya dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut agar tetap tepat waktu. Saat suatu pekerjaan harus diulang, berarti kita rugi waktu, tenaga dan pikiran. Sudah capek - capek mencoba menyelesaikan masalah sendiri, membuat metoda sendiri, mencoba memakai metoda sendiri, ternyata gagal, menyusahkan orang lain pula.
Dari situ lah saya belajar mengenai pentingnya Ho-So. Bayangkan saat kita menemukan keadaan yang diluar dugaan, dan kita langsung melaporkanya kepada atasan/rekan kerja kita/klien, saat itu juga bisa kita cari akar permasalahan dan penyelesaianya secara bersama. Seringkali saat melakukan konsultasi/diskusi itu juga langsung bisa dilakukan problem solving, sehingga pekerjaan kita akan lebih hemat waktu dan efektif.
Kelebihan lainya, saat konsultasi/diskusi tidak hanya mengandalkan 1 kepala saja, tapi beberapa kepala. Tidak bisa dipungkiri beberapa kepala lebih baik daripada 1 kepala saat melakukan problem solving (tidak selalu, tapi pada umumnya hal ini lebih efektif).
Sistem Ho-So ini lah yang berkali - kali menolong saya ketika ada hal yang diluar dugaan.
Selain itu hal yang penting saat melaporkan sesuatu adalah, sebutkan dahulu kesimpulan laporan kita, baru setelah itu sebutkan secara terstruktur detail laporan kita agar atasan/rekan kerja/klien mudah mengerti apa yang mau kita sampaikan.
Trivia: Sebetulnya Ho-Ren-So sendiri pengucapanya sama (homofon) dengan horenso (bayam), jadi istilah ini sangat mudah untuk diingat di Jepang.
Itami, 16 Agustus 2018
Ramadhona Saville, PhD
TKI di Jepang
[1] 東洋経済,[https://toyokeizai.net/articles/-/176175?page=2]
Istilah diatas adalah kepanjangan dari Hokoku-Renraku-Sodan atau dalam bahasa Jepang ditulis (報告、連絡、相談).
Artinya sendiri adalah sebagai berikut.
報告 : 部下が上司の指示に取り組みつつ、途中経過を報告すること[1]。
Hokoku : Arti harfiahnya adalah "melapor". Laporan (secara berkala) kepada atasan di tengah tengah proyek yang sedang dikerjakan.
連絡 : 自分の意見や憶測を含めない関係者への状況報告。
Renraku : Arti harfiahnya adalah "mengontak". Laporan yang tidak ada unsur spekulasi atau opini kita sendiri.
相談 : 自分だけで業務上の判断が困難なとき、上司に意見をきくこと。
Sodan : Arti harfiahnya adalah "berkonsultasi/berdiskusi". Ketika mengalami kendala, segera bertanya dan berdiskusi dengan atasan.
Di perusahaan Jepang istilah Ho-Ren-So ini sangat dikenal. Mayoritas pekerja di jepang menganut sistem ini dalam bekerja.
Tapi sejujurnya menurut saya yang paling efektif hanyalah Ho-So. Karena Saat kita melakukan laporan, tentu saja kita harus melakukan kontak terhadap atasan kita atau klien ataupun orang yang terlibat dalam proyek yang sedang kita kerjakan. Bagaimana cara kita melakukan laporan kalau kita tidak melakukan kontak terhadap orang yang mau kita laporkan...
Baru setelah itu konsultasi/diskusi diperlukan saat ada hal yang ada diluar dugaan.
Definisi Ho-So ini agak sedikit saya ubah dari yang saya tulis diatas.
Hokoku: Melaporkan "secara berkala" dan "saat ada kejadian diluar dugaan".
Sodan : Berkonsultasi/berdiskusi ketika mengalami kendala.
Meskipun saya baru bekerja selama 2.5 tahun di sebuah kantor di Jepang, saya sudah sedikit banyak paham arti dan guna sistem Ho-So ini. Pernah suatu saat ketika ada hal yang diluar dugaan saya, saya mencoba untuk menanganinya sendiri, karena kurang matangnya analisa dan problem solving yang saya lakukan, ahirnya yang saya kerjakan harus diulang. Selain itu, karena suatu proyek di kantor saya biasanya dikerjakan dengan tim, tentu pekerjaan yang harus diulang itu juga menjadi beban untuk orang lain, saat saya belum selesai mengerjakan sesuatu, orang lain jadi harus menunggu hasil yang saya kerjakan atau membantu saya dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut agar tetap tepat waktu. Saat suatu pekerjaan harus diulang, berarti kita rugi waktu, tenaga dan pikiran. Sudah capek - capek mencoba menyelesaikan masalah sendiri, membuat metoda sendiri, mencoba memakai metoda sendiri, ternyata gagal, menyusahkan orang lain pula.
Dari situ lah saya belajar mengenai pentingnya Ho-So. Bayangkan saat kita menemukan keadaan yang diluar dugaan, dan kita langsung melaporkanya kepada atasan/rekan kerja kita/klien, saat itu juga bisa kita cari akar permasalahan dan penyelesaianya secara bersama. Seringkali saat melakukan konsultasi/diskusi itu juga langsung bisa dilakukan problem solving, sehingga pekerjaan kita akan lebih hemat waktu dan efektif.
Kelebihan lainya, saat konsultasi/diskusi tidak hanya mengandalkan 1 kepala saja, tapi beberapa kepala. Tidak bisa dipungkiri beberapa kepala lebih baik daripada 1 kepala saat melakukan problem solving (tidak selalu, tapi pada umumnya hal ini lebih efektif).
Sistem Ho-So ini lah yang berkali - kali menolong saya ketika ada hal yang diluar dugaan.
Selain itu hal yang penting saat melaporkan sesuatu adalah, sebutkan dahulu kesimpulan laporan kita, baru setelah itu sebutkan secara terstruktur detail laporan kita agar atasan/rekan kerja/klien mudah mengerti apa yang mau kita sampaikan.
Trivia: Sebetulnya Ho-Ren-So sendiri pengucapanya sama (homofon) dengan horenso (bayam), jadi istilah ini sangat mudah untuk diingat di Jepang.
Itami, 16 Agustus 2018
Ramadhona Saville, PhD
TKI di Jepang
[1] 東洋経済,[https://toyokeizai.net/articles/-/176175?page=2]
Kisah Saya dan Matematika
Tuesday, July 10, 2018
Saya suka matematika sejak saya kecil, seingat saya saya mulai menyukai angka angka dan matematika sejak SD. Waktu itu saya kelas 2 atau kelas 3 SD, saya ingat saat menunggu ibu saya pulang kantor, saya membuat sendiri angka angka random yang entah dari mana saya dapatkan angka angka itu, lalu saya jumlahkan, saya kurangi, saya bagi, saya kalikan, atau saya ganti angka angka tersebut. Angka angka random tersebut saya tuliskan pada selembar kertas buram bekas menggunakan pensil HB. Saya mulai proses jumlah, kurang, bagi dan kali dari 1 digit angka, lalu setelah bosan dengan 1 digit, saya buat menjadi 2 digit. Saya masih ingat kala itu, sangat menyenangkan, juga ada rasa kepuasan tersendiri setelah menjawab soal yang padahal saya buat sendiri secara random. Tak lama setelah itu, ibu saya pulang kantor dan saya membanggakan apa yang telah saya lakukan. Sejauh yang saya ingat, saat itu lah saya mulai menyukai angka dan matematika.
