Monday, May 14, 2018

Cara belajar bahasa yang efektif versi saya

Selama tinggal di Jepang sejak April 2007 sampai sekarang (sampai sekarang baru 11 tahun), berikut ini adalah cara yang saya lakukan untuk belajar bahasa Jepang secara efektif.
Cara seperti dibawah ini (selain membaca komik) saya rasa juga bisa diterapkan untuk belajar bahasa lain, seperti bahasa inggris dan sebagainya.

1. Nonton acara tv berbahasa Jepang.
Jangan lupa aktifkan subtitle bahasa Jepang, mengenai setting, masing masing tv atau komputer berbeda, silahkan gunakan google untuk mencari setting yang tepat untuk tv atau komputer anda.
Nonton tv sangat berguna untuk melatih kebiasaan mendengarkan percakapan bahasa Jepang. Selain pendengaran, tv disertai visual yang dapat membuat kita lebih mengerti mengenai penggunaan kosa kata atau arti dari kosa kata yang dipakai.

2. Baca komik berbahasa Jepang yang ada "furigana-cara baca kanji dalam hiragana biasanya".
Baca komik juga merupakan cara yang sangat baik untuk membantu kita menghafal dan menggunakan kanji tertentu. Dengan membaca komik, kita juga dapat meningkatkan kecepatan membaca kita.
Selain untuk menghafal cara membaca kanji, membaca komik pun dapat membantu kita untuk lebih mengerti cara pakai suatu kosa kata, karena komik dilengkapi dengan gambar.

3. Berteman dengan orang Jepang.
Ini juga salah satu cara paling efektif untuk belajar bahasa Jepang, untuk mendengar dan berkomunikasi. Pada dasarnya menurut saya, bahasa adalah suatu alat komunikasi, menulis dan membaca memang penting, tapi kita jangan sampai melupakan cara komunikasi manusia yang paling umum, yaitu mengobrol.
Ini tantangan yang lumayan sulit, karena orang Jepang pada dasarnya kurang bersosialisasi dengan orang di sekitarnya, terutama di kota besar.

4. Tulis kosa kata baru yang kita dapat dalam memo.
Targetkan 1 hari tidak lebih dari 5 kosa kata baru, kalau lebih bisa cepat lupa.
Selalu sedia buku memo dan pensil di kantong, jadi saat kita menemukan kosa kata baru, bisa langsung kita tulis. 

5. Tidak malu saat salah.
Tidak malu malu kalau salah tatanan bahasa Jepang yang kita gunakan, justru dengan salah, bisa diperbaiki dan akan belajar untuk tidak mengulangi salah yang kita buat.
Ini hal yang paling umum dilalui, salah pemakaian kosa kata atau salah tatanan bahasa Jepang, banyak orag yang malu ketika salah. Jika kita berteman dengan orang Jepang, selalu ingatkan dia untuk membantu kita, "jika bahasa jepang saya salah, langsung dikoreksi ya!". Dengan bantuan tersebut, kita akan ingat bahwa kita pernah membuat salah, sehingga tidak akan mengulangi salah yang sama.

Sunday, April 29, 2018

Mencari kerja di Jepang, Gambaran Umum ♯1

Hari ini saya mengobrol dengan salah satu teman saya yang sedang mencari pekerjaan di Jepang.
Hal itu membuat saya mengingat kembali proses pencarian kerja saya beberapa tahun silam.
Pada 2015 Maret saya mulai mencari pekerjaan di Jepang, saat itu saya sedang menempuh program doktor tahun ke 2.

Timing
Sistem pencarian kerja di Jepang bagi yang berkuliah di Jepang adalah mencari pekerjaan setahun sebelum rencana kelulusan. Misalnya, rencana lulus doktor saya adalah taun 2016, maka saya sebaiknya mencari pekerjaan sejak tahun 2015.
Saya juga memulai pencarian kerja sejak Maret bukan tanpa alasan, namun karena pada bulan maret lah mulai diadakan job hunting seminar (就職活動セミナー) atau joint job fair (合同説明会). Biasanya job hunting atau job fair diadakan saat masih "dingin" mulai Januari sampai Maret.

