Assistant Professor → Associate Professor in Japanese University

I got promoted as Associate Professor on April 1. Alhamdulillah!

 

Of course it was hard work, blood, sweat and tears, no shortcut!


Working in a Japanese university is extremely hard. We need to do all the work - literally all - from sweeping and cleaning the lab, making coffee when guests are coming, preparing for a bunch of classes, teaching, evaluating, marking the score, taking care of students, being the person in charge for department, faculty, and university level of something (for example, managing department's SNS, department's marketing, making pamphlet, and so on and so on - the list can go on), being active in academic life outside campus, and lastly, research. Yes, research! Research is the last thing that you can do in the university that I work. 

Let's talk about this later, now not thou.


To get promoted to be Associate Professor in this university, here are the requirements:

  1. PhD holder (Currently, job applications for lecturers are only for PhDs, but lecturers from the old days sometimes still have no PhD)
  2. Must have experience guiding the thesis of 4th year students (The criteria for each department is different, in my department, more than 20 students) 
  3. Write an essay about the targets to be achieved in the new position and career design as a lecturer
  4. In the last 5 years must publish at least 3 international journals or 4 local journals as first author
  5. Points from teaching experience (criteria for each department are different extremely difficult to explain, so skip! But as a hint there are criteria for the number of classes, the number of students, class evaluation by students)
  6. Points from academics (number of journals published, impact factor, number of proceedings, number of presentations at conferences, number of academic awards, number of patents, number of books). Point weight is different for first author and non-first author
  7. Points from non-academics (helping association as for example secretary, being chairperson at conference, being an adviser in a student club, being an adviser in company)
  8. Points from research grants (where have you gotten research grants, how many are principal investigators, how many are research members)
  9. Points from being in charge of department activities (being in charge of any role in department, faculty and university activities) 
  10. Print all the documents (at least 4 copy), explain and evaluated by your supervisor (lab boss), department chair, dean and for university. Then after passing through, the documents will be checked again and again by campus' Human Resources Committee (mostly Professors) to be recommended to the university boss (Rector and Chairman of the Board of Directors of a school foundation)


In Japan, you don't have to get approval from the Ministry of Education and Culture or the Japanese Higher Education (I heard in several countries you must get approval from the ministry...). All of this is regulated within the university/foundation, so it is the university/foundation that determines whether you become a professor. The university only have to report to the Ministry of Education and Culture and attach all the documents.


Agribusiness × AI

 Agribusiness × AI

The role of AI in Agribusiness and study case in our lab

 Laboratory of Management Informatics




Muslim travelers in Japan prioritize prayer room when choosing place to dine out!

Driving factor of Muslim travelers in Japan when choosing a place for dining out?
 
Together with Ahmad Mahbubi Mufti , we tried to clarify factors influencing Muslim travelers when dining out in Japan.
 
1. What’s the priority for Muslim travelers when choosing a place for dining out?
> 70% of Muslim travelers in Japan prioritized prayer room availability more than halal-certified food (although in the last decade we experienced halal boom). Only 20% of Muslim travelers were prioritizing halal-certified food. If you are making a business targeting Muslim travelers (maybe after this COVID-19 pandemic end), then you should consider providing a prayer room as your first service priority. If you still have the budget, time and energy, then gaining halal certification is also a good idea.
 
2. How much are Muslim travelers willing to pay for one serve of halal-certified food with a prayer room available?
> They were willing to pay for as much as 1.5 times higher than the average price of the same dish in Japan. E. g. Muslim travelers were willing to pay as much as 1,200 JPY for ramen (the average price of ramen in 2018 was 800 JPY). Their purchasing power is good, and they tend not to consider price when selecting their preferred place.
 
If you are interested to read the full paper (it’s open access), you can find it here

Belajar Marketing dari Elon Musk

Siapa yang tidak tau "Elon Musk" ?
Wajahnya ada di berbagai macam media, cuitan cuitan dia ada di berbagai media pula.
Perusahaanya sedang naik daun, Tesla, SpaceX.

Terlepas dari dia menjual berbagai mimpi dan realisasi dari topik yang sedang populer lihat saja perusahaan yang dia punya.

Jadi menurut saya, visi dan realisasi mas Elon memang beda sama kebanyakan orang lain. Yang saya ingin soroti adalah, di saat yang bersamaan dia juga banyak melakukan banyak branding dan marketing dengan cara yang cerdas, sebagai booster, saya duga dia (mungkin dengan timnya mungkin ngga) sengaja melakukanya apalagi tau kalau dia juga punya gelar di bidang fisika dan ekonomi manajemen. Dia tau percis prinsip ekonomi, apa itu marketing, manajemen dan hal yang berhubungan dengan topik tersebut.

Yang paling mudah dilihat untuk dunia marketing itu twitternya mas Elon, mas Elon tenar di banyak media masa dan media sosial sejak taun 2015, frekuensi twit (dan twit nyelenehnya obviously) makin meningkat sejak 2015 juga.