Ketertarikan saya pun bertambah ketika SMP, saat SMP saya merasa superior, karena nilai matematika saya hampir tidak pernah dibawah 9 dari skala nilai 10. Mungkin karena kebetulan saya masuk ke SMP yang levelnya agak rendah. Tapi mungkin hal itu lah yang membuat saya makin menyukai matematika, karena makin percaya diri. Bukanya merendahkan atau apa, namun dibandingkan dengan SMP SMP top di kota tempat saya lahir dan dibesarkan, Bogor, SMP saya bukanlah yang memiliki banyak prestasi, syarat nilai untuk masuk pun cukup rendah. Tapi saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk makin menyukai matematika.
Ketika SMA saya baru mengetahui ada orang yang sangat cerdas, level matematikanya diatas saya! Terlebih lagi, dia berasal dari SMP yang sama dengan saya, Iqbal namanya. Sejujurnya, saya pikir di SMP yang levelnya agak rendah itu tidak ada yang pandai matematika seperti Iqbal. Iqbal pun masuk SMA yang sama dengan saya. Kelas 1 pun sama kelasnya. Disitu saya tau kalau level matematika saya masih jauh dibawah orang orang seperti Iqbal.
Di SMA saya dan iqbal banyak berdiskusi, saya diajari banyak hal mengenai matematika. Saat itu dia menjadi "tujuan" saya, saya ingin sekali mengejar iqbal dalam hal matematika. Kami beberapa kali mengikuti lomba matematika, entah itu penyisihan olimpiade sains nasional, matematika ria IPB, lomba sains UI dan lainya.
Saya agak menyesal tentunya di SMA dan setelah lulus SMA, karena saat di bangku SMP saya tidak pernah menemukan orang yang pandai di bidang matematika, ikut lomba atau kompetisi matematika dimanapun. Kalau saja saya bertemu orang seperti Iqbal lebih cepat, atau ikut lomba matematika, mungkin saya akan lebih terpacu untuk menggali matematika lebih dalam.
Setelah lulus SMA saya melanjutkan kuliah ke IPB (dan UI), lalu berangkat ke Jepang dengan beasiswa dari kampus saya di jepang (Tokyo University of Agriculture, biasa disingkat nodai). Saya masuk ke nodai jurusan international biobusiness.
Singkat cerita di dunia universitas saya sangat jauh dari matematika, tidak ada mata kuliah matematika (ada sebenarnya, tapi sangat dasar di jurusan saya). Ada yang saya gunakan sedikit, untuk penelitian di tingkat 4, juga saya gunakan sedikit untuk penelitian master dan doktoral saya. Bahkan banyak sekali matematika tingkat SMA yang saya lupa.
Setelah lulus doktoral, saya lanjut bekerja di bagian litbang sebuah perusahaan swasta di Jepang, dan celakanya di bagian numerical control, computer aided manufacturing unit. Di tempat saya bekerja saat ini sangat membutuhkan pemahaman matematika dan perangkat lunak, terutama aljabar, geometri, analisis numerik dan grafik komputer.
Setelah 9 tahun sangat jauh dari matematika, sekarang saya harus berkutat dengan matematika yang bukan level SMA. Gawatnya, matematika level SMA saja saya sudah banyak yang tidak ingat, baik logika ataupun pola pikirnya, ataupun teoremanya, bagaimana dengan ini. Saat ini genap sudah 2 tahun saya bekerja sebagai peneliti, dan dalam 2 tahun ini saya belajar banyak sekali mengenai geometri berbekal pola pikir dan logika matematika yang mulai hilang. Tapi dibandingkan dengan rekan-rekan saya di kantor, saya merasa level matematika saya masih sangat rendah. Masih banyak sekali persamaan persamaan matematika yang saya belum bisa pecahkan, hal teknis yang saya belum paham untuk tujuan penelitian saya saat ini.
Saya sangat menyesal, ketika saya kuliah saya tidak mempelajari matematika, padahal meskipun di jurusan saya tidak ada mata kuliah matematika, ada jurusan lain yang menyediakan mata kuliah matematika, saya juga semestinya bisa belajar matematika dari pembimbing saya selama S1 sampai S3, bukan hanya memakai sedikit matematika. Atau ada cara lain yang sangat fleksibel, google, MITopencourseware, dan sebagainya, saya tinggal melakukan pencarian untuk belajar matematika. Tapi sayangnya saya tidak melakukan itu, dan jauh dari dunia matematika yang saya senangi selama 9 tahun.
Semoga dengan penyesalan ini saya bisa menambah semangat saya untuk belajar lebih banyak mengenai matematika lagi, menemukan keindahan matematika lagi seperti saat saya masih kecil. Karena pada dasarnya saya semakin yakin bahwa matematika sangatlah penting, bukan hanya untuk pekerjaan saya sekarang, tapi juga untuk banyak hal seperti melatih logika, pola pikir, membuat algoritma, mengerjakan hal teknis, membuat permodelan, konsep probabilitas, memahami statistik, proses pengambilan keputusan dan lain sebagainya.
Ganbarimasu!
Itami,
Selasa, 10 Juli 2018
Ketertarikan saya pun bertambah ketika SMP, saat SMP saya merasa superior, karena nilai matematika saya hampir tidak pernah dibawah 9 dari skala nilai 10. Mungkin karena kebetulan saya masuk ke SMP yang levelnya agak rendah. Tapi mungkin hal itu lah yang membuat saya makin menyukai matematika, karena makin percaya diri. Bukanya merendahkan atau apa, namun dibandingkan dengan SMP SMP top di kota tempat saya lahir dan dibesarkan, Bogor, SMP saya bukanlah yang memiliki banyak prestasi, syarat nilai untuk masuk pun cukup rendah. Tapi saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk makin menyukai matematika.
Ketika SMA saya baru mengetahui ada orang yang sangat cerdas, level matematikanya diatas saya! Terlebih lagi, dia berasal dari SMP yang sama dengan saya, Iqbal namanya. Sejujurnya, saya pikir di SMP yang levelnya agak rendah itu tidak ada yang pandai matematika seperti Iqbal. Iqbal pun masuk SMA yang sama dengan saya. Kelas 1 pun sama kelasnya. Disitu saya tau kalau level matematika saya masih jauh dibawah orang orang seperti Iqbal.
Di SMA saya dan iqbal banyak berdiskusi, saya diajari banyak hal mengenai matematika. Saat itu dia menjadi "tujuan" saya, saya ingin sekali mengejar iqbal dalam hal matematika. Kami beberapa kali mengikuti lomba matematika, entah itu penyisihan olimpiade sains nasional, matematika ria IPB, lomba sains UI dan lainya.