Job Hunting Seminar
Pada seminar ini biasanya kita diberitau mengenai tata cara mencari pekerjaan di Jepang, jadwal pencarian kerja di Jepang dan mengenai pengetahuan dasar pencarian kerja di Jepang. Misalnya,
-timing job fair (Februari-Mei),
-mengajak kita berfikir dan memfokuskan untuk membatasi industri yang kita tuju, apakah itu industri manufaktur, industri makanan, jasa ataupun lainya, ataupun perusahaan sfesifik yang dituju
-kapan sebaiknya mendaftar di website perusahaan yang dituju (Februari-Mei),
-timing mengirimkan entry sheet (berikutnya disingkat ES, Februari-Juni),
-timing wawancara (April-Agustus),
-timing mendapatkan job offer (Agustus-Februari)
Namun tentu saja timing yang saya tulis diatas adalah timing rata-rata di jepang, tidaklah mutlak, tiap perusahaan bisa jadi berbeda.
Pada seminar tersebut biasanya juga diajarkan untuk pertama kali menuliskan ES atau CV (履歴書).
*note: saya memilih perusahaan agen pencarian kerja (人材派遣会社) yang relatif tidak terlalu besar, karena biasanya perusahaan yang tidak terlalu besar informasihnya tepat sasaran, dan setiap pencari kerja biasanya di"bantu" oleh satu orang staff agar bisa membantu kita mengeck ES, CV, ataupun latihan wawancara.
Biasanya perusahaan besar seperti Rikunavi atau Mynavi, memberi info yang terlalu banyak, membuat kita pencari kerja bingung sendiri, selain itu tidak ada staff yang membantu kita mengecekkan ES, CV, apalagi latihan wawancara.

Joint Job Fair (Februari-Mei)
Joint job fair merupakan acara yang menarik bagi pencari kerja, karena pada kesempatan ini, dalam 1 aula besar ada banyak perusahaan-perusahaan yang membuka stan, menjelaskan mengenai perusahaan mereka dan ada sesi tanya jawab singkat setelah diadakan penjelasan.
Tahun 2015 saya menyempatkan diri mendatangi beberapa joint job fair misalnya
-joint job fair Rakuten (untuk seluruh mahasiswa yang ada di Jepang)
-joint job fair Global Leader (khusus untuk orang asing di jepang)
-joint job fair AYNJ (khusus untuk warga negara ASEAN atau yang tertarik bekerja yang berhubungan dengan ASEAN)
Dan beberapa joint job fair lainya.
Di saat ini lah kita bisa mencari informasi sebanyak banyaknya mengenai perusahaan-perusahaan yang ada di Jepang, juga bisa bertanya apa saja. Saat ini lah kita bisa mulai memfokuskan industri yang kita tuju untuk bekerja di masa depan. Di saat itu pun saya baru "ngeh" kalau perusahaan yang belum pernah saya dengar sebelumnya pun banyak sekali yang menarik dan faktanya merupakan perusahaan yang sangat besar. Misalnya mitsubishi electric corporation (melco), sampai saat itu saya hanya tau mitsubishi sebagai merek mobil, tapi faktanya melco bukan merupakan anak perusahaan dari mitsubishi motor (pembuat mobil), mereka perusahaan yang berbeda. Ternyata melco jika diperhatikan lebih baik ada dimana mana mulai dari tv, rice cooker, kulkas, lift, eskalator, sampai satelit, namun namanya baru saya dengar saat joint job fair.
Saya saat itu memutuskan untuk memfokuskan mencari pekerjaan di bidang manufaktur, lebih konkretnya di bagian litbang. Alasanya? karena menurut saya industri manufaktur itu menarik, dan merupakan salah satu industri kebanggan Jepang, saya bisa belajar banyak dari situ. Litbang saya pilih karena juga litbang merupakan salah satu kelebihan Jepang, Jepang memiliki kekuatan riset yang baik baik di dunia akademik maupun di perusahaan swasta, lagi lagi saya bisa belajar banyak dari situ.

Job Fair Spesifik Perusahaan (企業別説明会)
Setelah mengikuti beberapa kali joint job fair saya mulai bisa memetakan perusahaan yang saya tertarik. jika perusahaan itu merupaka perusahaan besar, biasanya mereka mengadakan job fair khusus untuk perusahaan itu. Misalnya panasonic, hitachi, melco dan lainya. Pada saat ini biasanya diadakan di dalam 1 aula yang terdapat stan departemen departemen perusahaan tersebut mulai dari stan litbang, marketing, patent dan copyright, produksi, sampai ke stan anak perusahaan. Saat itu, biasanya juga ada staff perusahaan yang ada di tiap stan yang akan membagi pengalaman kerja mereka di departemen yang bersangkutan. Disini kita dapat mengetahui informasi pekerjaan di departemen yang kita tuju dan bertanya mengenai apapun mengenai itu.