Ada analisis yang menarik mengenai cuitan mas Elon, bisa dilihat disini.
<https://www.business2community.com/sales-management/we-analyzed-Elon-musks-twitter-heres-what-we-learned-about-sales-psychology-02229161>

makin nyeleneh twitnya makin banyak followernya, makin banyak retweetnya dsb, bukan cuman twitternya, sns sns lain mas Elon pun trendnya begitu, makin banyak media coveragenya, makin banyak twit dan twit nyelenehnya mas Elon, kecenderunganya mas Elon sadar kalau itu bisa jadi marketingnya.
Makanya saya pikir, selain visi dan realisasi yang jelas, paralel dengan juga dengan brandingnya, itu booster yang sangat berpengaruh untuk dapat pengikut, sekali dapat pengikut, apalagi setia, bisa jauh lebih mudah jadi investor atau customer dan repeat customer nantinya.

Apakah ada yang pernah dengar nama "Joshua Tetrick"? Saya rasa sangaat sedikit yang pernah dengar, dia juga pebisnis, perusahaan makanan dengan visi yang jelas, realisasinya juga jelas, tapi ngga setenar mas Elon, atau banyak pebisnis pebisnis lainya juga seperti itu
Apakah visi dan realisasi eksekutif perusahaan lain juga kalah dari mas Elon? saya rasa ngga juga, tapi apakah setenar mas Elon? sayangnya ngga, disitu dibutuhkan branding (marketing).

Contoh lain. self driving car, tesla dan perusahaan lama saya, kualitas diatas kertas, sistem perusahaan lama saya sedikit lebih baik, tapi sedikit sekali yang tau sistem self driving perusahaan lama saya, ok memang bukan apple to apple perbandinganya, tesla bikin self driving car system, mobilnya dan batrenya, perusahaan lama saya bikin sistem sama komponennya aja di dalem mobil mobil lain, tapi ya media coverage dan brandingnya jauh beda. Itu bisa terjadi karena branding dan marketing yang kuat.

Atau ketika mobil mobil tesla di launch, coverage media masanya, sns, fanboy, gaungnya terdengar dimana2, di periode yang sama mobil2 lainya, apakah seperti itu? Sayangnya jauh kalah oleh berita tesla
Yang ahir ahir ini sebelum corona rame, juga ada cybertruck, itu beritanya berminggu minggu, dimana mana, jadi meme dimana mana, ada kaca pecah pas launching, yang banyak yang bilang juga kesengajaan di buat dipanggung seperti itu, buat marketing mereka supaya diberitakan dimana mana, kalau memang betul disengaja ada insiden kaca pecah, itu cerdas sekali.
Kalau pun ngga sengaja dan beneran insiden juga hebat sekali karena bisa berubah jadi popularitas karena insiden, tetep beritanya dimana mana juga, again branding, marketing.

Apakah popularitas di media masa, sns dll mempengaruhi harga saham dan valuasi perusahaan? Iya juga sebagai salah satu faktor, mungkin besar mungkin ngga pengaruhnya, tergantung jenis perusahaanya, tapi berpengaruh.
Ini contoh lain karena cuitan di media yang mempengaruhi valuasi perusahaanya (Tesla). Branding, marketing itu sangat berpengaruh.
<https://www.washingtonpost.com/technology/2020/05/01/musk-tesla-stock/>

Untuk tesla, juga berpengaruh, mereka baru jual sekitar 300,000 - 400,000 mobil di tahun 2019, dibanding perusahaan mobil lain, ya jauh dibawah, profit? masih sedikit dan cenderung naik, makanya marketing juga salah satu ujung tombak bagi perusahaan, apalagi  yang masih bergantung dari investor, menggaet investor butuh marketing yang bagus juga pastinya, supaya investor percaya, apalagi masih sedikit profitnya.

Ada juga yang bilang value nya tesla itu ya karena media coveragenya sangat berpengaruh, (malah banyak yang bilang overvaluated juga) diperlakukan kayak tech company semacem amazon atau google, uzai kamoshiremasen ga, media coverage adanya karena efek branding, marketing

Mungkin opini saya ada yang setuju, ada yang ngga, ya ngga apa apa namanya opini :)

BB情報システム論 第12回目 情報システム展開・まとめ

バイオビジネス 情報システム論 第12回目 情報システム展開・まとめ

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ


BB情報システム論 第11回目 顧客情報と情報システム

バイオビジネス 情報システム論 第11回目 組織と情報システム

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ

BB情報システム論 第10回目 ネットビジネスと情報システム2

バイオビジネス 情報システム論 第10回目 ネットビジネスと情報システム2

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ

BB情報システム論 第9回目 ネットビジネスと情報システム

バイオビジネス 情報システム論 第9回目 ネットビジネスと情報システム

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ

BB情報システム論 第8回目 ビジネス戦略と情報システム2

バイオビジネス 情報システム論 第8回目 ビジネス戦略と情報システム2

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ


Simple basic spiral code implementation 2 with tolerance 0.1

Simple basic spiral code implementation 2 with tolerance 0.1

This is the sequel of the previous code implementation of spiral, that time I made a very simple archimedean spiral with the same step over. But sometime, we want more than a step over, a distance between each point of a spiral (tolerance).

Here is my code implementation in c.