Saya agak menyesal tentunya di SMA dan setelah lulus SMA, karena saat di bangku SMP saya tidak pernah menemukan orang yang pandai di bidang matematika, ikut lomba atau kompetisi matematika dimanapun. Kalau saja saya bertemu orang seperti Iqbal lebih cepat, atau ikut lomba matematika, mungkin saya akan lebih terpacu untuk menggali matematika lebih dalam.
Setelah lulus SMA saya melanjutkan kuliah ke IPB (dan UI), lalu berangkat ke Jepang dengan beasiswa dari kampus saya di jepang (Tokyo University of Agriculture, biasa disingkat nodai). Saya masuk ke nodai jurusan international biobusiness.
Singkat cerita di dunia universitas saya sangat jauh dari matematika, tidak ada mata kuliah matematika (ada sebenarnya, tapi sangat dasar di jurusan saya). Ada yang saya gunakan sedikit, untuk penelitian di tingkat 4, juga saya gunakan sedikit untuk penelitian master dan doktoral saya. Bahkan banyak sekali matematika tingkat SMA yang saya lupa.
Setelah lulus doktoral, saya lanjut bekerja di bagian litbang sebuah perusahaan swasta di Jepang, dan celakanya di bagian numerical control, computer aided manufacturing unit. Di tempat saya bekerja saat ini sangat membutuhkan pemahaman matematika dan perangkat lunak, terutama aljabar, geometri, analisis numerik dan grafik komputer.
Setelah 9 tahun sangat jauh dari matematika, sekarang saya harus berkutat dengan matematika yang bukan level SMA. Gawatnya, matematika level SMA saja saya sudah banyak yang tidak ingat, baik logika ataupun pola pikirnya, ataupun teoremanya, bagaimana dengan ini. Saat ini genap sudah 2 tahun saya bekerja sebagai peneliti, dan dalam 2 tahun ini saya belajar banyak sekali mengenai geometri berbekal pola pikir dan logika matematika yang mulai hilang. Tapi dibandingkan dengan rekan-rekan saya di kantor, saya merasa level matematika saya masih sangat rendah. Masih banyak sekali persamaan persamaan matematika yang saya belum bisa pecahkan, hal teknis yang saya belum paham untuk tujuan penelitian saya saat ini.
Saya sangat menyesal, ketika saya kuliah saya tidak mempelajari matematika, padahal meskipun di jurusan saya tidak ada mata kuliah matematika, ada jurusan lain yang menyediakan mata kuliah matematika, saya juga semestinya bisa belajar matematika dari pembimbing saya selama S1 sampai S3, bukan hanya memakai sedikit matematika. Atau ada cara lain yang sangat fleksibel, google, MITopencourseware, dan sebagainya, saya tinggal melakukan pencarian untuk belajar matematika. Tapi sayangnya saya tidak melakukan itu, dan jauh dari dunia matematika yang saya senangi selama 9 tahun.
Semoga dengan penyesalan ini saya bisa menambah semangat saya untuk belajar lebih banyak mengenai matematika lagi, menemukan keindahan matematika lagi seperti saat saya masih kecil. Karena pada dasarnya saya semakin yakin bahwa matematika sangatlah penting, bukan hanya untuk pekerjaan saya sekarang, tapi juga untuk banyak hal seperti melatih logika, pola pikir, membuat algoritma, mengerjakan hal teknis, membuat permodelan, konsep probabilitas, memahami statistik, proses pengambilan keputusan dan lain sebagainya.
Ganbarimasu!
Itami,
Selasa, 10 Juli 2018
Mari Kita Ubah Fenomena Yang Beredar di Masyarakat: Membaca Bukanlah Hobi! Tapi Sebuah Kebiasaan
Tuesday, March 6, 2018
Mari Kita Ubah Fenomena Yang Beredar di Masyarakat: Membaca Bukanlah Hobi! Tapi Sebuah Kebiasaan
Ahir - ahir ini saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang jurnalis ternama bernama Elizabeth Pisani, yang berjudul "Apparently, 42% of young Indonesians are good for nothing". Membaca artikel tersebut membuat saya merasa sedih dan miris.
Dalam artikel tersebut Pisani menulis tentang siswa siswi Indonesia yang menuai hasil yang sangat buruk untuk tes PISA. Yakni tes mengenai matematika, sains dan kemampuan membaca yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) untuk siswa siswi berumur 15 tahun. Tentu saja PISA tes di Indonesia dtelah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.
Yang saya soroti dalam tes tersebut adalah kemampuan membaca siswa siswi Indonesia yang memilukan. Hasil dari PISA tes tahun 2015, 55% siswa siswi Indonesia tidak bisa mengenali gagasan utama dalam artikel, tidak bisa mengenali hubungan dalam artikel, ataupun tidak bisa membaca inti, makna dan konteks dalam artikel. Dengan kata lain, lebih dari setengah siswa siswi di Indonesia tidak buta huruf, namun tidak bisa membaca dengan baik, yakni tidak bisa mengerti arti dari sebuah artikel.
Yang lebih memilukan lagi, menurut saya fenomena ini tidak hanya terjadi pada siswa siswi Indonesia, tapi orang indonesia pada umumnya. Sebagai contoh, kita bisa melihat akun media sosial, sebutlah instagram, seorang influencer atau seseorang yang berjualan secara online. Bila kita membaca komentar komentar yang tertulis, banyak sekali akan kita dapatkan pertanyaan atau hujatan konyol. Misalnya, dalam deskripsi telah dituliskan harga, namun cukup banyak orang yang bertanya harga suatu produk tersebut (padahal telah dituliskan dengan jelas oleh si penjual).
Ataupun di suatu situs belanja online, saya pernah mendapati orang yang menjual sarung sebuah ponsel dan pada deskripsinya si penjual menuliskan dengan jelas bahwa yang ia jual adalah sarung ponsel, tapi ada beberapa hujatan di komentar yang menulis "kenapa barang yang datang setelah saya bayar hanya sarung ponsel, mana ponselnya?!".
Dari fenomena tersebut kita bisa mengetahui bahwa orang indonesia memang banyak yang tidak buta huruf tapi tidak bisa membaca dengan baik.
Asumsi saya orang yang aktif di media sosial atau pembelanja online adalah generasi muda. Generasi muda adalah harapan dan masa depan sebuah negara, apa jadinya jika mereka tidak bisa membaca dengan baik? Apa yang salah? Bagaimana cara memperbaiki kondisi tersebut?
Menurut saya salah satunya masalahnya adalah kalimat populer di Indonesia yang berbunyi "hobi saya membaca". Jika kita menanyakan hobi kepada orang Indonesia, tidak jarang yang menjawab "membaca". Hobi itu sendiri biasanya merupakan suatu aktifitas yang dilakukan pada waktu senggang. Dari hal ini kita juga bisa melihat bertapa jarangnya orang Indonesia membaca, karena membaca hanyalah aktifitas yang dilakukan sebagai hobi di waktu senggang.