Melamar Kerja
Melamar kerja disini biasanya mengirimkan ES, saat ini banyak perusahaan yang memiliki sistem online untuk memasukan ES. Setelah itu biasanya ada tes kemempuan dasar (SPI) dan psikotes yang harus kita lewati.
Biasanya bahasa Jepang, meskipun saat ini saya dengar sudah banyak perusahaan yang mengadakan tes ini dalam bahasa inggris.
Jangan hawatir dengan bahasa jepang, bisa menjawab SPI setengah saja sudah bagus untuk kita yang bukan native.
*note: Kalau tidak tau jawabanya atau waktunya habis, pilih saja jawaban yang sama untuk semua pertanyaan yang kita tidak bisa jawab, kalau saya selalu menjawab [b] untuk semua pertanyaan yang saya tidak bisa jawab.

Wawancara (April-Agustus)
Setelah mengirimkan ES dan melakukan tes, biasanya di website ada pemberitauan apakah kita lolos ke tahap wawancara atau tidak. Biasanya jika lolos ke tahap wawancara, akan ada rata-rata 2x wawancara sampai kita mendapatkan job offer. pertama tama wawancara oleh staff HRD, dan kedua biasanya dengan sekelas manager/bahkan direktur di departemen yang kita tuju. 
Ada beberapa jenis wawancara dalam melakukan pencarian kerja di Jepang, yang saya tau,
-focus group discussion (fgd), pada fgd kita akan dibuatkan grup kecil sekitar 4-6 orang, ditambah ada penilai dari perusahaan. Biasanya grup kita akan dihadapkan pada suatu masalah yang disajikan oleh tim penilai, setelah itu cara kita bekerja dalam tim akan dinilai.
-Makan-makan, ini merupakan salah satu jenis wawancara terselubung, tidak banyak perusahaan yang melakukan tipe wawancara seperti ini, tapi ini benar-benar ada. biasanya kita diundang untuk datang ke sebuah aula yang telah di set untuk berpesta, kita diberikan nomor meja di gabung dengan para kandidat lain dan tim penilai di tiap meja. Saat ini yang dinilai adalah tata cara kita berkomunikasi dengan orang lain.
-wawancara grup, biasanya wawancara grup ini dilakukan bersamaan dengan beberapa kandidat lain (3-8) orang. Pada saat inin kita akan ditanya dengan pertanyaan yang sama secara bergantian dan berutrutan, entah dari kanan ke kiri atau sebaliknya.
-wawancara individual, biasanya kita sendiri vs beberapa orang dari perusahaan.
*note:wawancara grup ataupun individu biasanya mengacu kepada ES yang kita buat, tidak jarang pertanyaan yang diajukan merupakan pertanyaan yang sama dengan yang ada di ES. Jadi jangan sampai lupa apa yang kita tulis di ES.

Job Offer (内定 - Agustus-Februari)
Setelah melalui rangkaian pencarian kerja yang saya tuliskan diatas, jika lolos semua tahapan, kita akan mendapatkan Job Offer, bisa melalui telepon, email, surat atau bahkan melalui universitas (pembimbing/career center universitas). Biasanya setelah mendapat job offer, kita akan diberikan waktu untuk berfikir untuk menerima tawaran kerja tersebut atau tidak. 

Selamat mencari kerja di Jepang

Friday, March 30, 2018

2 way authentification in instagram has a big hole


旧アカウントはハックされたので、新しく作りました。
旧アカウントのふぉろーをやめるなり、ブロックするなり、好きにしてくれればいいです。
インスタのバカな2段階認証のせいで、おそらくそのハッカーは僕の電話番号が知っているでしょう。
なので、誰かから変な連絡が来たら、無視して、僕に教えてくれれば助かります。
よろしくお願いします!
*痛いほど学びました
>電話番号はsnsに認証として使わない
>「電話番号を入れろ」と言った分けわからん奴は聞かない

my old account is hacked
pleasy kindly unfollow, report, block or do whatever you like,
this person probably also knows my phone number *thanks to the stupid 2way authentication of instagram*,
if someone contact you and
ask for a strange thing, just ignore and please let me know
thanks!
*lesson learned the hard way
>do not put your number on sns
>do not listen to some smart-arse kid to put your number