 /**********************************************************************  
  *  
  *  
  *    @par    Copyright(C)  
  *    2018     Tokyo University of Agriculture, Saville Lab.  
  *    All rights reserved.  
  *  
  *    @par    History:  
  *    - 2018/07/15    Saville Ramadhona  
  *        - first code.  
  *  
  ***********************************************************************/  
 /*  
  * Program to make spiral curve and put the point on spiral  
  * based on tollerance (point distance).  
  * Not based on parameter of spiral curve.  
  * eg. When tollerance is o.1, distance between adjacent points on spiral   
  * must not exceed the tollerance.   
  *  
  */  
   
   
 #include<stdio.h>  
 #include<math.h>  
   
 #define M_PI 3.14159265358979323846  
   
 /**  
  *    function to evaluate/compute point on spiral  
  *  
  *    @param[in]    param    spiral parameter  
  *    @param[in]    theta    angle in computed point (radians)  
  *    @param[out]    pt        array coordinate of computed point on spiral (x,y)   
  *    @return                radius of center point of spiral to computed point  
  */  
 double evalSpiralpt(double param, double theta, double pt[2])  
 {  
     double r = param*theta;  
     pt[0] = r * cos(theta);  
     pt[1] = r * sin(theta);  
     return r;  
 }  
   
 /**  
  *    function to check distance square between adjacent points  
  *    we do not use sqrt to make computation faster  
  *  
  *    @param[in]    point        newly computed point on spiral   
  *    @param[in]    prevpoint    previously computed point on spiral   
  *    @return                    distance square obetween adjacent points  
  */  
 double checkDistpt2(double point[2], double prevpoint[2])  
 {  
     return (point[0]-prevpoint[0])*(point[0]-prevpoint[0])   
             + (point[1]-prevpoint[1])*(point[1]-prevpoint[1]);  
 }  
   
 //spiral definition r = a + bθ  
 void main()  
 {  
     //remove file if exist  
   int status;  
   status = remove("C:\\Users\\BA17655\\Documents\\spiral.csv");  
     
   //prepare csv file to see the computation result  
   FILE *fp;  
   fp = fopen("C:\\Users\\BA17655\\Documents\\spiral.csv", "a");  
   
   fprintf(fp, "rad, theta, r, x, y, d\n");  
   
     double pi_2 = 2* M_PI;  
     int numTurns = 5;                                      //automatically determine by detecting outer edge, later!  
     double stepover = 0.1;                                 //tool path stepover (USER INPUT)  
     double distanceBetweenTurns = stepover * (1 / (pi_2)); //b  
     double theta = 0.0;                                    //starting angle  
     double offset = 0.0;                                   //a (offset of starting point)  
   
     /*  
     double pointsPerTurn = 20; //to be modified  
     for(int i=0; i<(pointsPerTurn*numTurns+1); i++)  
     {  
         double r = offset + (distanceBetweenTurns*theta);  
         double point[2];  
         point[0] = r * cos(theta);  
         point[1] = r * sin(theta);  
   
         printf("%f %f %f %f \n", theta*(180.0/M_PI), r, point[0], point[1]);  
         theta += pi_2 / pointsPerTurn;  
     }  
     */  
   
     double dist_thres2 = 0.01;          //distance threshold(control point tollerance - USER INPUT)  
     int cnt = 0;  
     double point[2];                    //x, y coordinate control point on spiral  
     double prevpoint[2];  
     double prevtheta;  
     double degree;  
     double sizelimit = numTurns * 360.0; //to sizelimit the size of spiral  
     do  
     {  
         //evaluate point in spiral   
         double r = evalSpiralpt(distanceBetweenTurns, theta, point);  
   
         if( cnt < 1 )  
         {  
             fprintf(fp, "%f, %f, %f, %f, %f\n", theta, theta*(180.0/M_PI), r, point[0], point[1]);  
             theta += pi_2 * dist_thres2;  
         }  
         if( cnt > 0 )  
         {  
             //check distance of control point  
             double dist2 = checkDistpt2(point, prevpoint);  
   
             //check if point distance exceed tolerance  
             if( dist2 > dist_thres2 )   
             { //if exeec tollerance, compute new control point  
                 do   
                 {  
                     //make the new point to be located in the middle of previous and current point  
                     theta = (theta + prevtheta) * 0.5;  
                     r = evalSpiralpt(distanceBetweenTurns, theta, point);  
                     dist2 = checkDistpt2(point, prevpoint);  
   
                     //when above is not enough, do it one more time!  
                     if( dist2 > dist_thres2 )  
                     {  
                         theta = (theta + prevtheta) * 0.5;  
                         r = evalSpiralpt(distanceBetweenTurns, theta, point);  
                         dist2 = checkDistpt2(point, prevpoint);  
                     }  
                 }while( dist2 > dist_thres2 ); //when point distance lies under the tollerance, exit loop  
             }  
   
             fprintf(fp, "%f, %f, %f, %f, %f, %f\n", theta, theta*(180.0/M_PI), r, point[0], point[1], dist2);  
             prevtheta = theta;  
             theta += pi_2 * dist_thres2;  
         }          
           
         cnt++;  
                   
         prevpoint[0] = point[0];  
         prevpoint[1] = point[1];  
         degree = theta*(180.0/M_PI);  
   
     }while( degree <= sizelimit );  
   
 }  

After running the code, it will print out the angle (radian), angle (degree), r of each point(interpreted as 1/curvature), x, y coordinate of each point, and the distance of each point.
The plotted spiral from the code in excel is as shown below.

