Friday, March 30, 2018

2 way authentification in instagram has a big hole


旧アカウントはハックされたので、新しく作りました。
旧アカウントのふぉろーをやめるなり、ブロックするなり、好きにしてくれればいいです。
インスタのバカな2段階認証のせいで、おそらくそのハッカーは僕の電話番号が知っているでしょう。
なので、誰かから変な連絡が来たら、無視して、僕に教えてくれれば助かります。
よろしくお願いします!
*痛いほど学びました
>電話番号はsnsに認証として使わない
>「電話番号を入れろ」と言った分けわからん奴は聞かない

my old account is hacked
pleasy kindly unfollow, report, block or do whatever you like,
this person probably also knows my phone number *thanks to the stupid 2way authentication of instagram*,
if someone contact you and
ask for a strange thing, just ignore and please let me know
thanks!
*lesson learned the hard way
>do not put your number on sns
>do not listen to some smart-arse kid to put your number

Tuesday, March 6, 2018

Mari Kita Ubah Fenomena Yang Beredar di Masyarakat: Membaca Bukanlah Hobi! Tapi Sebuah Kebiasaan

Mari Kita Ubah Fenomena Yang Beredar di Masyarakat: Membaca Bukanlah Hobi! Tapi Sebuah Kebiasaan

Ahir - ahir ini saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang jurnalis ternama bernama Elizabeth Pisani, yang berjudul "Apparently, 42% of young Indonesians are good for nothing". Membaca artikel tersebut membuat saya merasa sedih dan miris.

Dalam artikel tersebut Pisani menulis tentang siswa siswi Indonesia yang menuai hasil yang sangat buruk untuk tes PISA. Yakni tes mengenai matematika, sains dan kemampuan membaca yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) untuk siswa siswi berumur 15 tahun. Tentu saja PISA tes di Indonesia dtelah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Yang saya soroti dalam tes tersebut adalah kemampuan membaca siswa siswi Indonesia yang memilukan. Hasil dari PISA tes tahun 2015, 55% siswa siswi Indonesia tidak bisa mengenali gagasan utama dalam artikel, tidak bisa mengenali hubungan dalam artikel, ataupun tidak bisa membaca inti, makna dan konteks dalam artikel. Dengan kata lain, lebih dari setengah siswa siswi di Indonesia tidak buta huruf, namun tidak bisa membaca dengan baik, yakni tidak bisa mengerti arti dari sebuah artikel.

Yang lebih memilukan lagi, menurut saya fenomena ini tidak hanya terjadi pada siswa siswi Indonesia, tapi orang indonesia pada umumnya. Sebagai contoh, kita bisa melihat akun media sosial, sebutlah instagram, seorang influencer atau seseorang yang berjualan secara online. Bila kita membaca komentar komentar yang tertulis, banyak sekali akan kita dapatkan pertanyaan atau hujatan konyol. Misalnya, dalam deskripsi telah dituliskan harga, namun cukup banyak orang yang bertanya harga suatu produk tersebut (padahal telah dituliskan dengan jelas oleh si penjual).

Ataupun di suatu situs belanja online, saya pernah mendapati orang yang menjual sarung sebuah ponsel dan pada deskripsinya si penjual menuliskan dengan jelas bahwa yang ia jual adalah sarung ponsel, tapi ada beberapa hujatan di komentar yang menulis "kenapa barang yang datang setelah saya bayar hanya sarung ponsel, mana ponselnya?!".

Dari fenomena tersebut kita bisa mengetahui bahwa orang indonesia memang banyak yang tidak buta huruf tapi tidak bisa membaca dengan baik.

Asumsi saya orang yang aktif di media sosial atau pembelanja online adalah generasi muda. Generasi muda adalah harapan dan masa depan sebuah negara, apa jadinya jika mereka tidak bisa membaca dengan baik? Apa yang salah? Bagaimana cara memperbaiki kondisi tersebut?