Sementara di negara - negara maju, membaca adalah sebuah kebiasaan. Yakni aktifitas yang dilakukan bukan hanya dalam waktu senggang, tetapi memang sengaja disempatkan. Membaca merupakan kebiasaan yang dilakukan di negara maju sejak masa kanak kanak, yakni sejak SD dan SMP. Sehingga, kebiasaan membaca terpupuk dengan baik.
Menurut laporan survey yang dilakukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jepang tahun 2009, siswa siswi yang terbiasa membaca memiliki kemampuan akademis yang lebih tinggi dibanding yang kurang terbiasa membaca. Hal itu bisa dipahami karena menurut beberapa laporan lainya, banyak sekali keuntungan yang bisa didapat jika kita membiasakan diri kita untuk membaca. Diantaranya, dengan membaca kita dapat belajar untuk berkonsentrasi lebih baik, dapat mempelajari kosa kata yang baru, dapat menjadi lebih kreatif karena bisa berimajinasi lebih luas, dapat belajar berfikir secara logis, mendapatkan ide baru, serta tentunya kita dapat mengetahui sesuatu secara lebih mendalam dengan membaca suatu artikel.
Dukungan pemerintah merupakan hal yang penting untuk perkembangan kebiasaan membaca sejak kecil. Salah satu contoh yang bisa ditiru misalnya program "membaca setiap pagi" yang dicanangkan pemerintah Jepang untuk siswa siswi SD dan SMP. Hal ini dicanangkan pemerintah Jepang karena mereka sadar bahwa membaca dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak kecil, yang notabene adalah masadepan negara Jepang itu sendiri.
Membaca juga merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh orang sukses. Sebagai contoh, Bill Gates, pendiri Microsoft, yang notabene adalah seorang yang sangat sibuk terbiasa membaca 40 sampai 50 buku dalam setahun. Atau Mark Zuckerberg, seorang pendiri dan CEO Facebook yang membaca sebuah buku setiap dua minggu, atau sekitar 26 buku dalam setahun. Dan masih banyak contoh lainya yang bisa dituliskan, namun saya rasa contoh kedua orang diatas sudah cukup mewakili apa yang ingin saya utarakan.
Tentunya akan sangat baik jika kita merubah pola fikir dari "membaca adalah hobi" ke "membaca adalah kebiasaan". Mari membiasakan diri kita untuk membaca dari sekarang, dan mari kita ajak orang di sekeliling kita membiasakan diri untuk membaca.
Ramadhona Saville, PhD
TKI di Jepang
Ahir - ahir ini saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang jurnalis ternama bernama Elizabeth Pisani, yang berjudul "Apparently, 42% of young Indonesians are good for nothing". Membaca artikel tersebut membuat saya merasa sedih dan miris.
Dalam artikel tersebut Pisani menulis tentang siswa siswi Indonesia yang menuai hasil yang sangat buruk untuk tes PISA. Yakni tes mengenai matematika, sains dan kemampuan membaca yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) untuk siswa siswi berumur 15 tahun. Tentu saja PISA tes di Indonesia dtelah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.
Yang saya soroti dalam tes tersebut adalah kemampuan membaca siswa siswi Indonesia yang memilukan. Hasil dari PISA tes tahun 2015, 55% siswa siswi Indonesia tidak bisa mengenali gagasan utama dalam artikel, tidak bisa mengenali hubungan dalam artikel, ataupun tidak bisa membaca inti, makna dan konteks dalam artikel. Dengan kata lain, lebih dari setengah siswa siswi di Indonesia tidak buta huruf, namun tidak bisa membaca dengan baik, yakni tidak bisa mengerti arti dari sebuah artikel.
Yang lebih memilukan lagi, menurut saya fenomena ini tidak hanya terjadi pada siswa siswi Indonesia, tapi orang indonesia pada umumnya. Sebagai contoh, kita bisa melihat akun media sosial, sebutlah instagram, seorang influencer atau seseorang yang berjualan secara online. Bila kita membaca komentar komentar yang tertulis, banyak sekali akan kita dapatkan pertanyaan atau hujatan konyol. Misalnya, dalam deskripsi telah dituliskan harga, namun cukup banyak orang yang bertanya harga suatu produk tersebut (padahal telah dituliskan dengan jelas oleh si penjual).
Ataupun di suatu situs belanja online, saya pernah mendapati orang yang menjual sarung sebuah ponsel dan pada deskripsinya si penjual menuliskan dengan jelas bahwa yang ia jual adalah sarung ponsel, tapi ada beberapa hujatan di komentar yang menulis "kenapa barang yang datang setelah saya bayar hanya sarung ponsel, mana ponselnya?!".
Dari fenomena tersebut kita bisa mengetahui bahwa orang indonesia memang banyak yang tidak buta huruf tapi tidak bisa membaca dengan baik.
Asumsi saya orang yang aktif di media sosial atau pembelanja online adalah generasi muda. Generasi muda adalah harapan dan masa depan sebuah negara, apa jadinya jika mereka tidak bisa membaca dengan baik? Apa yang salah? Bagaimana cara memperbaiki kondisi tersebut?
Menurut saya salah satunya masalahnya adalah kalimat populer di Indonesia yang berbunyi "hobi saya membaca". Jika kita menanyakan hobi kepada orang Indonesia, tidak jarang yang menjawab "membaca". Hobi itu sendiri biasanya merupakan suatu aktifitas yang dilakukan pada waktu senggang. Dari hal ini kita juga bisa melihat bertapa jarangnya orang Indonesia membaca, karena membaca hanyalah aktifitas yang dilakukan sebagai hobi di waktu senggang.
Sementara di negara - negara maju, membaca adalah sebuah kebiasaan. Yakni aktifitas yang dilakukan bukan hanya dalam waktu senggang, tetapi memang sengaja disempatkan. Membaca merupakan kebiasaan yang dilakukan di negara maju sejak masa kanak kanak, yakni sejak SD dan SMP. Sehingga, kebiasaan membaca terpupuk dengan baik.
Menurut laporan survey yang dilakukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jepang tahun 2009, siswa siswi yang terbiasa membaca memiliki kemampuan akademis yang lebih tinggi dibanding yang kurang terbiasa membaca. Hal itu bisa dipahami karena menurut beberapa laporan lainya, banyak sekali keuntungan yang bisa didapat jika kita membiasakan diri kita untuk membaca. Diantaranya, dengan membaca kita dapat belajar untuk berkonsentrasi lebih baik, dapat mempelajari kosa kata yang baru, dapat menjadi lebih kreatif karena bisa berimajinasi lebih luas, dapat belajar berfikir secara logis, mendapatkan ide baru, serta tentunya kita dapat mengetahui sesuatu secara lebih mendalam dengan membaca suatu artikel.
Dukungan pemerintah merupakan hal yang penting untuk perkembangan kebiasaan membaca sejak kecil. Salah satu contoh yang bisa ditiru misalnya program "membaca setiap pagi" yang dicanangkan pemerintah Jepang untuk siswa siswi SD dan SMP. Hal ini dicanangkan pemerintah Jepang karena mereka sadar bahwa membaca dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak kecil, yang notabene adalah masadepan negara Jepang itu sendiri.