Tuesday, March 6, 2018

Mari Kita Ubah Fenomena Yang Beredar di Masyarakat: Membaca Bukanlah Hobi! Tapi Sebuah Kebiasaan

Mari Kita Ubah Fenomena Yang Beredar di Masyarakat: Membaca Bukanlah Hobi! Tapi Sebuah Kebiasaan

Ahir - ahir ini saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang jurnalis ternama bernama Elizabeth Pisani, yang berjudul "Apparently, 42% of young Indonesians are good for nothing". Membaca artikel tersebut membuat saya merasa sedih dan miris.

Dalam artikel tersebut Pisani menulis tentang siswa siswi Indonesia yang menuai hasil yang sangat buruk untuk tes PISA. Yakni tes mengenai matematika, sains dan kemampuan membaca yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) untuk siswa siswi berumur 15 tahun. Tentu saja PISA tes di Indonesia dtelah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Yang saya soroti dalam tes tersebut adalah kemampuan membaca siswa siswi Indonesia yang memilukan. Hasil dari PISA tes tahun 2015, 55% siswa siswi Indonesia tidak bisa mengenali gagasan utama dalam artikel, tidak bisa mengenali hubungan dalam artikel, ataupun tidak bisa membaca inti, makna dan konteks dalam artikel. Dengan kata lain, lebih dari setengah siswa siswi di Indonesia tidak buta huruf, namun tidak bisa membaca dengan baik, yakni tidak bisa mengerti arti dari sebuah artikel.

Yang lebih memilukan lagi, menurut saya fenomena ini tidak hanya terjadi pada siswa siswi Indonesia, tapi orang indonesia pada umumnya. Sebagai contoh, kita bisa melihat akun media sosial, sebutlah instagram, seorang influencer atau seseorang yang berjualan secara online. Bila kita membaca komentar komentar yang tertulis, banyak sekali akan kita dapatkan pertanyaan atau hujatan konyol. Misalnya, dalam deskripsi telah dituliskan harga, namun cukup banyak orang yang bertanya harga suatu produk tersebut (padahal telah dituliskan dengan jelas oleh si penjual).

Ataupun di suatu situs belanja online, saya pernah mendapati orang yang menjual sarung sebuah ponsel dan pada deskripsinya si penjual menuliskan dengan jelas bahwa yang ia jual adalah sarung ponsel, tapi ada beberapa hujatan di komentar yang menulis "kenapa barang yang datang setelah saya bayar hanya sarung ponsel, mana ponselnya?!".

Dari fenomena tersebut kita bisa mengetahui bahwa orang indonesia memang banyak yang tidak buta huruf tapi tidak bisa membaca dengan baik.

Asumsi saya orang yang aktif di media sosial atau pembelanja online adalah generasi muda. Generasi muda adalah harapan dan masa depan sebuah negara, apa jadinya jika mereka tidak bisa membaca dengan baik? Apa yang salah? Bagaimana cara memperbaiki kondisi tersebut?

Menurut saya salah satunya masalahnya adalah kalimat populer di Indonesia yang berbunyi "hobi saya membaca". Jika kita menanyakan hobi kepada orang Indonesia, tidak jarang yang menjawab "membaca". Hobi itu sendiri biasanya merupakan suatu aktifitas yang dilakukan pada waktu senggang. Dari hal ini kita juga bisa melihat bertapa jarangnya orang Indonesia membaca, karena membaca hanyalah aktifitas yang dilakukan sebagai hobi di waktu senggang.

Sementara di negara - negara maju, membaca adalah sebuah kebiasaan. Yakni aktifitas yang dilakukan bukan hanya dalam waktu senggang, tetapi memang sengaja disempatkan. Membaca merupakan kebiasaan yang dilakukan di negara maju sejak masa kanak kanak, yakni sejak SD dan SMP. Sehingga, kebiasaan membaca terpupuk dengan baik.