Menurut saya salah satunya masalahnya adalah kalimat populer di Indonesia yang berbunyi "hobi saya membaca". Jika kita menanyakan hobi kepada orang Indonesia, tidak jarang yang menjawab "membaca". Hobi itu sendiri biasanya merupakan suatu aktifitas yang dilakukan pada waktu senggang. Dari hal ini kita juga bisa melihat bertapa jarangnya orang Indonesia membaca, karena membaca hanyalah aktifitas yang dilakukan sebagai hobi di waktu senggang.

Sementara di negara - negara maju, membaca adalah sebuah kebiasaan. Yakni aktifitas yang dilakukan bukan hanya dalam waktu senggang, tetapi memang sengaja disempatkan. Membaca merupakan kebiasaan yang dilakukan di negara maju sejak masa kanak kanak, yakni sejak SD dan SMP. Sehingga, kebiasaan membaca terpupuk dengan baik.

Menurut laporan survey yang dilakukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jepang tahun 2009, siswa siswi yang terbiasa membaca memiliki kemampuan akademis yang lebih tinggi dibanding yang kurang terbiasa membaca. Hal itu bisa dipahami karena menurut beberapa laporan lainya, banyak sekali keuntungan yang bisa didapat jika kita membiasakan diri kita untuk membaca. Diantaranya, dengan membaca kita dapat belajar untuk berkonsentrasi lebih baik, dapat mempelajari kosa kata yang baru, dapat menjadi lebih kreatif karena bisa berimajinasi lebih luas, dapat belajar berfikir secara logis, mendapatkan ide baru, serta tentunya kita dapat mengetahui sesuatu secara lebih mendalam dengan membaca suatu artikel.

Dukungan pemerintah merupakan hal yang penting untuk perkembangan kebiasaan membaca sejak kecil. Salah satu contoh yang bisa ditiru misalnya program "membaca setiap pagi" yang dicanangkan pemerintah Jepang untuk siswa siswi SD dan SMP. Hal ini dicanangkan pemerintah Jepang karena mereka sadar bahwa membaca dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak kecil, yang notabene adalah masadepan negara Jepang itu sendiri.

Membaca juga merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh orang sukses. Sebagai contoh, Bill Gates, pendiri Microsoft, yang notabene adalah seorang yang sangat sibuk terbiasa membaca 40 sampai 50 buku dalam setahun. Atau Mark Zuckerberg, seorang pendiri dan CEO Facebook yang membaca sebuah buku setiap dua minggu, atau sekitar 26 buku dalam setahun. Dan masih banyak contoh lainya yang bisa dituliskan, namun saya rasa contoh kedua orang diatas sudah cukup mewakili apa yang ingin saya utarakan.

Tentunya akan sangat baik jika kita merubah pola fikir dari "membaca adalah hobi" ke "membaca adalah kebiasaan". Mari membiasakan diri kita untuk membaca dari sekarang, dan mari kita ajak orang di sekeliling kita membiasakan diri untuk membaca.

Ramadhona Saville, PhD
TKI di Jepang

Thursday, December 14, 2017

mengenai dunia penelitian di (LIPI) Indonesia

Tempo hari saya mengobrol dengan abang saya mengenai pembelian microscope slide micrometer calibration untuk kepentingan penelitian
 di LIPI menggunakan uang pribadi abang saya. Saya lantas mempertanyakan, "kenapa untuk penelitian
 kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?".

Sebelum berceloteh lebih jauh, sepertinya perlu saya tuliskan disclaimer terlebih dahulu.
1. Saya paham dunia penelitian di indonesia memang unik.
2. Saya juga paham tidak semua kegiatan penelitian kantor harus menggunakan uang pribadi.
3. Hal yang sama (saya harap) tidak dialami oleh seluruh peneliti di Indonesia.

Cerita ini dimulai dari abang saya yang meminta tolong untuk dibelikan microscope slide micrometer calibration di ebay, dikirimkan ke alamat saya di Jepang dan ketika saya pulang ke Indonesia bisa saya berikan kepada abang saya. Abang saya minta tolong karena lebih banyak rintangan jika beli barang melalui ebay dan dikirimkan ke Indonesia. Misalnya, ditahan oleh beacukai, ataupun oleh kantor pos. Kebetulan jika beli slide yang diminta tolong itu, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Jepang dan tanggal kepulangan saya ke Indonesia, sangat mepet. Ada kemungkinan saya pulang tapi slide belum sampai ke alamat saya.