Membaca juga merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh orang sukses. Sebagai contoh, Bill Gates, pendiri Microsoft, yang notabene adalah seorang yang sangat sibuk terbiasa membaca 40 sampai 50 buku dalam setahun. Atau Mark Zuckerberg, seorang pendiri dan CEO Facebook yang membaca sebuah buku setiap dua minggu, atau sekitar 26 buku dalam setahun. Dan masih banyak contoh lainya yang bisa dituliskan, namun saya rasa contoh kedua orang diatas sudah cukup mewakili apa yang ingin saya utarakan.
Tentunya akan sangat baik jika kita merubah pola fikir dari "membaca adalah hobi" ke "membaca adalah kebiasaan". Mari membiasakan diri kita untuk membaca dari sekarang, dan mari kita ajak orang di sekeliling kita membiasakan diri untuk membaca.
Ramadhona Saville, PhD
TKI di Jepang
mengenai dunia penelitian di (LIPI) Indonesia
Thursday, December 14, 2017
Tempo hari saya mengobrol dengan abang saya mengenai pembelian microscope slide micrometer calibration untuk kepentingan penelitian
di LIPI menggunakan uang pribadi abang saya. Saya lantas mempertanyakan, "kenapa untuk penelitian
kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?".
Sebelum berceloteh lebih jauh, sepertinya perlu saya tuliskan disclaimer terlebih dahulu.
1. Saya paham dunia penelitian di indonesia memang unik.
2. Saya juga paham tidak semua kegiatan penelitian kantor harus menggunakan uang pribadi.
3. Hal yang sama (saya harap) tidak dialami oleh seluruh peneliti di Indonesia.
Cerita ini dimulai dari abang saya yang meminta tolong untuk dibelikan microscope slide micrometer calibration di ebay, dikirimkan ke alamat saya di Jepang dan ketika saya pulang ke Indonesia bisa saya berikan kepada abang saya. Abang saya minta tolong karena lebih banyak rintangan jika beli barang melalui ebay dan dikirimkan ke Indonesia. Misalnya, ditahan oleh beacukai, ataupun oleh kantor pos. Kebetulan jika beli slide yang diminta tolong itu, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Jepang dan tanggal kepulangan saya ke Indonesia, sangat mepet. Ada kemungkinan saya pulang tapi slide belum sampai ke alamat saya.
Saya coba untuk mencarikan slide yang mirip di Jepang. Tapi ternyata harganya berbeda jauh, produk Jepang jauh lebih mahal dari produk yang ada di ebay itu. Lalu saya tawarkan untuk beli produk Jepang ke abang saya, tapi ternyata abang saya tidak jadi beli. Dia bilang, terlalu mahal, karena dia mau beli pakai uang pribadi. Disitu saya mempertanyakan, kenapa untuk beli alat penelitian kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?. Ketika mengobrol di kesempatan lain dengan abang saya, banyak rintangan yang ada di LIPI. Contoh lainya, di ruangan abang saya ada komputer, tapi sudah uzur, lamban sekali. Lagi-lagi abang saya berencana untuk beli komputer menggunakan uang pribadi. Sebagai seorang peneliti juga, saya merasa agak kaget. Sekarang tahun 2017, komputer merupakan salah satu alat paling krusial bagi peneliti masa kini. Hal paling sederhana, kita harus menulis paper ataupun patent, atau produk penelitian lainya di komputer. Hal lain, komputer juga adalah alat yang sangat diandalkan untuk menganalisa data, membuat simulasi dan lain lain. Dengan ke tidak tersediaan alat paling krusial, bagaimana peneliti bisa penelitian dengan maksimal?
Contoh rintangan lainya, koneksi internet yang sangat lamban. Jaman sekarang pun internet sangat dibutuhkan untuk para peneliti. Sebut saja pencarian referensi literatur untuk penelitian, data, informasi dan lain lain. Sama dengan komputer, bagaimana peneliti bisa penelitian dengan maksimal?
Salah satu contoh lain adalah telpon yang hanya bisa dipakai untuk antar ruangan. Telpon yang bisa terhubung dengan dunia luar lipi ada salah satunya di ruangan sekertaris. Lagi-lagi saya mempertanyakan, kenapa cuma ada di ruang sekertaris? Saya rasa peneliti pun sangat butuh telpon, untuk komunikasi dengan pihak luar LIPI misalnya. Apa semua harus dengan email, atau harus ke ruangan sekertaris. Memang itu salah satu tindakan preventif supaya tidak disalah gunakan. Tapi jika ini alasanya, terlalu berlebihan. Juga kalau begitu kenapa tidak menggunakan IP phone? Meskipun disalah gunakan, biayanya murah sekali jika menggunakan IP phone. Bahkan kantor sebelah LIPI yang sama sama lembaga pemerintan, BKPM, sudah sejak lama pakai IP Phone. Untungnya abang saya tidak berfikir untuk beli IP phone sendiri.
Dengan titel lembaga penelitian terbesar di Indonesia, lumrah jika banyak orang yang berfikir, LIPI adalah tempat dengan banyak teknologi terbaru. Saya salah satu yang berfikir seperti itu juga. Ternyata tidak demikian adanya. Bukanya saya ingin menjelek-jelekan nama LIPI. Tapi, bagaimana bisa lembaga penelitian terbesar di Indonesia sekelas LIPI ternyata seperti itu. Saya pun mempertanyakan, bagaimana dunia penelitian di Indonesia mau maju pesat jika lembaga sekaliber LIPI ternyata seperti itu. Bukankah LIPI seharusnya yang menjadi pionir penelitian di Indonesia?
Sebagai sesama peneliti juga saya selalu dididik untuk tidak menggunakan uang pribadi untuk urusan kerjaan kantor. Makanya, saya merasa ada yang unik dari kasus mengenai LIPI ini. Sejak kuliah, professor saya mendidik saya untuk sebisa mungkin tidak menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kampus. Setelah bekerja sebagai peneliti di perusahaan swasta pun kantor saya melarang untuk menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kantor. Kantor saya jauh dari kantor yang sempurna, beberapa kali terkena kasus dan sampai sekarang banyak yang bilang bahwa kantor saya termasuk "Black Company" karena beberapa kali diangkat media soal kasus bunuh diri karyawan karena stress masalah kerjaan ataupun kasus karyawan yang depresi dan harus dirawat dirumah sakit ataupun oleh psikolog. Kantor saya juga bahkan terkesan agak pelit untuk urusan keuangan. Tapi kantor saya mengerti esensi penelitian, penelitian adalah sebuah investasi yang sangat penting untuk menghasilkan produk inovatif berkualitas tinggi. Produk dari hasil investasi itu lah yang akan dijual untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang pada ahirnya akan menggerakan perekonomian kantor.