Menurut laporan survey yang dilakukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jepang tahun 2009, siswa siswi yang terbiasa membaca memiliki kemampuan akademis yang lebih tinggi dibanding yang kurang terbiasa membaca. Hal itu bisa dipahami karena menurut beberapa laporan lainya, banyak sekali keuntungan yang bisa didapat jika kita membiasakan diri kita untuk membaca. Diantaranya, dengan membaca kita dapat belajar untuk berkonsentrasi lebih baik, dapat mempelajari kosa kata yang baru, dapat menjadi lebih kreatif karena bisa berimajinasi lebih luas, dapat belajar berfikir secara logis, mendapatkan ide baru, serta tentunya kita dapat mengetahui sesuatu secara lebih mendalam dengan membaca suatu artikel.

Dukungan pemerintah merupakan hal yang penting untuk perkembangan kebiasaan membaca sejak kecil. Salah satu contoh yang bisa ditiru misalnya program "membaca setiap pagi" yang dicanangkan pemerintah Jepang untuk siswa siswi SD dan SMP. Hal ini dicanangkan pemerintah Jepang karena mereka sadar bahwa membaca dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak kecil, yang notabene adalah masadepan negara Jepang itu sendiri.

Membaca juga merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh orang sukses. Sebagai contoh, Bill Gates, pendiri Microsoft, yang notabene adalah seorang yang sangat sibuk terbiasa membaca 40 sampai 50 buku dalam setahun. Atau Mark Zuckerberg, seorang pendiri dan CEO Facebook yang membaca sebuah buku setiap dua minggu, atau sekitar 26 buku dalam setahun. Dan masih banyak contoh lainya yang bisa dituliskan, namun saya rasa contoh kedua orang diatas sudah cukup mewakili apa yang ingin saya utarakan.

Tentunya akan sangat baik jika kita merubah pola fikir dari "membaca adalah hobi" ke "membaca adalah kebiasaan". Mari membiasakan diri kita untuk membaca dari sekarang, dan mari kita ajak orang di sekeliling kita membiasakan diri untuk membaca.

Ramadhona Saville, PhD
TKI di Jepang

Thursday, December 14, 2017

mengenai dunia penelitian di (LIPI) Indonesia

Tempo hari saya mengobrol dengan abang saya mengenai pembelian microscope slide micrometer calibration untuk kepentingan penelitian
 di LIPI menggunakan uang pribadi abang saya. Saya lantas mempertanyakan, "kenapa untuk penelitian
 kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?".

Sebelum berceloteh lebih jauh, sepertinya perlu saya tuliskan disclaimer terlebih dahulu.
1. Saya paham dunia penelitian di indonesia memang unik.
2. Saya juga paham tidak semua kegiatan penelitian kantor harus menggunakan uang pribadi.
3. Hal yang sama (saya harap) tidak dialami oleh seluruh peneliti di Indonesia.

Cerita ini dimulai dari abang saya yang meminta tolong untuk dibelikan microscope slide micrometer calibration di ebay, dikirimkan ke alamat saya di Jepang dan ketika saya pulang ke Indonesia bisa saya berikan kepada abang saya. Abang saya minta tolong karena lebih banyak rintangan jika beli barang melalui ebay dan dikirimkan ke Indonesia. Misalnya, ditahan oleh beacukai, ataupun oleh kantor pos. Kebetulan jika beli slide yang diminta tolong itu, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Jepang dan tanggal kepulangan saya ke Indonesia, sangat mepet. Ada kemungkinan saya pulang tapi slide belum sampai ke alamat saya.

Saya coba untuk mencarikan slide yang mirip di Jepang. Tapi ternyata harganya berbeda jauh, produk Jepang jauh lebih mahal dari produk yang ada di ebay itu. Lalu saya tawarkan untuk beli produk Jepang ke abang saya, tapi ternyata abang saya tidak jadi beli. Dia bilang, terlalu mahal, karena dia mau beli pakai uang pribadi. Disitu saya mempertanyakan, kenapa untuk beli alat penelitian kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?. Ketika mengobrol di kesempatan lain dengan abang saya, banyak rintangan yang ada di LIPI. Contoh lainya, di ruangan abang saya ada komputer, tapi sudah uzur, lamban sekali. Lagi-lagi abang saya berencana untuk beli komputer menggunakan uang pribadi. Sebagai seorang peneliti juga, saya merasa agak kaget. Sekarang tahun 2017, komputer merupakan salah satu alat paling krusial bagi peneliti masa kini. Hal paling sederhana, kita harus menulis paper ataupun patent, atau produk penelitian lainya di komputer. Hal lain, komputer juga adalah alat yang sangat diandalkan untuk menganalisa data, membuat simulasi dan lain lain. Dengan ke tidak tersediaan alat paling krusial, bagaimana peneliti  bisa penelitian dengan maksimal?