Pretty simple right!



spiral 2

BB 情報システム論 第6回目 ビジネス戦略と情報システム1

バイオビジネス 情報システム論 第6回目 ビジネス戦略と情報システム1

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ


BB 情報システム論 第5回目 生活基盤としての情報システム

バイオビジネス 情報システム論 第5回目 生活基盤としての情報システム

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ

BB 情報システム論 第4回目 社会基盤としての情報システム

バイオビジネス 情報システム論 第4回目 社会基盤としての情報システム

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ

BB 情報システム論 第3回目 情報システムとコンピュータ

バイオビジネス 情報システム論 第3回目 情報システムとコンピュータ

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ




BB 情報システム論 第2回目 情報システムとは

バイオビジネス 情報システム論 第2回目 情報システムとは

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ

BB 情報システム論 第1回目 イントロダクション

バイオビジネス 情報システム論 第1回目 イントロダクション

PDFスライド

東京農業大学
国際バイオビジネス学科

サフィル ラマドナ

Pertimbangan berhenti dari pekerjaan sebagai peneliti di kantor swasta, beralih menjadi dosen di Jepang

Sejak April 2016 sampai saat ini (Agustus 2018) saya masih terhitung menjadi seorang peneliti di sebuah kantor swasta di Jepang. Saya merasa banyak sekali pelajaran yang didapat dari kantor saya sekarang.

Tapi tidak semuanya berjalan lancar, saya punya 3 kendala besar selama bekerja di perusahaan ini

Kendala bekerja di perusahaan saat ini1. Kendala solat Jumat
Ada 2 cara solat jumat
(1)Ke Masjid terdekat dari kantor saya, tapi jarak masjid kantor saya ke Masjid terdekat di Chibune, Osaka atau Kobe cukup jauh, butuh waktu 50 menit untuk sampai ke Masjid, artinya untuk bisa solat Jumat minimal saya butuh 2 x 50 menit + solat sekitar 20 menit = 115 menit, atau 2 jam. Sementara istirahat di kantor saya hanyalah 45 menit. Disamping itu, solat Jumat dimulai pukul 13:30 di Chibune dan pukul 13:05 di Kobe, kantor saya sendiri istirahat pukul 12:15 sampai 13:00. berarti diluar waktu istirahat saya harus menemukan skema untuk keluar kantor selama 2 jam. 
(2)Solat didalam kantor, namun tidak ada muslim yang beribadah selain saya sendiri.
Untuk bisa solat jumat, saya harus ambil cuti, dikarenakan, belum adanya skema yang bisa saya pakai untuk bisa solat Jumat ke Masjid. Saya berulang kali konsultasi baik ke atasan, kepegawaian, ataupun ke serikat kerja, saya pun berulang kali menawarkan ide, agar saya dibolehkan solat Jumat ke Masjid, misalnya setelah Solat Jumat, saya bisa lembur tanpa dibayar selama 2 jam. Selain itu saya pun pernah menawarkan agar pihak kepegawaian bisa memotong gaji saya selama 2 jam setiap minggu. Namun, ide saya selalu ditolak. Salah satu alasan ditolak karena pada jam 11:00 sampai 16:00 adalah "core time" di kantor kami dan kami harus berada di kantor pada jam tersebut. Alasan lainya adalah, saya merupakan orang pertama yang meminta untuk diperbolehkan Solat Jumat, jadi belum ada aturan mengenai hal tersebut. Selain itu saya pernah ditolak karena alasan, kesetaraan, misalnya bagaimana dengan orang lain yang meminta keluar kantor untuk beberapa saat tapi bukan untuk Solat Jumat, bisa jadi hanya untuk bermain main.
Satu-satunya cara untuk saya agar bisa Solat Jumat hanyalah ambil cuti, kendalanya jumlah cuti terbatas, saya hanya bisa Solat Jumat 1 bulan sekali.
Padahal sebagai laki-laki muslim Solat Jumat itu diwajibkan, karena itu lah saya merasakan kendala yang sangat berat.

2. Kendala bidang yang dikerjakan terlalu berbeda jauh
Kendala kedua dalam bekerja di kantor saya saat ini adalah bidang keahlian yang terlalu berbeda jauh. Bidang yang saya kerjakan di kantor saat ini sangat tidak berhubungan dengan apa yang pernah saya kerjakan.
Sebelum bekerja, bidang kehlian saya adalah teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk pertanian dan perikanan, manajemen berbasis statistik, analisis wave-like-object (mirip dengan prosesi sinyal) ataupun pengindraan jarak jauh. Sekarangsaya bekerja untuk mengembangkan computer aided manufacturing pada numerical control untuk milling machine, sebuah bidang yang sangat membutuhkan pemahaman Aljabar linear, geometri, modeling (matematika yang setidaknya menurut saya level tinggi). Pernah saya bahas dalam tulisan saya yang sebelumnya kalau saya saat ini sedang struggle dengan matematika di tulisan ini (link).
Karena bidang yang terlalu jauh ini lah saya belum bisa mengaplikasikan keahlian saya yang pernah saya pelajari sebelumnya. Saya juga merasa bahwa kemampuan saya yang sebenarnya tidak bisa keluar, saya pun belum bisa berkontribusi terhadap kantor meskipun telah bekerja selama lebih dari 2 tahun. Saya paham, bekerja selama 2 tahun itu masih dalam tahap pembelajaran, sehingga smasih sulit untuk berkontribusi. Namun saya tetap merasa hal ini adalah sebuah kendala bagi saya saat ini.