Begitu pula dengan negara-negara maju. Saya ambil Contoh Jepang, karena kebetulan saya kuliah, hidup dan tinggal di Jepang. Saat ini jepang menganggarkan dana riset sebesar 3.6% dari PDB sementara Indonesia 0.2%. Oke memang banyak yang berfikir, Jepang negara maju, punya uang cukup untuk penelitian. Tapi, kita lihat sejarahnya, tahun 1945 Jepang hancur berantakan kalah PD 2. 2 kota besarnya di bom. Uang banyak terpakai untuk perang, kesengsaraan, kemiskinan, kekurangan gizi, banyak yang meninggal dipinggir jalan. Di saat kritis ini pemerintah Jepang, universitas, perusahaan swasta tetap berusaha menggalakkan penelitian dan pendidikan karena mereka sadar bahwa penelitian adalah salah satu investasi paling penting. Hasilnya, banyak sekali universitas, lembaga riset, perusahaan swasta di Jepang memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi dalam bidang penelitian, ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak lupa mengenai tingkat ekonomi Jepang saat ini, GDP Jepang mencapai 39.000 USD.
Salah satu contoh lain adalah Jerman. Saya belum pernah merasakan tinggal di Jerman, tapi saya sedikit banyak bisa baca data. Jerman pun sama, kalah PD 2, kondisi jerman tidak jauh dari Jepang. Tapi sekarang bahkan GDP Jerman berada diatas Jepang, yakni 42.000 USD. Sama seperti Jepang, banyak sekali universitas, lembaga riset, perusahaan swasta di Jerman yang memiliki tingkat kredibilitas yang sangat tinggi. Semua itu bisa dicapai karena Jepang dan Jerman memiliki kesamaan. Lagi-lagi, menggalakan penelitian dan pendidikan. Masih banyak sekali contoh yang bisa saya tuliskan disini, tapi ilustrasi kantor saya dan 2 negara maju yang dulu kalah PD 2, hancur lebur berantakan itu saya rasa sudah cukup mewaliki apa yang mau saya utarakan dalam tulisan ini. Dari beberapa contoh yang saya utarakan, dapat disimpulkan bahwa riset dan pendidikan merupakan investasi yang sangat menguntungkan untuk masa depan, baik untuk perekonomian ataupun untuk dunia pendidikan suatu negara ataupun organisasi.
Memang banyak faktor yang jadi alasan LIPI seperti itu, misalnya seperti yang ada di press release LIPI sendiri. Pemerintah pusat punya andil besar juga dalam hal ini. Saya juga sedikit paham bahwa dana suatu lembaga pemerintah ditentukan oleh DPR, MPR dan pemerintah pusat. Sudah bukan rahasia lagi bahwa cara lembaga pemerintah untuk mendapatkan dana yang lebih banyak adalah dengan melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat. Saya hanya bisa menduga, ada kemungkinan bahwa pejabat LIPI belum berhasil melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat untuk mendapatkan dana yang lebih banyak, bahkan sampai dipangkas. Saya yakin LIPI sudah dan sedang berusaha untuk menaikan dana untuk LIPI.
Semoga petinggi LIPI bisa melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat agar dana untuk LIPI lebih banyak. Yang tidak ketinggalan, semoga DPR, MPR dan pemerintah pusat juga pemerintah pusat mau berfikir dan mengerti seperti perusahaan swasta atau negara maju lainya, bahwa penelitian adalah salah satu investasi yang sangat penting untuk menggerakan ekonomi Indonesia.
Lewat tulisan ini juga saya ingin mengapresiasi abang saya. Respect untuk abang saya. Abang saya tetap berusaha bekerja melakukan penelitian yang notabene pekerjaan kantor meskipun menggunakan uang pribadinya. Kalau saya yang berada dalam posisi itu, mungkin saya sudah "tidak sreg" dan mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.
Itami, 12 Desember 2017
TKI di Jepang,
Ramadhona Saville, PhD.
di LIPI menggunakan uang pribadi abang saya. Saya lantas mempertanyakan, "kenapa untuk penelitian
kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?".
Sebelum berceloteh lebih jauh, sepertinya perlu saya tuliskan disclaimer terlebih dahulu.
1. Saya paham dunia penelitian di indonesia memang unik.
2. Saya juga paham tidak semua kegiatan penelitian kantor harus menggunakan uang pribadi.
3. Hal yang sama (saya harap) tidak dialami oleh seluruh peneliti di Indonesia.
Cerita ini dimulai dari abang saya yang meminta tolong untuk dibelikan microscope slide micrometer calibration di ebay, dikirimkan ke alamat saya di Jepang dan ketika saya pulang ke Indonesia bisa saya berikan kepada abang saya. Abang saya minta tolong karena lebih banyak rintangan jika beli barang melalui ebay dan dikirimkan ke Indonesia. Misalnya, ditahan oleh beacukai, ataupun oleh kantor pos. Kebetulan jika beli slide yang diminta tolong itu, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Jepang dan tanggal kepulangan saya ke Indonesia, sangat mepet. Ada kemungkinan saya pulang tapi slide belum sampai ke alamat saya.
Saya coba untuk mencarikan slide yang mirip di Jepang. Tapi ternyata harganya berbeda jauh, produk Jepang jauh lebih mahal dari produk yang ada di ebay itu. Lalu saya tawarkan untuk beli produk Jepang ke abang saya, tapi ternyata abang saya tidak jadi beli. Dia bilang, terlalu mahal, karena dia mau beli pakai uang pribadi. Disitu saya mempertanyakan, kenapa untuk beli alat penelitian kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?. Ketika mengobrol di kesempatan lain dengan abang saya, banyak rintangan yang ada di LIPI. Contoh lainya, di ruangan abang saya ada komputer, tapi sudah uzur, lamban sekali. Lagi-lagi abang saya berencana untuk beli komputer menggunakan uang pribadi. Sebagai seorang peneliti juga, saya merasa agak kaget. Sekarang tahun 2017, komputer merupakan salah satu alat paling krusial bagi peneliti masa kini. Hal paling sederhana, kita harus menulis paper ataupun patent, atau produk penelitian lainya di komputer. Hal lain, komputer juga adalah alat yang sangat diandalkan untuk menganalisa data, membuat simulasi dan lain lain. Dengan ke tidak tersediaan alat paling krusial, bagaimana peneliti bisa penelitian dengan maksimal?
Contoh rintangan lainya, koneksi internet yang sangat lamban. Jaman sekarang pun internet sangat dibutuhkan untuk para peneliti. Sebut saja pencarian referensi literatur untuk penelitian, data, informasi dan lain lain. Sama dengan komputer, bagaimana peneliti bisa penelitian dengan maksimal?
Salah satu contoh lain adalah telpon yang hanya bisa dipakai untuk antar ruangan. Telpon yang bisa terhubung dengan dunia luar lipi ada salah satunya di ruangan sekertaris. Lagi-lagi saya mempertanyakan, kenapa cuma ada di ruang sekertaris? Saya rasa peneliti pun sangat butuh telpon, untuk komunikasi dengan pihak luar LIPI misalnya. Apa semua harus dengan email, atau harus ke ruangan sekertaris. Memang itu salah satu tindakan preventif supaya tidak disalah gunakan. Tapi jika ini alasanya, terlalu berlebihan. Juga kalau begitu kenapa tidak menggunakan IP phone? Meskipun disalah gunakan, biayanya murah sekali jika menggunakan IP phone. Bahkan kantor sebelah LIPI yang sama sama lembaga pemerintan, BKPM, sudah sejak lama pakai IP Phone. Untungnya abang saya tidak berfikir untuk beli IP phone sendiri.