Contoh rintangan lainya, koneksi internet yang sangat lamban. Jaman sekarang pun internet sangat dibutuhkan untuk para peneliti. Sebut saja pencarian referensi literatur untuk penelitian, data, informasi dan lain lain. Sama dengan komputer, bagaimana peneliti  bisa penelitian dengan maksimal?

Salah satu contoh lain adalah telpon yang hanya bisa dipakai untuk antar ruangan. Telpon yang bisa terhubung dengan dunia luar lipi ada salah satunya di ruangan sekertaris. Lagi-lagi saya mempertanyakan, kenapa cuma ada di ruang sekertaris? Saya rasa peneliti pun sangat butuh telpon, untuk komunikasi dengan pihak luar LIPI misalnya. Apa semua harus dengan email, atau harus ke ruangan sekertaris. Memang itu salah satu tindakan preventif supaya tidak disalah gunakan. Tapi jika ini alasanya, terlalu berlebihan. Juga kalau begitu kenapa tidak menggunakan IP phone? Meskipun disalah gunakan, biayanya murah sekali jika menggunakan IP phone. Bahkan kantor sebelah LIPI yang sama sama lembaga pemerintan, BKPM, sudah sejak lama pakai IP Phone. Untungnya abang saya tidak berfikir untuk beli IP phone sendiri.

Dengan titel lembaga penelitian terbesar di Indonesia, lumrah jika banyak orang yang berfikir, LIPI adalah tempat dengan banyak teknologi terbaru. Saya salah satu yang berfikir seperti itu juga. Ternyata tidak demikian adanya. Bukanya saya ingin menjelek-jelekan nama LIPI. Tapi, bagaimana bisa lembaga penelitian terbesar di Indonesia sekelas LIPI ternyata seperti itu. Saya pun mempertanyakan, bagaimana dunia penelitian di Indonesia mau maju pesat jika lembaga sekaliber LIPI ternyata seperti itu. Bukankah LIPI seharusnya yang menjadi pionir penelitian di Indonesia?

Sebagai sesama peneliti juga saya selalu dididik untuk tidak menggunakan uang pribadi untuk urusan kerjaan kantor. Makanya, saya merasa ada yang unik dari kasus mengenai LIPI ini. Sejak kuliah, professor saya mendidik saya untuk sebisa mungkin tidak menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kampus. Setelah bekerja sebagai peneliti di perusahaan swasta pun kantor saya melarang untuk menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kantor. Kantor saya jauh dari kantor yang sempurna, beberapa kali terkena kasus dan sampai sekarang banyak yang bilang bahwa kantor saya termasuk "Black Company" karena beberapa kali diangkat media soal kasus bunuh diri karyawan karena stress masalah kerjaan ataupun kasus karyawan yang depresi dan harus dirawat dirumah sakit ataupun oleh psikolog. Kantor saya juga bahkan terkesan agak pelit untuk urusan keuangan. Tapi kantor saya mengerti esensi penelitian, penelitian adalah sebuah investasi yang sangat penting untuk menghasilkan produk inovatif berkualitas tinggi. Produk dari hasil investasi itu lah yang akan dijual untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang pada ahirnya akan menggerakan perekonomian kantor.

Begitu pula dengan negara-negara maju. Saya ambil Contoh Jepang, karena kebetulan saya kuliah, hidup dan tinggal di Jepang. Saat ini jepang menganggarkan dana riset sebesar 3.6% dari PDB sementara Indonesia 0.2%. Oke memang banyak yang berfikir, Jepang negara maju, punya uang cukup untuk penelitian. Tapi, kita lihat sejarahnya, tahun 1945 Jepang hancur berantakan kalah PD 2. 2 kota besarnya di bom. Uang banyak terpakai untuk perang, kesengsaraan, kemiskinan, kekurangan gizi, banyak yang meninggal dipinggir jalan. Di saat kritis ini pemerintah Jepang, universitas, perusahaan swasta tetap berusaha menggalakkan penelitian dan pendidikan karena mereka sadar bahwa penelitian adalah salah satu investasi paling penting. Hasilnya, banyak sekali universitas, lembaga riset, perusahaan swasta di Jepang memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi dalam bidang penelitian, ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak lupa mengenai tingkat ekonomi Jepang saat ini, GDP Jepang mencapai 39.000 USD.