Saya coba untuk mencarikan slide yang mirip di Jepang. Tapi ternyata harganya berbeda jauh, produk Jepang jauh lebih mahal dari produk yang ada di ebay itu. Lalu saya tawarkan untuk beli produk Jepang ke abang saya, tapi ternyata abang saya tidak jadi beli. Dia bilang, terlalu mahal, karena dia mau beli pakai uang pribadi. Disitu saya mempertanyakan, kenapa untuk beli alat penelitian kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?. Ketika mengobrol di kesempatan lain dengan abang saya, banyak rintangan yang ada di LIPI. Contoh lainya, di ruangan abang saya ada komputer, tapi sudah uzur, lamban sekali. Lagi-lagi abang saya berencana untuk beli komputer menggunakan uang pribadi. Sebagai seorang peneliti juga, saya merasa agak kaget. Sekarang tahun 2017, komputer merupakan salah satu alat paling krusial bagi peneliti masa kini. Hal paling sederhana, kita harus menulis paper ataupun patent, atau produk penelitian lainya di komputer. Hal lain, komputer juga adalah alat yang sangat diandalkan untuk menganalisa data, membuat simulasi dan lain lain. Dengan ke tidak tersediaan alat paling krusial, bagaimana peneliti  bisa penelitian dengan maksimal?

Contoh rintangan lainya, koneksi internet yang sangat lamban. Jaman sekarang pun internet sangat dibutuhkan untuk para peneliti. Sebut saja pencarian referensi literatur untuk penelitian, data, informasi dan lain lain. Sama dengan komputer, bagaimana peneliti  bisa penelitian dengan maksimal?

Salah satu contoh lain adalah telpon yang hanya bisa dipakai untuk antar ruangan. Telpon yang bisa terhubung dengan dunia luar lipi ada salah satunya di ruangan sekertaris. Lagi-lagi saya mempertanyakan, kenapa cuma ada di ruang sekertaris? Saya rasa peneliti pun sangat butuh telpon, untuk komunikasi dengan pihak luar LIPI misalnya. Apa semua harus dengan email, atau harus ke ruangan sekertaris. Memang itu salah satu tindakan preventif supaya tidak disalah gunakan. Tapi jika ini alasanya, terlalu berlebihan. Juga kalau begitu kenapa tidak menggunakan IP phone? Meskipun disalah gunakan, biayanya murah sekali jika menggunakan IP phone. Bahkan kantor sebelah LIPI yang sama sama lembaga pemerintan, BKPM, sudah sejak lama pakai IP Phone. Untungnya abang saya tidak berfikir untuk beli IP phone sendiri.

Dengan titel lembaga penelitian terbesar di Indonesia, lumrah jika banyak orang yang berfikir, LIPI adalah tempat dengan banyak teknologi terbaru. Saya salah satu yang berfikir seperti itu juga. Ternyata tidak demikian adanya. Bukanya saya ingin menjelek-jelekan nama LIPI. Tapi, bagaimana bisa lembaga penelitian terbesar di Indonesia sekelas LIPI ternyata seperti itu. Saya pun mempertanyakan, bagaimana dunia penelitian di Indonesia mau maju pesat jika lembaga sekaliber LIPI ternyata seperti itu. Bukankah LIPI seharusnya yang menjadi pionir penelitian di Indonesia?

Sebagai sesama peneliti juga saya selalu dididik untuk tidak menggunakan uang pribadi untuk urusan kerjaan kantor. Makanya, saya merasa ada yang unik dari kasus mengenai LIPI ini. Sejak kuliah, professor saya mendidik saya untuk sebisa mungkin tidak menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kampus. Setelah bekerja sebagai peneliti di perusahaan swasta pun kantor saya melarang untuk menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kantor. Kantor saya jauh dari kantor yang sempurna, beberapa kali terkena kasus dan sampai sekarang banyak yang bilang bahwa kantor saya termasuk "Black Company" karena beberapa kali diangkat media soal kasus bunuh diri karyawan karena stress masalah kerjaan ataupun kasus karyawan yang depresi dan harus dirawat dirumah sakit ataupun oleh psikolog. Kantor saya juga bahkan terkesan agak pelit untuk urusan keuangan. Tapi kantor saya mengerti esensi penelitian, penelitian adalah sebuah investasi yang sangat penting untuk menghasilkan produk inovatif berkualitas tinggi. Produk dari hasil investasi itu lah yang akan dijual untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang pada ahirnya akan menggerakan perekonomian kantor.