Dengan titel lembaga penelitian terbesar di Indonesia, lumrah jika banyak orang yang berfikir, LIPI adalah tempat dengan banyak teknologi terbaru. Saya salah satu yang berfikir seperti itu juga. Ternyata tidak demikian adanya. Bukanya saya ingin menjelek-jelekan nama LIPI. Tapi, bagaimana bisa lembaga penelitian terbesar di Indonesia sekelas LIPI ternyata seperti itu. Saya pun mempertanyakan, bagaimana dunia penelitian di Indonesia mau maju pesat jika lembaga sekaliber LIPI ternyata seperti itu. Bukankah LIPI seharusnya yang menjadi pionir penelitian di Indonesia?
Sebagai sesama peneliti juga saya selalu dididik untuk tidak menggunakan uang pribadi untuk urusan kerjaan kantor. Makanya, saya merasa ada yang unik dari kasus mengenai LIPI ini. Sejak kuliah, professor saya mendidik saya untuk sebisa mungkin tidak menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kampus. Setelah bekerja sebagai peneliti di perusahaan swasta pun kantor saya melarang untuk menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kantor. Kantor saya jauh dari kantor yang sempurna, beberapa kali terkena kasus dan sampai sekarang banyak yang bilang bahwa kantor saya termasuk "Black Company"
Begitu pula dengan negara-negara maju. Saya ambil Contoh Jepang, karena kebetulan saya kuliah, hidup dan tinggal di Jepang. Saat ini jepang menganggarkan dana riset sebesar 3.6% dari PDB
Salah satu contoh lain adalah Jerman. Saya belum pernah merasakan tinggal di Jerman, tapi saya sedikit banyak bisa baca data. Jerman pun sama, kalah PD 2, kondisi jerman tidak jauh dari Jepang. Tapi sekarang bahkan GDP Jerman berada diatas Jepang, yakni 42.000 USD. Sama seperti Jepang, banyak sekali universitas, lembaga riset, perusahaan swasta di Jerman yang memiliki tingkat kredibilitas yang sangat tinggi. Semua itu bisa dicapai karena Jepang dan Jerman memiliki kesamaan. Lagi-lagi, menggalakan penelitian dan pendidikan. Masih banyak sekali contoh yang bisa saya tuliskan disini, tapi ilustrasi kantor saya dan 2 negara maju yang dulu kalah PD 2, hancur lebur berantakan itu saya rasa sudah cukup mewaliki apa yang mau saya utarakan dalam tulisan ini. Dari beberapa contoh yang saya utarakan, dapat disimpulkan bahwa riset dan pendidikan merupakan investasi yang sangat menguntungkan untuk masa depan, baik untuk perekonomian ataupun untuk dunia pendidikan
Memang banyak faktor yang jadi alasan LIPI seperti itu, misalnya seperti yang ada di press release LIPI sendiri
Semoga petinggi LIPI bisa melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat agar dana untuk LIPI lebih banyak. Yang tidak ketinggalan, semoga DPR, MPR dan pemerintah pusat juga pemerintah pusat mau berfikir dan mengerti seperti perusahaan swasta atau negara maju lainya, bahwa penelitian adalah salah satu investasi yang sangat penting untuk menggerakan ekonomi Indonesia.
Lewat tulisan ini juga saya ingin mengapresiasi abang saya. Respect untuk abang saya. Abang saya tetap berusaha bekerja melakukan penelitian yang notabene pekerjaan kantor meskipun menggunakan uang pribadinya. Kalau saya yang berada dalam posisi itu, mungkin saya sudah "tidak sreg" dan mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.
Itami, 12 Desember 2017
Labels:
happening,
indonesian,
people,
personal,
thought
インドネシアにおける問題
Thursday, June 22, 2017
インドネシアにおける問題から新たなアイデアがあるかもしれないため、リストアップいたしました。
・毎年の洪水(特に首都のジャカルタ)
・地震
・自然災害(地震、火山、等)
・自然災害の警告システム
・天気予報システム
・電力不足
・停電
・インフラ不足
・道路工事していても数週間後またすぐに壊れる
・違法住宅
・都市における川の汚染
・河川の狭窄
・渋滞
・汚職
・マラリア
・デング出血熱
・遠隔地の医者不足(当然診療所/病院不足となる)
・医療価格が高い
・未成年によるタバコ問題
・遠隔地の学校と教師不足
・貧困
・詐欺
・教育の低品質
・失業
・未成年によるタバコの問題
・ゆすり
・強盗
・著作権侵害
・森林伐採
・違法伐採
・森林火災
・都市化
・農業の生産性が低い
・農業による環境汚染
・作付け面積がわからない(マップがない)
・ネズミによる農業被害
・魚養殖による環境汚染
・養殖の魚の大量死
・サンゴの白化
・海洋ゴミ
・海洋の環境汚染
・外国漁船による違法漁業
・エビ養殖場所の汚染問題
・絶滅危惧動物の密猟
・...
Opini terhadap persaingan kereta cepat di Indonesia dan dampaknya
Thursday, October 8, 2015
Sebelum melangkah lebih jauh mari kita lihat perjalanan proyek kereta cepat di Indonesia
Tahun 2008 Jepang mulai melakukan feasibility study untuk kereta cepat di Indonesia. Dilanjutkan tahun 2011, dimana SBY membuat pengumuman untuk mencanangkan pembuatan kereta cepat di Indonesia. Saat itu pemerintah Jepang menyatakan bahwa proyek kereta cepat akan ditangani sebagai proyek kenegaraan. Pada 2013 silam, Jepang, digalangi oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) mulai mengadakan feasibility study yang lebih serius untuk Kereta cepat Jakarta-Surabaya. Setalah pergantian presiden di tahun 2014, pemerintahan baru membuka tender untuk proyek kereta cepat. Tender tersebut tentu saja diikuti oleh pihak Jepang, dan Cina.
Di awal September 2015, ada berita yang cukup mengejutkan, yakni penundaan tender. Jokowi menyatakan ketidak inginannya untuk memakai APBN untuk proyek tersebut dan ingin membuatnya menjadi proyek dengan basis B to B (Business-to-Business) bukan dengan basis G to G (Government to-Government). Dia juga menyatakan bahwa kereta cepat tidak dibutuhkan, yang dibutuhkan adalah kereta berkecepatan sedang.
Namun beberapa hari setelahnya ada berita yang lebih mengejutkan, yakni diterimanya proposal kereta cepat pihak Cina. Persaingan kereta cepat Cina dan Jepang ahirnya dimenagi oleh pihak Cina.