3. Kendala karir di masa depan
Saya tidak yakin, jika saya bekerja di perusahaan ini karir saya akan naik.
Kantor tempat saya bekerja adalah sebuah perusahaan multinasional yang bahkan masuk ke dalam list Forbes Global 500, namun masih merupakan perusahaan yang sangat konservatif. Sebagai contoh, meskipun telah hampir 100 tahun berdiri, masuk kedalam Forbes Global 500, namum jumlah pegawai asing di dalam Jepang ternyata masih dibawah 100 orang. Dari 100 orang itu, tidak ada 1 orang pun yang menjadi manager, apalagi menjabat sebagai direktur, deputi, dan sebaginya diatas level manager.
Manager grup saya sendiri baru menjadi manager setelah bekerja selama 22 tahun, padahal menurut saya dia sangat cerdas, pertanyaan dan komentarnya tajam, idenya out of the box, orangnya tegas tapi menyenangkan. Di kantor saya, orang Jepang yang seperti manager saya itu tidaklah sedikit, saya harus bersaing dengan mereka untuk karir saya. Saya rasa sangat sulit, bahkan mungkin hampir mustahil. Selain masih sangat konservatif, masih lebih mendahulukan orang Jepang sebagai penduduk lokal, saya juga tidak yakin bisa bersaing di tengah tengah orang yang level kecerdasanya diatas saya. Saya perkirakan, karir saya akan berhenti di tingkat supervisor jika terus berada disini.
Saya rasa satu-satunya jalan untuk saya agar bisa berkarir hanyalah pindah ke lingkungan kerja yang lebih memungkinkan untuk saya berkarir di Jepang, atau bertahan pada perusahaan tempat saya sekarang namun pindah keluar Jepang.


==============
Posisi dosen di universitas
Saat itu lah saya dikontak oleh professor saya ketika di universitas, beliau menawarkan posisi sebagai dosen
Sistemnya, tenure track, menjadi research assistant professor selama 4 taun, berikutnya tenure assistant professor saat memenuhi persyaratan dari universitas.
Professor saya menghubungi saya bulan Januari, saya mengirimkan berkas syarat untuk melamar sebagai dosen pada bulan Maret. Setelah lolos seleksi dokumen, saya diwawancara pada bulan April oleh dosen dosen di jurusan yang saya tuju. Lalu saya lolos wawancara tahap pertama dan melangkah ke wawancra tahap kedua dan diwawancarai oleh pejabat-pejabat di universitas seperti dekan dan bahkan waktu itu rektor pun datang saat wawancara. Berikutnya saya dikabari diterima pada bulan Juli oleh professor saya, namun surat resmi bahwa saya diterima tak kunjung datang sampai bulan Agustus.

Meskipun saya belum menerima surat resmi dari universitas, perusahaan saya memiliki peraturan tertulis untuk pengunduran diri, jadi terpaksa saya konsultasi dengan manager dan kepegawaian, kalau saya mau berhenti kerja karena 3 alasan kendala yang saya sebutkan diatas.


==============
Pertimbangan untuk bertahan di perusahaan sekarang
Setelah konsultasi dengan kepegawaian, ada godaan dan kendala untuk berhenti dari perusahaan ini
1. Ditawarkan kantor untuk memakai sistem khusus agar bisa solat Jumat!
Saya sangat senang mendengar hal ini, pada ahirnya perusahaan membolehkan Solat Jumat dengan skema lembur tidak dibayar selama meninggalkan kantor untuk Solat Jumat. Tapi, bonus saya akan dipotong, saya sebetulnya tidak terlalu bermasalah dengan bonus yang dipotong, meskipun ada rasa kecewa, karena saya jika bertahan di kantor ini. Karena saya telah mengganti waktu untuk Solat Jumat dengan waktu lembur yang tidak dibayar, kenapa bonus harus dipotong juga. Selain itu setelah selalu ditolak selama lebih dari 2 tahun, kenapa setelah saya bilang ingin keluar baru diperbolehkan Solat Jumat, dan mereka bisa memproses agar saya bisa Solat Jumat hanya dalam 1 jam. Berarti selama lebih dari 2 tahun ini konsultasi saya tidak terlalu dianggap serius oleh pihak kepegawaian kantor. Saya jadi berpikir, jika di masa depan saya mengelami kendala lain, apakah akan ditolak dan baru diterima saat saya bilang lagi mau keluar...