Salah satu contoh lain adalah Jerman. Saya belum pernah merasakan tinggal di Jerman, tapi saya sedikit banyak bisa baca data. Jerman pun sama, kalah PD 2, kondisi jerman tidak jauh dari Jepang. Tapi sekarang bahkan GDP Jerman berada diatas Jepang, yakni 42.000 USD. Sama seperti Jepang, banyak sekali universitas, lembaga riset, perusahaan swasta di Jerman yang memiliki tingkat kredibilitas yang sangat tinggi. Semua itu bisa dicapai karena Jepang dan Jerman memiliki kesamaan. Lagi-lagi, menggalakan penelitian dan pendidikan. Masih banyak sekali contoh yang bisa saya tuliskan disini, tapi ilustrasi kantor saya dan 2 negara maju yang dulu kalah PD 2, hancur lebur berantakan itu saya rasa sudah cukup mewaliki apa yang mau saya utarakan dalam tulisan ini. Dari beberapa contoh yang saya utarakan, dapat disimpulkan bahwa riset dan pendidikan merupakan investasi yang sangat menguntungkan untuk masa depan, baik untuk perekonomian ataupun untuk dunia pendidikan
suatu negara ataupun organisasi. 

Memang banyak faktor yang jadi alasan LIPI seperti itu, misalnya seperti yang ada di press release LIPI sendiri . Pemerintah pusat punya andil besar juga dalam hal ini. Saya juga sedikit paham bahwa dana suatu lembaga pemerintah ditentukan oleh DPR, MPR dan pemerintah pusat. Sudah bukan rahasia lagi bahwa cara lembaga pemerintah untuk mendapatkan dana yang lebih banyak adalah dengan melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat. Saya hanya bisa menduga, ada kemungkinan bahwa pejabat LIPI belum berhasil melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat untuk mendapatkan dana yang lebih banyak, bahkan sampai dipangkas. Saya yakin LIPI sudah dan sedang berusaha untuk menaikan dana untuk LIPI.
Semoga petinggi LIPI bisa melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat agar dana untuk LIPI lebih banyak. Yang tidak ketinggalan, semoga DPR, MPR dan pemerintah pusat juga pemerintah pusat mau berfikir dan mengerti seperti perusahaan swasta atau negara maju lainya, bahwa penelitian adalah salah satu investasi yang sangat penting untuk menggerakan ekonomi Indonesia.

Lewat tulisan ini juga saya ingin mengapresiasi abang saya. Respect untuk abang saya. Abang saya tetap berusaha bekerja melakukan penelitian yang notabene pekerjaan kantor meskipun menggunakan uang pribadinya. Kalau saya yang berada dalam posisi itu, mungkin saya sudah "tidak sreg" dan mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

Itami, 12 Desember 2017

TKI di Jepang, 
 
Ramadhona Saville, PhD.

Tuesday, December 5, 2017

1. playing with string manipulation, 2. function to sort dynamically alocated string array in visual c++

 #include "stdafx.h"  
 #include <string.h>     //header for string manipulation  
 #include <cstdlib>     //header for malloc  
   
 #define COL 300  
 bool sortStr(char(*str)[COL], int n)  
 {     //function to sort string array   
      if( str == NULL )     return false;  
      char tmp[COL];  
      for(int i=0; i<n-1; ++i)  
      {  
           for(int j=i+1; j<n; ++j)  
           {  
                if( strcmp(str[i], str[j]) > 0 )  
                {                      
                     strcpy_s(tmp, str[i]);  
                     strcpy_s(str[i], str[j]);  
                     strcpy_s(str[j], tmp);  
                }  
           }  
      }  
      return true;  
 }  
 int _tmain(int argc, _TCHAR* argv[])  
 {  
      int ncp = 4;                     //for string array  
      //dynamic allocation of string array
      char(*str0)[COL] = (char(*)[COL])malloc(sizeof(char)*ncp*COL);  
   