Begitu pula dengan negara-negara maju. Saya ambil Contoh Jepang, karena kebetulan saya kuliah, hidup dan tinggal di Jepang. Saat ini jepang menganggarkan dana riset sebesar 3.6% dari PDB sementara Indonesia 0.2%. Oke memang banyak yang berfikir, Jepang negara maju, punya uang cukup untuk penelitian. Tapi, kita lihat sejarahnya, tahun 1945 Jepang hancur berantakan kalah PD 2. 2 kota besarnya di bom. Uang banyak terpakai untuk perang, kesengsaraan, kemiskinan, kekurangan gizi, banyak yang meninggal dipinggir jalan. Di saat kritis ini pemerintah Jepang, universitas, perusahaan swasta tetap berusaha menggalakkan penelitian dan pendidikan karena mereka sadar bahwa penelitian adalah salah satu investasi paling penting. Hasilnya, banyak sekali universitas, lembaga riset, perusahaan swasta di Jepang memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi dalam bidang penelitian, ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak lupa mengenai tingkat ekonomi Jepang saat ini, GDP Jepang mencapai 39.000 USD.

Salah satu contoh lain adalah Jerman. Saya belum pernah merasakan tinggal di Jerman, tapi saya sedikit banyak bisa baca data. Jerman pun sama, kalah PD 2, kondisi jerman tidak jauh dari Jepang. Tapi sekarang bahkan GDP Jerman berada diatas Jepang, yakni 42.000 USD. Sama seperti Jepang, banyak sekali universitas, lembaga riset, perusahaan swasta di Jerman yang memiliki tingkat kredibilitas yang sangat tinggi. Semua itu bisa dicapai karena Jepang dan Jerman memiliki kesamaan. Lagi-lagi, menggalakan penelitian dan pendidikan. Masih banyak sekali contoh yang bisa saya tuliskan disini, tapi ilustrasi kantor saya dan 2 negara maju yang dulu kalah PD 2, hancur lebur berantakan itu saya rasa sudah cukup mewaliki apa yang mau saya utarakan dalam tulisan ini. Dari beberapa contoh yang saya utarakan, dapat disimpulkan bahwa riset dan pendidikan merupakan investasi yang sangat menguntungkan untuk masa depan, baik untuk perekonomian ataupun untuk dunia pendidikan
suatu negara ataupun organisasi. 

Memang banyak faktor yang jadi alasan LIPI seperti itu, misalnya seperti yang ada di press release LIPI sendiri . Pemerintah pusat punya andil besar juga dalam hal ini. Saya juga sedikit paham bahwa dana suatu lembaga pemerintah ditentukan oleh DPR, MPR dan pemerintah pusat. Sudah bukan rahasia lagi bahwa cara lembaga pemerintah untuk mendapatkan dana yang lebih banyak adalah dengan melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat. Saya hanya bisa menduga, ada kemungkinan bahwa pejabat LIPI belum berhasil melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat untuk mendapatkan dana yang lebih banyak, bahkan sampai dipangkas. Saya yakin LIPI sudah dan sedang berusaha untuk menaikan dana untuk LIPI.
Semoga petinggi LIPI bisa melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat agar dana untuk LIPI lebih banyak. Yang tidak ketinggalan, semoga DPR, MPR dan pemerintah pusat juga pemerintah pusat mau berfikir dan mengerti seperti perusahaan swasta atau negara maju lainya, bahwa penelitian adalah salah satu investasi yang sangat penting untuk menggerakan ekonomi Indonesia.