2. Gaji dosen yang menurun cukup drastis, sementara biaya hidup di Tokyo lebih tinggi
Bukanlah sebuah rahasia lagi jika pendapatan bekerja di perusahaan multinasional swasta lebih besar daripada bekerja sebagai dosen. Sementara biaya hidup di Tokyo lebih tinggi dari Itami. Bekerja pada perusahaan multinasional swasta dengan pendapatan yang cukup besar membuat saya berada di atas gunung, dan ketika tau pendapatan sebagai dosen membuat saya dijatuhkan dari atas gunung yang pernah saya rasakan. Meskipun sebenarnya pendapatan dosen tidaklah buruk dibandingkan dengan pendapatan rata-rata pekerja di Jepang. Namun tetap saja ini menjadi pertimbangan saya dalam memilih pekerjaan karena perbedaan pendapatannya cukup besar, dalam setahun pendapatan bekerja di perusahaan saya sekarang dan sebagai dosen beda sekitar 1 juta yen, atau 130 juta rupiah dengan kurs saat ini.

Saya meminta waktu kepada bagian kepegawaian kantor dan manager saya untuk berpikir lebih lanjut selama 1 minggu saat libur obon


==============
Pertimbangan memilih pindah
Untuk Solat Jumat saya rasa sudah tidak ada masalah baik saya meneruskan bekerja di perusahaan sekarang ataupun pindah ke universitas di Tokyo.
Untuk urusan gaji, memang akan lebih berat, harus lebih irit lebih dari sekarang. Tapi saya rasa gaji dosen masih cukup untuk kami sekeluarga dan untuk sekolah anak kami di masa depan.

1. Karir
Seperti yang saya tuliskan diatas, di perusahaan sekarang kemungkinan besar tidak akan lebih dari supervisor, sementara di universitas bisa menjadi professor. Tentu jika memenuhi syarat, target saya sendiri bisa jadi professor dalam 15 tahun mendatang.

2. Pendidikan agama anak
Ada option untuk TPA atau madrasah di Tokyo, misalnya di madrasah YUAI, Masjid Otsuka, SRIT dan lain sebagainya. Jadi pendidikan agama untuk anak saya relatif lebih baik.

3. Kenyamanan istri
Pindah ke Tokyo membuka kemungkinan untuk istri saya untuk bekerja atau melanjutkan belajar bahasa Jepang yang sempat terputus. Tidak bisa dipungkiri, peluang untuk bekerja di Tokyo lebih besar dari di Itami.
Selain itu, istri saya bisa memiliki lebih banyak teman, karena lebih banyak komunitas orang Indonesia di Tokyo dan sekitarnya. Terkadang ada juga seminar seminar atau perteuan membahas macam macam hal yang diorganisir oleh suatu grup wanita Indonesia di Jepang.


==============
Mengundurkan diri dari posisi sekarang
Setelah mempertimbangkan hal - hal diatas, saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan sekarang dan berkiprah menjadi dosen di universitas di Tokyo.
Saya sendiri telah memberikan surat pengunduran diri kepada manager dan bagian kepegawaian. Hari ini, tadi pagi, manager saya mengumumkan kepindahan saya kepada anggota grup kami.



Itami, 21 Agustus 2018
Ramadhona Saville, PhD
TKI di Jepang

Guna Ho-Ren-So (報・連・相 )

報・連・相 Ho-Ren-So

Istilah diatas adalah kepanjangan dari Hokoku-Renraku-Sodan atau dalam bahasa Jepang ditulis (報告、連絡、相談).
Artinya sendiri adalah sebagai berikut.

報告     : 部下が上司の指示に取り組みつつ、途中経過を報告すること[1]。
Hokoku     : Arti harfiahnya adalah "melapor". Laporan (secara berkala) kepada atasan di tengah tengah proyek yang sedang dikerjakan.
連絡     : 自分の意見や憶測を含めない関係者への状況報告。
Renraku : Arti harfiahnya adalah "mengontak". Laporan yang tidak ada unsur spekulasi atau opini kita sendiri.
相談     : 自分だけで業務上の判断が困難なとき、上司に意見をきくこと。
Sodan     : Arti harfiahnya adalah "berkonsultasi/berdiskusi". Ketika mengalami kendala, segera bertanya dan berdiskusi dengan atasan.

Di perusahaan Jepang istilah Ho-Ren-So ini sangat dikenal. Mayoritas pekerja di jepang menganut sistem ini dalam bekerja.

Tapi sejujurnya menurut saya yang paling efektif hanyalah Ho-So. Karena Saat kita melakukan laporan, tentu saja kita harus melakukan kontak terhadap atasan kita atau klien ataupun orang yang terlibat dalam proyek yang sedang kita kerjakan. Bagaimana cara kita melakukan laporan kalau kita tidak melakukan kontak terhadap orang yang mau kita laporkan...
Baru setelah itu konsultasi/diskusi diperlukan saat ada hal yang ada diluar dugaan.

Definisi Ho-So ini agak sedikit saya ubah dari yang saya tulis diatas.
Hokoku: Melaporkan "secara berkala" dan "saat ada kejadian diluar dugaan".
Sodan : Berkonsultasi/berdiskusi ketika mengalami kendala.