      int id0 = 9, id1 = 12;       
      strcpy_s(str0[0], "s");          //input your string  
      strcpy_s(str0[1], "e");  
      char tmp[COL];  
      sprintf_s(tmp, "%d", id1);      //input int value (id1) into string tmp  
      strcat_s(str0[0], tmp);         //concatenate multiple strings into str[0]  
      sprintf_s(tmp, "%d", id0);  
      strcat_s(str0[1], tmp);  
      strcpy_s(str0[2], "e1");  
      strcpy_s(str0[3], "s2");       
      for(int i=0; i<ncp; ++i)  
           printf("str0[%d]:%s\n", i, str0[i]);  
      printf("--\n");  
             
      char(*str1)[COL] = (char(*)[COL])malloc(sizeof(char)*ncp*COL);  
      strcpy_s(str1[0], "e9");  
      strcpy_s(str1[1], "s12");  
      strcpy_s(str1[2], "e1");  
      strcpy_s(str1[3], "s3");  
   
      for(int i=0; i<ncp; ++i)  
           printf("str1[%d]:%s\n", i, str1[i]);  
   
      printf("\n=======compare=======\n");  
      printf("====before sorting===\n");  
      for(int i=0; i<ncp; ++i)  
      {  
           int res = strcmp(str0[i], str1[i]);     //compare 2 strings value based on ASCII  
           printf("str[%d]: %d\n", i, res);  
      }  
   
      printf("\n=======sort=======\n");  
        
      if( sortStr(str0, ncp) == true )  
      {  
           for(int i=0; i<ncp; ++i)  
                printf("str0[%d]:%s\n", i, str0[i]);  
      }  
             
      printf("--\n");  
        
      if( sortStr(str1, ncp) == true )  
      {  
           for(int i=0; i<ncp; ++i)  
                printf("str0[%d]:%s\n", i, str1[i]);  
      }       
   
      printf("\n=======compare=======\n");  
      printf("====after sorting====\n");  
      for(int i=0; i<ncp; ++i)  
      {  
           int res = strcmp(str0[i], str1[i]);  
           printf("str[%d]: %d\n", i, res);  
      }  
 } 
result
 
str0[0]:s12
str0[1]:e9
str0[2]:e1
str0[3]:s2
--
str1[0]:e9
str1[1]:s12
str1[2]:e1
str1[3]:s3

=======compare=======
====before sorting===
str[0]: 1
str[1]: -1
str[2]: 0
str[3]: -1

=======sort=======
str0[0]:e1
str0[1]:e9
str0[2]:s12
str0[3]:s2
--
str0[0]:e1
str0[1]:e9
str0[2]:s12
str0[3]:s3

=======compare=======
====after sorting====
str[0]: 0
str[1]: 0
str[2]: 0
str[3]: -1

Thursday, November 2, 2017

centripetal parametrization for curve fitting or interpolation

very useful to compute parameter for curve fitting or interpolation
the detail explanation is written here


and here is the code for three dimensional parametric curve


 void GetCentripetal_Param(  
       int ncp,                                                  //number of control point  
       double point[][3],                                        //control points of curve  
       double t[]                                                //array of t parameter (output) 
       )  
 {  
      double *dcp = (double*)malloc(sizeof(double) * (ncp-1));   //CP0-CP1, CP2-CP1, ..., CP[ncp-1][ncp]  
      double *sum = (double*)malloc(sizeof(double) * ncp);  
             
      int i, j;  
      double dcptotal = 0.0;  
      for(i=0; i<ncp-1; i++)  
           dcp[i] = 0.0;  
        
      sum[0] = 0.0;  
      for(i=0; i<ncp-1; i++)  
      {  
        for(j=0; j<3; j++)  
          dcp[i] += (point[i+1][j]-point[i][j]) * (point[i+1][j]-point[i][j]);        
       
        dcp[i] = sqrt(sqrt(dcp[i]));  
        dcptotal += dcp[i];  
        sum[i+1] = dcptotal;  
      }  
      sum[0] = 0.0;  
      double inv_dcptotal = 1 / dcptotal;  
      for(i=0; i<ncp; i++)  
         t[i] = (sum[i] * inv_dcptotal);  
        
      if(dcp) free(dcp);  
      if(sum) free(sum);  
 }