Lewat tulisan ini juga saya ingin mengapresiasi abang saya. Respect untuk abang saya. Abang saya tetap berusaha bekerja melakukan penelitian yang notabene pekerjaan kantor meskipun menggunakan uang pribadinya. Kalau saya yang berada dalam posisi itu, mungkin saya sudah "tidak sreg" dan mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

Itami, 12 Desember 2017

TKI di Jepang, 
 
Ramadhona Saville, PhD.

Tuesday, December 5, 2017

1. playing with string manipulation, 2. function to sort dynamically alocated string array in visual c++

 #include "stdafx.h"  
 #include <string.h>     //header for string manipulation  
 #include <cstdlib>     //header for malloc  
   
 #define COL 300  
 bool sortStr(char(*str)[COL], int n)  
 {     //function to sort string array   
      if( str == NULL )     return false;  
      char tmp[COL];  
      for(int i=0; i<n-1; ++i)  
      {  
           for(int j=i+1; j<n; ++j)  
           {  
                if( strcmp(str[i], str[j]) > 0 )  
                {                      
                     strcpy_s(tmp, str[i]);  
                     strcpy_s(str[i], str[j]);  
                     strcpy_s(str[j], tmp);  
                }  
           }  
      }  
      return true;  
 }  
 int _tmain(int argc, _TCHAR* argv[])  
 {  
      int ncp = 4;                     //for string array  
      //dynamic allocation of string array
      char(*str0)[COL] = (char(*)[COL])malloc(sizeof(char)*ncp*COL);  
   
      int id0 = 9, id1 = 12;       
      strcpy_s(str0[0], "s");          //input your string  
      strcpy_s(str0[1], "e");  
      char tmp[COL];  
      sprintf_s(tmp, "%d", id1);      //input int value (id1) into string tmp  
      strcat_s(str0[0], tmp);         //concatenate multiple strings into str[0]  
      sprintf_s(tmp, "%d", id0);  
      strcat_s(str0[1], tmp);  
      strcpy_s(str0[2], "e1");  
      strcpy_s(str0[3], "s2");       
      for(int i=0; i<ncp; ++i)  
           printf("str0[%d]:%s\n", i, str0[i]);  
      printf("--\n");  
             
      char(*str1)[COL] = (char(*)[COL])malloc(sizeof(char)*ncp*COL);  
      strcpy_s(str1[0], "e9");  
      strcpy_s(str1[1], "s12");  
      strcpy_s(str1[2], "e1");  
      strcpy_s(str1[3], "s3");  
   
      for(int i=0; i<ncp; ++i)  
           printf("str1[%d]:%s\n", i, str1[i]);  
   
      printf("\n=======compare=======\n");  
      printf("====before sorting===\n");  
      for(int i=0; i<ncp; ++i)  
      {  
           int res = strcmp(str0[i], str1[i]);     //compare 2 strings value based on ASCII  
           printf("str[%d]: %d\n", i, res);  
      }  
   
      printf("\n=======sort=======\n");  
        
      if( sortStr(str0, ncp) == true )  
      {  
           for(int i=0; i<ncp; ++i)  
                printf("str0[%d]:%s\n", i, str0[i]);  
      }  
             
      printf("--\n");  
        
      if( sortStr(str1, ncp) == true )  
      {  
           for(int i=0; i<ncp; ++i)  
                printf("str0[%d]:%s\n", i, str1[i]);  
      }       
   
      printf("\n=======compare=======\n");  
      printf("====after sorting====\n");  
      for(int i=0; i<ncp; ++i)  
      {  
           int res = strcmp(str0[i], str1[i]);  
           printf("str[%d]: %d\n", i, res);  
      }  
 } 
result
 
str0[0]:s12
str0[1]:e9
str0[2]:e1
str0[3]:s2
--
str1[0]:e9
str1[1]:s12
str1[2]:e1
str1[3]:s3

=======compare=======
====before sorting===
str[0]: 1
str[1]: -1
str[2]: 0
str[3]: -1

=======sort=======
str0[0]:e1
str0[1]:e9
str0[2]:s12
str0[3]:s2
--
str0[0]:e1
str0[1]:e9
str0[2]:s12
str0[3]:s3