Meskipun saya baru bekerja selama 2.5 tahun di sebuah kantor di Jepang, saya sudah sedikit banyak paham arti dan guna sistem Ho-So ini. Pernah suatu saat ketika ada hal yang diluar dugaan saya, saya mencoba untuk menanganinya sendiri, karena kurang matangnya analisa dan problem solving yang saya lakukan, ahirnya yang saya kerjakan harus diulang. Selain itu, karena suatu proyek di kantor saya biasanya dikerjakan dengan tim, tentu pekerjaan yang harus diulang itu juga menjadi beban untuk orang lain, saat saya belum selesai mengerjakan sesuatu, orang lain jadi harus menunggu hasil yang saya kerjakan atau membantu saya dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut agar tetap tepat waktu. Saat suatu pekerjaan harus diulang, berarti kita rugi waktu, tenaga dan pikiran. Sudah capek - capek mencoba menyelesaikan masalah sendiri, membuat metoda sendiri, mencoba memakai metoda sendiri, ternyata gagal, menyusahkan orang lain pula.

Dari situ lah saya belajar mengenai pentingnya Ho-So. Bayangkan saat kita menemukan keadaan yang diluar dugaan, dan kita langsung melaporkanya kepada atasan/rekan kerja kita/klien, saat itu juga bisa kita cari akar permasalahan dan penyelesaianya secara bersama. Seringkali saat melakukan konsultasi/diskusi itu juga langsung bisa dilakukan problem solving, sehingga pekerjaan kita akan lebih hemat waktu dan efektif.

Kelebihan lainya, saat konsultasi/diskusi tidak hanya mengandalkan 1 kepala saja, tapi beberapa kepala. Tidak bisa dipungkiri beberapa kepala lebih baik daripada 1 kepala saat melakukan problem solving (tidak selalu, tapi pada umumnya hal ini lebih efektif).
Sistem Ho-So ini lah yang berkali - kali menolong saya ketika ada hal yang diluar dugaan.

Selain itu hal yang penting saat melaporkan sesuatu adalah, sebutkan dahulu kesimpulan laporan kita, baru setelah itu sebutkan secara terstruktur detail laporan kita agar atasan/rekan kerja/klien mudah mengerti apa yang mau kita sampaikan.



Trivia: Sebetulnya Ho-Ren-So sendiri pengucapanya sama (homofon) dengan horenso (bayam), jadi istilah ini sangat mudah untuk diingat di Jepang.

Itami, 16 Agustus 2018
Ramadhona Saville, PhD
TKI di Jepang



[1] 東洋経済,[https://toyokeizai.net/articles/-/176175?page=2]

Simple basic archimedean spiral code implementation

Recently, I have an interest to draw spiral with the same step over (distance between one spiral cycle).
Actually, it is pretty simple to draw basic archimedean spiral. The mathematical formula for archimedean spiral is
r = a + bθ,
with r is radius at each spiral point, a is offset of starting point of spiral and b is the coefficient of angle θ. Then for the point at spiral, it is the same like parametric circle
x coordinate = r * cos(theta) and
y coordinate = r * sin(theta).
Here is my code implementation of simple basic archimedean spiral.

 #include<stdio.h>  
 #include<math.h>  
   
 #define M_PI 3.14159265358979323846  
   
 //spiral definition r = a + bθ  
 void main()  
 {  
     int numTurns = 5;                                      //number of spiral cycle 
     double stepover = 0.1;                                 //distance between one spiral cycle   
     double distanceBetweenTurns = stepover * (1/(2*M_PI)); //b 2*PI is 360deg  
     double theta = 0.0;                                    //starting angle, all in radian  
     double offset = 0.0;                                   //a (offset of starting point)  
       
     double pointsPerTurn = 20; //number of point in each spiral cycle  
     printf("rad, theta, r, x, y\n");  
     for(int i=0; i<(pointsPerTurn*numTurns+1); i++)  
     {  
         double r = offset + (distanceBetweenTurns*theta);  
         double point[2];  
         point[0] = r * cos(theta);  
         point[1] = r * sin(theta);  
   
         //print out the point to be plotted   
         printf("%f, %f, %f, %f, %f\n",theta, theta*(180.0/M_PI), r, point[0], point[1]);  
         theta += 2*M_PI / pointsPerTurn;  
     }      
 }  

After running the code, it will print out the angle (radian), angle (degree), r of each point(interpreted as 1/curvature), x and y coordinate of each point.
The plotted spiral from the code in excel is as shown bellow.
Pretty simple right!




*NB bonus:This kind of spiral are used for making spiral toolpath. Usually, projected onto target surface.
But, of course we have to modify the point at the spiral, because distance between each point gets larger and larger as the spiral grow. For this I am going to save the code for the next post.

Kisah Saya dan Matematika

Saya suka matematika sejak saya kecil, seingat saya saya mulai menyukai angka angka dan matematika sejak SD. Waktu itu saya kelas 2 atau kelas 3 SD, saya ingat saat menunggu ibu saya pulang kantor, saya membuat sendiri angka angka random yang entah dari mana saya dapatkan angka angka itu, lalu saya jumlahkan, saya kurangi, saya bagi, saya kalikan, atau saya ganti angka angka tersebut. Angka angka random tersebut saya tuliskan pada selembar kertas buram bekas menggunakan pensil HB. Saya mulai proses jumlah, kurang, bagi dan kali dari 1 digit angka, lalu setelah bosan dengan 1 digit, saya buat menjadi 2 digit. Saya masih ingat kala itu, sangat menyenangkan, juga ada rasa kepuasan tersendiri setelah menjawab soal yang padahal saya buat sendiri secara random. Tak lama setelah itu, ibu saya pulang kantor dan saya membanggakan apa yang telah saya lakukan. Sejauh yang saya ingat, saat itu lah saya mulai menyukai angka dan matematika.