Untuk itu saya menghimpun hal terkait proyek tersebut, mari kita lihat sedikit lebih dalam.
Dalam proposal Jepang menyatakan bahwa dana yang dipakai untuk proyek tersebut merupakan dana ODA (Official Development Assistance). Total biaya 5 milyar dolar, dengan 75% dari dana tersebut merupakan pinjaman lunak dengan bunga 0.1%. Jepang menjanjikan tingkat keamanan maksimal yang sama dengan Shinkansen, dengan menggunakan teknologi energy saving system. Pihak Jepang menjanjikan bahwa pada tahun 2021 proyek tersebut akan rampung.
Dilain pihak, Cina mengusulkan proyek dengan dana 6 miliar dolar, dengan 100% dari dana tersebut harus dibayar dengan bunga 2%. Sementara pihak Cina menjanjikan cepatnya masa pengerjaan proyek. Cina menjanjikan bahwa pada tahun 2018 proyek tersebut akan rampung.
Dari data yang saya himpun terlihat bahwa biaya yang diusulkan Cina lebih mahal sekitar 20% dari yang diusulkan Jepang. Selain itu, Jumlah total yang harus dibayar dengan bunga pun demikian. Sekarang mari kita lihat dari jangka waktu pembangunan. Pihak Cina menawarkan masa pembangunan 3 tahun lebih cepat dari pihak Jepang.
Setelah mempertimbangkan hal diatas, pemerintah Indonesia mengatakan bahwa usulan pihak Cina lebih baik karena tidak perlu memakai dana APBN.
Namun apakah demikian?
Kita mengetahui bahwa dana yang akan dipakai oleh Cina bukan merupakan APBN, namun sedikitnya Indonesia tetap harus mengembalikan dari hasil tiket selama 42 tahun lamanya.
Selain itu, mari kita melihat kilas balik pembangunan PLTU yang dilakukan pihak Cina. Pihak Cina memang menjanjikan gratis, tapi ternyata buku manual semua dalam bahasa Cina, akhirnya dioperasikan semua oleh pihak Cina, dengan sistem leasing ke Indonesia. Usut punya diusut ternyata manual memang tidak diperkenankan untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Jika proyek G to G saja begitu, bagaimana dengan B to B? Artinya pemerintah tidak bisa ikut campur lebih dalam. Mungkin jika Jepang yang mendapatkan proyek tersebut juga akan melakukan hal yang sama. Tapi saya rasa tidak akan begitu jika yang digunakan adalah public funding.
Semoga kejadian di PLTU tidak terjadi dalam pembangunan kereta cepat. Jika hal itu terjadi, bisa jadi insinyur, operator dan bahkan masinis didatangkan dari Cina. Besar kemungkinan bahwa pihak indonesia hanya akan menjadi buruh di bisnis kereta cepat tersebut, sebut saja pengecek tiket kereta, penjual tiket di loket, penjaga pintu masuk kereta dan petugas kebersihan.
Jika melihat dari masa pengerjaan proyek, yang dijanjikan Cina rampung pada tahun 2018, rasanya juga akan sangat sulit bagi Cina untuk memenuhi janjinya. Saya paham bahwa bukanlah insinyur yang pantas untuk berkata demikian. Namun mari kita lihat proyek MRT di Jakarta, apakah cukup menyelesaikanya dalam waktu 2 tahun? Jika MRT memakan waktu lebih dari 2 tahun bagaimana dengan kereta cepat yang notabene membutuhkan tingkat kontrol yang lebih sulit serta akurasi dan presisi yang jauh lebih tinggi? Jikalau 2 tahun memang memungkinkan, besar kemungkinan bahwa tingkat keamanan pada kereta cepat akan berada jauh dari standar yang seharusnya.
Selain itu, jika melihat track record proyek kereta cina di luar negri, kejadian yang terhangat adalah kereta di Filipina. Pihak Cina menjanjikan akan menyelesaikan proyek tersebut di tahun 2007, namun molor menjadi 2012. Bahkan di tahun 2012 pun proyek tersebut belum selesai dan ahirnya ditunda setelah terjadinya kasus sehingga harus dihentikan Mahkamah Agung Filipina. Dan di tahun 2015 pemerintah Filipina meminta bantuan Jepang untuk menyelesaikan proyek yang tertunda tersebut.
Dampak di masa depan
Banyak pengamat hubungan internasional yang mengatakan bahwa dampat kejadian tersebut dapat mempengaruhi hubungan bisnis dan politik Indonesia dan Jepang di masa depan.
dari hasil tersebut, Menteri Sekertaris kabinet (Mensekab) Jepang merasa sangat kecewa karena segala jerih payah, tenaga, waktu dan biaya untuk feasibility study yang mereka lakukan sejak pemerintahan SBY gagal begitu saja. Namun sepertinya tidak hanya Mensekab Jepang saja yang merasa kecewa dan terpukul, sebut saja Nikkei, NHK, stasiun-stasiun televisi di Jepang dan media masa lainya di Jepang. Berita kekecewaan kerap kali mewarnai media-media masa di Jepang.
Saat ini, Jepang merupakan donor nomor 1 untuk bantuan keuangan kumulatif, termasuk ODA dan dana dari ADB (Asian Development Bank). Tidak pula dapat kita pungkiri bahwa Indonesia sangatlah membutuhkan bantuan keuangan kumulatif. Pernahkah terbayang oleh kita jika kita dipersulit untuk mendapatkan bantuan tersebut setelah adanya kejadian tender kereta cepat?
Dari pengalaman saya selama di Jepang, Jika pemerintah Jepang kecewa, hal tersebut akan menimbulkan efek domino, yakni turut kecewanya perusahaan-perusahaan Jepang. Hal tersebut telah ditandai dengan adanya kekecewaan di media-media masa terhadap pemerintahan Indonesia. Pernahkah pula terfikirkan jika investasi perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di indonesia makin sedikit, dan memindahkan pabriknya ke Vietnam atau Kamboja? Bagaimana dengan jutaan pekerjanya?
Yang harus dilakukan
Peran pemerintah akan menjadi faktor penting dalam menghadapi kemungkinan yang ada. Pemerintah harus tetap menjalankan keputusan yang telah dibuat, serta tidak berlaku lembek terhadap Cina jika masa pembangunan molor dan tidak sesuai perjanjian.
Setelah Kejadian ini, pemerintah harus berupaya menjalin kerjasama yang baik dengan Jepang di sektor lain untuk memperbaiki hubungan yang telah rapuh. Misalnya di bidang energi dan pembangkit listrik, infrastruktur seperti pelabuhan dan jalan, bidang pendidikan dan sains, serta industri primer, seperti pertanian dan perikanan.
Selain itu, kita sebagai warga negara yang baik berkewajiban juga untuk terus mengawal keputusan yang telah dilakukan pemerintah agar sesuai dengan perencanaan yang telah dilakukan.
Tokyo, 2 Oktober 2015
Ramadhona Saville
PhD candidate
International Bio-business Studies
Tokyo University of Agriculture
Subscribe to:
Posts (Atom)