=======compare=======
====after sorting====
str[0]: 0
str[1]: 0
str[2]: 0
str[3]: -1

Thursday, November 2, 2017

centripetal parametrization for curve fitting or interpolation

very useful to compute parameter for curve fitting or interpolation
the detail explanation is written here


and here is the code for three dimensional parametric curve


 void GetCentripetal_Param(  
       int ncp,                                                  //number of control point  
       double point[][3],                                        //control points of curve  
       double t[]                                                //array of t parameter (output) 
       )  
 {  
      double *dcp = (double*)malloc(sizeof(double) * (ncp-1));   //CP0-CP1, CP2-CP1, ..., CP[ncp-1][ncp]  
      double *sum = (double*)malloc(sizeof(double) * ncp);  
             
      int i, j;  
      double dcptotal = 0.0;  
      for(i=0; i<ncp-1; i++)  
           dcp[i] = 0.0;  
        
      sum[0] = 0.0;  
      for(i=0; i<ncp-1; i++)  
      {  
        for(j=0; j<3; j++)  
          dcp[i] += (point[i+1][j]-point[i][j]) * (point[i+1][j]-point[i][j]);        
       
        dcp[i] = sqrt(sqrt(dcp[i]));  
        dcptotal += dcp[i];  
        sum[i+1] = dcptotal;  
      }  
      sum[0] = 0.0;  
      double inv_dcptotal = 1 / dcptotal;  
      for(i=0; i<ncp; i++)  
         t[i] = (sum[i] * inv_dcptotal);  
        
      if(dcp) free(dcp);  
      if(sum) free(sum);  
 }     

Tuesday, October 24, 2017

simple example of using operator overloading in c++

 #include <stdio.h>  
 #include <stdlib.h>  
   
 //3d point  
 struct Pt3d  
 {  
      double x,y,z;  
   
      //define operator "+" for Pt3d  
      Pt3d operator+(Pt3d &p)  
      {  
           Pt3d temp = {  
                this->x + p.x,   
                this->y + p.y,   
                this->z + p.z,   
           };  
           return temp;  
      }  
 };  
   
   
 int _tmain(int argc, _TCHAR* argv[])  
 {  
      Pt3d a, b, c;  
      a.x = 1.0;  
      a.y = 1.1;  
      a.z = 1.2;  
   
      b.x = 2.0;  
      b.y = 2.1;  
      b.z = 2.2;  
        
      //by only using this, you can get addition of point a and b  
      c = a + b;  
        
      //let's check it  
      //result should be 3.00, 3.20, 3.40  
      printf("coordinate of c in a, y, z is as follow:\n");  
      printf("%.2f, %.2f, %.2f \n", c.x, c.y, c.z);  
      return 0;  
 } 
 
result:
 
3.00, 3.20, 3.40 

Thursday, June 22, 2017

インドネシアにおける問題



インドネシアにおける問題から新たなアイデアがあるかもしれないため、リストアップいたしました。

・毎年の洪水(特に首都のジャカルタ)
・地震
・自然災害(地震、火山、等)
・自然災害の警告システム
・天気予報システム
・電力不足
・停電
・インフラ不足
・道路工事していても数週間後またすぐに壊れる
・違法住宅
・都市における川の汚染
・河川の狭窄
・渋滞
・汚職
・マラリア
・デング出血熱
・遠隔地の医者不足(当然診療所/病院不足となる)
・医療価格が高い
・未成年によるタバコ問題
・遠隔地の学校と教師不足
・貧困
・詐欺
・教育の低品質
・失業
・未成年によるタバコの問題
・ゆすり
・強盗
・著作権侵害
・森林伐採
・違法伐採
・森林火災
・都市化
・農業の生産性が低い
・農業による環境汚染
・作付け面積がわからない(マップがない)
・ネズミによる農業被害
・魚養殖による環境汚染
・養殖の魚の大量死
・サンゴの白化
・海洋ゴミ
・海洋の環境汚染
・外国漁船による違法漁業
・エビ養殖場所の汚染問題
・絶滅危惧動物の密猟
...