Ketertarikan saya pun bertambah ketika SMP, saat SMP saya merasa superior, karena nilai matematika saya hampir tidak pernah dibawah 9 dari skala nilai 10. Mungkin karena kebetulan saya masuk ke SMP yang levelnya agak rendah. Tapi mungkin hal itu lah yang membuat saya makin menyukai matematika, karena makin percaya diri. Bukanya merendahkan atau apa, namun dibandingkan dengan SMP SMP top di kota tempat saya lahir dan dibesarkan, Bogor, SMP saya bukanlah yang memiliki banyak prestasi, syarat nilai untuk masuk pun cukup rendah. Tapi saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk makin menyukai matematika.

Ketika SMA saya baru mengetahui ada orang yang sangat cerdas, level matematikanya diatas saya! Terlebih lagi, dia berasal dari SMP yang sama dengan saya, Iqbal namanya. Sejujurnya, saya pikir di SMP yang levelnya agak rendah itu tidak ada yang pandai matematika seperti Iqbal. Iqbal pun masuk SMA yang sama dengan saya. Kelas 1 pun sama kelasnya. Disitu saya tau kalau level matematika saya masih jauh dibawah orang orang seperti Iqbal.

Di SMA saya dan iqbal banyak berdiskusi, saya diajari banyak hal mengenai matematika. Saat itu dia menjadi "tujuan" saya, saya ingin sekali mengejar iqbal dalam hal matematika. Kami beberapa kali mengikuti lomba matematika, entah itu penyisihan olimpiade sains nasional, matematika ria IPB, lomba sains UI dan lainya.

Saya agak menyesal tentunya di SMA dan setelah lulus SMA, karena saat di bangku SMP saya tidak pernah menemukan orang yang pandai di bidang matematika, ikut lomba atau kompetisi matematika dimanapun. Kalau saja saya bertemu orang seperti Iqbal lebih cepat, atau ikut lomba matematika, mungkin saya akan lebih terpacu untuk menggali matematika lebih dalam.

Setelah lulus SMA saya melanjutkan kuliah ke IPB (dan UI), lalu berangkat ke Jepang dengan beasiswa dari kampus saya di jepang (Tokyo University of Agriculture, biasa disingkat nodai). Saya masuk ke nodai jurusan international biobusiness.

Singkat cerita di dunia universitas saya sangat jauh dari matematika, tidak ada mata kuliah matematika (ada sebenarnya, tapi sangat dasar di jurusan saya). Ada yang saya gunakan sedikit, untuk penelitian di tingkat 4, juga saya gunakan sedikit untuk penelitian master dan doktoral saya. Bahkan banyak sekali matematika tingkat SMA yang saya lupa.

Setelah lulus doktoral, saya lanjut bekerja di bagian litbang sebuah perusahaan swasta di Jepang, dan celakanya di bagian numerical control, computer aided manufacturing unit. Di tempat saya bekerja saat ini sangat membutuhkan pemahaman matematika dan perangkat lunak, terutama aljabar, geometri, analisis numerik dan grafik komputer.

Setelah 9 tahun sangat jauh dari matematika, sekarang saya harus berkutat dengan matematika yang bukan level SMA. Gawatnya, matematika level SMA saja saya sudah banyak yang tidak ingat, baik logika ataupun pola pikirnya, ataupun teoremanya, bagaimana dengan ini. Saat ini genap sudah 2 tahun saya bekerja sebagai peneliti, dan dalam 2 tahun ini saya belajar banyak sekali mengenai geometri berbekal pola pikir dan logika matematika yang mulai hilang. Tapi dibandingkan dengan rekan-rekan saya di kantor, saya merasa level matematika saya masih sangat rendah. Masih banyak sekali persamaan persamaan matematika yang saya belum bisa pecahkan, hal teknis yang saya belum paham untuk tujuan penelitian saya saat ini.

Saya sangat menyesal, ketika saya kuliah saya tidak mempelajari matematika, padahal meskipun di jurusan saya tidak ada mata kuliah matematika, ada jurusan lain yang menyediakan mata kuliah matematika, saya juga semestinya bisa belajar matematika dari pembimbing saya selama S1 sampai S3, bukan hanya memakai sedikit matematika. Atau ada cara lain yang sangat fleksibel, google, MITopencourseware, dan sebagainya, saya tinggal melakukan pencarian untuk belajar matematika. Tapi sayangnya saya tidak melakukan itu, dan jauh dari dunia matematika yang saya senangi selama 9 tahun.

Semoga dengan penyesalan ini saya bisa menambah semangat saya untuk belajar lebih banyak mengenai matematika lagi, menemukan keindahan matematika lagi seperti saat saya masih kecil. Karena pada dasarnya saya semakin yakin bahwa matematika sangatlah penting, bukan hanya untuk pekerjaan saya sekarang, tapi juga untuk banyak hal seperti melatih logika, pola pikir, membuat algoritma, mengerjakan hal teknis, membuat permodelan, konsep probabilitas, memahami statistik, proses pengambilan keputusan dan lain sebagainya.

Ganbarimasu!

Itami,
Selasa, 10 Juli 2018